KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah sepertinya tidak mau melewatkan momentum penting di kuartal I 2026 ini untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi. Momentum itu adalah puasa dan lebaran. Pemerintah tahu betul, setiap kali bulan puasa dan lebaran datang, perputaran uang dan ekonomi bakal lebih kencang dibanding biasanya.
Belanja dan konsumsi rumah tangga juga meningkat pesat di momentum tahunan tersebut. Pemerintah jelas menyadari ini. Terlebih, konsumsi rumah tangga masih tulang punggung pertumbuhan ekonomi. Sebagai gambaran, pada kuartal IV 2025 lalu, konsumsi rumah tangga menyumbang 53,63% pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Bisa dimengerti kalau di kuartal I 2026 ini, pemerintah cukup agresif menyiapkan sederet kebijakan untuk mendorong konsumsi rumah tangga. Ambil contoh, mempercepat pencairan tunjangan hari raya (THR) bagi aparatur sipil negara (ASN/PNS) termasuk TNI/Polri dan pensiunan. Dengan anggaran yang disiapkan mencapai Rp 55 triliun untuk 10,5 juta penerima.
Kemudian ada pogram diskon angkutan lebaran kereta api, kapal laut dan tiket pesawat. Plus diskon jalan tol selama arus mudik lebaran untuk meningkatkan mobilitas dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Biar perputaran ekonomi makin kencang, pemerintah juga menggeber belanja di kuartal I 2026 ini. Selama periode tersebut, pemerintah menargetkan realisasi belanja negara Rp 809 triliun. Hingga Januari 2026 lalu, realisasi belanja pemerintah pusat sudah mencapai Rp 131,9 triliun, naik 53,3% dari Januari 2025. Sebagai catatan, konsumsi pemerintah menyumbang 9,95% pertumbuhan ekonomi di kuartal IV 2025 lalu.
Dengan habis-habisan mendorong konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah itu, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi bisa menembus 5,5%–6% di kuartal I 2026. Maklum, setelah kuartal I 2026, momentum untuk menggenjot ekonomi baru akan datang lagi di kuartal akhir 2026 karena siklus penyerapan anggaran pemerintah biasanya memang banyak cair di periode itu. Plus momentum libur akhir tahun.
Nah, dengan target pertumbuhan ekonomi tahun ini yang sebesar 5,4%, pemerintah hanya punya peluang mengerek ekonomi tinggi-tinggi di kuartal pertama ini. Sebab, di kuartal II dan kuartal III, tidak ada faktor musiman yang bisa memanaskan ekonomi. Peluang memacu ekonomi baru muncul lagi di kuartal IV mendatang.
Kalau kesempatan itu terlewat, cukup berat mengejar target pertumbuhan ekonomi 5,4% tahun ini, apalagi sampai menembus 6% seperti harapan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
