Pemerintah Memperlebar Defisit Anggaran 2026, Ekonom Ingatkan Risikonya
JAKARTA. Pemerintah dan Badan Anggaran (Banggar) DPR sepakat mengerek defisit Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026 sebesar Rp 689,1 triliun, setara 2,68% produk domestik bruto (PDB). Angka ini melebar dari usulan awal yang sebesar Rp 638,8 triliun, setara 2,48% dari PDB.
Peningkatan defisit tersebut sejalan dengan kesepakatan pemerintah dan Banggar DPR mengerek target belanja negara sebesar Rp 56,2 triliun menjadi Rp 3.842,7 triliun di RAPBN 2026. Perinciannya, pertama, belanja pemerintah pusat naik Rp 13,2 triliun jadi Rp 3.149,7 triliun. Kedua, transfer ke daerah (TKD) naik Rp 43 triliun menjadi Rp 693 triliun
|
Usulan Revisi Postur APBN 2026 |
||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
|
Uraian (Rp triliun) |
|
2026 |
||||||
|
Ini Artikel Spesial
Agar bisa lanjut membaca sampai tuntas artikel ini, pastikan Anda sudah berlangganan.
Sudah Berlangganan? Masuk
Berlangganan dengan Google
Gratis uji coba 7 hari pertama dan gunakan akun Google sebagai metode pembayaran.
Business Insight
Artikel pilihan editor Kontan yang menyajikan analisis mendalam, didukung data dan investigasi.
Kontan Digital Premium Access
Paket bundling Kontan berisi Business Insight, e-paper harian dan tabloid serta arsip e-paper selama 30 hari.
Masuk untuk Melanjutkan Proses Berlangganan
Berita Terbaru
| Senin, 22 Juni 2026 | 10:03 WIB
ESG Tower Bersama (TBIG): Memacu Pertumbuhan yang BertanggungjawabEkspansi tetap PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) lakukan, meski terimbas konsolidasi operator dan dibayangi pelemahan rupiah
| Senin, 22 Juni 2026 | 09:05 WIB
Arus Dana Asing di Saham Masih Maju-Mundur, Investor Tunggu Kepastian KebijakanKeberlanjutan arus masuk dana asing ditentukan oleh kemampuan pemerintah membangun kembali kepercayaan investor.
| Senin, 22 Juni 2026 | 09:04 WIB
BI Menyempitkan Area Spekulasi DolarBI menurunkan threshold transaksi valas tanpa underlying menjadi US$10.000 yang berlaku efektif mulai 1 Juli 2026
| Senin, 22 Juni 2026 | 08:49 WIB
Celah Moral Hazard Surat Utang Khusus DanantaraAturan perlindungan hukum secara khusus yang diatur dalam UU P2SK menuai kecemasan
| Senin, 22 Juni 2026 | 07:46 WIB
Saham MAPI Resilien Terjang Gejolak Pasar, Ditopang Akumulasi Institusi AsingKarakteristik konsumen dari kalangan kelas menengah atas membuat struktur permintaan terhadap produk-produk yang dijajakan MAPI lebih kokoh.
| Senin, 22 Juni 2026 | 07:40 WIB
Masuk Bisnis Nikel, FITT Jual Aset HotelPT Hotel Fitra International Tbk (FITT) bakal divestasi aset hotelnya di Majalengka, Jawa Barat, dan beralih ke industri jasa pertambangan nikel.
| Senin, 22 Juni 2026 | 07:37 WIB
Emiten Jasa Migas Masih Ngegas Saat Harga Minyak Mentah LemasTren penurunan harga minyak belakangan ini belum menjadi sinyal berakhirnya siklus positif bagi sektor migas maupun turunannya.
| Senin, 22 Juni 2026 | 07:29 WIB
Emiten Lesu Darah Akibat Tinggi Suku Bunga dan Pelemahan RupiahEra suku bunga tinggi dan semakin loyonya rupiah terhadap dolar AS, bisa menjadi tantangan bagi emiten dalam membayar utang dalam bentuk valas.
| Senin, 22 Juni 2026 | 07:26 WIB
Berharap Penjualan Mobil LCGC MelajuKonsumen mempertimbangkan dari sisi harga, besaran uang muka atau Down Payment (DP), cicilan bulanan, biaya operasional bulanan.
| Senin, 22 Juni 2026 | 07:13 WIB
Mark Dynamics Indonesia (MARK) Kebanjiran Pesanan dari Pasar EksporMARK menjadi salah satu pemasok utama cetakan sarung tangan bagi produsen sarung tangan di Malaysia, Vietnam, Thailand, dan China. | ||||||||
