Pemerintah AS Mengguncang Empat Raksasa Teknologi

Selasa, 04 Juni 2019 | 09:03 WIB
Pemerintah AS Mengguncang Empat Raksasa Teknologi
[]
Reporter: Sumber: Reuters | Editor: A.Herry Prasetyo

KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Pengawas persaingan di Amerika Serikat (AS) engah mengguncang perusahaan-perusahaan raksasa di bidang teknologi informasi alias Big Tech.

Seperti diberitakan Reuters, Pemerintah AS tengah bersiap untuk melakukan penyelidikan terhadap empat raksasa teknologi, yakni Amazon, Apple, Facebook, dan Google.

Sumber Reuters mengatakan, penyelidikan dilakukan untuk mengetahui apakah keempat perusahaan tersebut telah menyalahgunakan kekuatan pasar mereka yang besar. Persiapan perlu dilakukan karena penyelidikan tersebut melibatkan beberapa perusahaan terbesar di dunia

Dua lembaga yang menegakkan Undang-Undang Antimonopoli di AS, yakni The Federal Trade Commission (FTC) alias Komisi Perdagangan Federal dan Departemen Kehakiman, telah membagi pengawasan atas empat perusahaan.

Sumber Reuters mengatakan, Amazon dan Facebook berada di bawah pengawasan FTC sementara Apple dan Google berada di bawah pengawasan Departemen Kehakiman.

Dengan penetapan yurisdiksi itu, langkah selanjutnya adalah membuka penyelidikan formal. Namun, hasil penyelidikan tidak akan bisa cepat. Penyelidikan FTC terhadap Google sebelumnya membutuhkan waktu lebih dari dua tahun.

Perusahaan teknologi saat ini tengah menghadapi serangan balasan baik di AS maupun di seluruh dunia. Hal itu dipicu kekhawatiran pesaing, pembuat kebijakan, maupun kelompok konsumen. Mereka khawatir lantaran perusahaan teknologi memiliki terlalu banyak kekuatan dan merugikan pengguna dan pesaing bisnis.

Pada perdagangan Senin (3/5), saham Facebook Inc turun 7,5% sementara saham  induk Google, Alphabet Inc, merosot lebih dari 6%. Saham Amazon.com Inc turun 4,6% dan saham Apple Inc turun 1%.

Anggota parlemen terkemuka baik di Republik maupun Demokrat, menyambut baik penyelidikan potensial terhadap raksasa teknologi. 

Ketua Komite Kehakiman Senat Lindsey Graham, seorang Republikan, mengatakan kepada Reuters bahwa model bisnis perusahaan seperti Google dan Facebook perlu dicermati. "Mereka punya banyak kekuatan dan begitu banyak yang tidak diatur," katanya.

Anggota Partai Republik lainnya, Senator Marsha Blackburn, mengatakan, panel akan melakukan apa yang disebutnya menyelam lebih dalam ke perusahaan raksasa teknologi. 

Senator Demokrat Richard Blumenthal mengatakan, penegak hukum AS harus melakukan lebih dari sekadar menyelidiki pengaruh perusahaan namun harus ikut memberikan pengaruh kepada mereka. 

"Kekuatan predator mereka menuntut penyelidikan yang ketat, kaku, dan tindakan antimonopoli," ujar Blumenthal di Twitter.

Bagikan

Berita Terbaru

DSSA Masih Diburu dan Bertahan di Atas Rp 1.000, Minat Investor Asing Belum Luntur
| Selasa, 25 Agustus 2026 | 10:00 WIB

DSSA Masih Diburu dan Bertahan di Atas Rp 1.000, Minat Investor Asing Belum Luntur

Net foreign buy menunjukkan sebagian investor asing melihat cerita spesifik DSSA lebih penting daripada statusnya di indeks MSCI.

Simak Prospek TLKM yang Kantongi 17 Rekomendasi Beli Sejak Awal Agustus 2026
| Selasa, 25 Agustus 2026 | 09:00 WIB

Simak Prospek TLKM yang Kantongi 17 Rekomendasi Beli Sejak Awal Agustus 2026

PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) berencana melepas tiga hingga empat anak usaha yang masih merugi sebelum akhir 2026.

Menakar Dampak Kehadiran Sandiaga Uno Sebagai Komisaris Utama Terhadap Prospek MUTU
| Selasa, 25 Agustus 2026 | 08:01 WIB

Menakar Dampak Kehadiran Sandiaga Uno Sebagai Komisaris Utama Terhadap Prospek MUTU

Nilai tambah kehadiran Sandiaga Uno lebih mungkin muncul melalui jaringan, strategic partnership, dan akses ke ekosistem investasi.

Asing Rotasi di Bank BUMN, BBRI Jadi Pilihan, BMRI Tertekan
| Selasa, 25 Agustus 2026 | 06:51 WIB

Asing Rotasi di Bank BUMN, BBRI Jadi Pilihan, BMRI Tertekan

Menurut analis BBRI dan BBNI relatif menarik karena valuasinya masih kompetitif dengan prospek pertumbuhan kredit dan laba yang solid.

Peta Persaingan Berubah, Konsolidasi serta Ekspansi Fiber Jadi Andalan Emiten Menara
| Selasa, 25 Agustus 2026 | 06:42 WIB

Peta Persaingan Berubah, Konsolidasi serta Ekspansi Fiber Jadi Andalan Emiten Menara

Entitas gabungan MTEL dan TBIG akan memiliki valuasi sekitar Rp 90 triliun hingga Rp 93 triliun, jauh lebih besar dibandingkan skala milik TOWR.

Profil Swayasa Prakarsa (SWAP), Perusahaan Riset UGM yang Bakal Melantai di BEI
| Senin, 24 Agustus 2026 | 15:47 WIB

Profil Swayasa Prakarsa (SWAP), Perusahaan Riset UGM yang Bakal Melantai di BEI

PT Swayasa Prakarsa Tbk (SWAP) masih mengalami kerugian meskipun nilainya menyusut, diiringi pendapatan yang tumbuh positif.

Industri Semen Mulai Pulih, Begini Prospek Saham INTP dan SMGR di Semester II-2026
| Senin, 24 Agustus 2026 | 08:35 WIB

Industri Semen Mulai Pulih, Begini Prospek Saham INTP dan SMGR di Semester II-2026

Perbaikan kinerja emiten semen berlangsung di tengah kondisi kelebihan pasokan yang masih menghantui.

Cari Tambahan Modal Baru, Emiten Siap Menggelar Rights Issue
| Senin, 24 Agustus 2026 | 08:33 WIB

Cari Tambahan Modal Baru, Emiten Siap Menggelar Rights Issue

Saat ini ada beberapa emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang berencana menggelar aksi korporasi rights issue.

Hari Kejepit di Awal Pekan, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini, Senin (24/8)
| Senin, 24 Agustus 2026 | 08:30 WIB

Hari Kejepit di Awal Pekan, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini, Senin (24/8)

Investor tetap perlu memperhatikan pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) serta perkembangan sentimen eksternal. 

Ada Pasar Bullion IBMA, Prospek Emiten Emas Cerah
| Senin, 24 Agustus 2026 | 08:27 WIB

Ada Pasar Bullion IBMA, Prospek Emiten Emas Cerah

Kehadiran IBMA bisa meningkatkan permintaan emas karena akses masyarakat dam institusi terhadap logam mulia ini semakin luas.

INDEKS BERITA

Terpopuler