Paradoks Impor Bibit Ayam
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah menandatangani Agreement on Reciprocal Trade (ART) atau Perjanjian Perdagangan Resiprokal RI-AS pada Februari 2026. Di dalamnya, terdapat kesepakan impor ayam hidup. Ayam hidup yang dimaksud adalah grand parent stock (GPS) sebanyak 580.000 ekor. GPS memegang peranan sangat penting dalam industri ayam modern, baik ayam pedaging maupun petelur. Dan, Indonesia belum mampu memproduksinya (Kontan, 26/2).
Industri perunggasan dibangun dengan pemuliaan (breeding) berlapis yang sangat terstruktur (Bouzari dkk, 2025). GPS berada pada puncak lapisan tersebut, yakni ayam induk sumber genetik utama yang dikembangkan oleh perusahaan breeding global. GPS tidak menghasilkan ayam konsumsi secara langsung, melainkan menghasilkan generasi berikutnya yang disebut parent stock (PS). Kemudian, PS menghasilkan telur fertil yang ditetaskan menjadi ayam day-old chicks (DOC). DOC inilah yang didistribusikan ke peternak untuk dibesarkan menjadi ayam pedaging atau ayam petelur. Dengan demikian, satu ekor GPS dapat berkontribusi pada produksi jutaan ekor ayam konsumsi melalui beberapa generasi reproduksi.
