Operasi Rahasia & Kebijakan Luar Negeri
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kematian pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, dalam operasi militer presisi yang dilakukan Amerika Serikat (AS) bersama Israel pada akhir Februari lalu mengguncang politik global. Serangan yang berlangsung cepat dan sangat terarah itu dirancang sebagai decapitation strike -- serangan yang secara spesifik menargetkan pusat kepemimpinan sebuah negara.
Dalam hitungan jam pasca operasi tersebut, ketegangan di Timur Tengah meningkat tajam. Iran melancarkan serangan balasan, menutup jalur strategis minyak Selat Hormuz, pasar energi global bereaksi, dan kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan kembali mengemuka. Peristiwa ini bukan sekadar episode konflik regional, tetapi memperlihatkan sebuah pola yang semakin menguat dalam geopolitik kontemporer: penggunaan operasi rahasia dan operasi militer khusus sebagai instrumen kebijakan luar negeri. Dalam beberapa dekade terakhir, negara-negara besar semakin mengandalkan operasi presisi berbasis intelijen dan teknologi militer mutakhir untuk mencapai tujuan strategis tanpa terlibat dalam perang terbuka.
Baca Juga: Harga Aluminium Terkerek Imbas Konflik Iran Vs Israel-AS, Simak Efeknya ke Indonesia
