Pemulihan Huruf K
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tidak bisa dipungkiri, bila melihat data-data, ekonomi Indonesia tumbuh cukup baik. Karena mencatatkan pertumbuhan 5,29% di kuartal II-2026, total pertumbuhan ekonomi di paruh pertama tahun ini mencapai 5,45%.
Nah, dalam beberapa kesempatan terpisah, saya bertemu dengan beberapa orang yang berada di lingkaran otoritas pembuat kebijakan makroekonomi juga pelaku yang mendorong ekonomi. Orang-orang tersebut tentu optimistis terhadap prospek ekonomi ke depan.
Menariknya, setelah pembicaraan mulai ngalor-ngidul, orang-orang tersebut sempat berucap "Yah, dalam kondisi ekonomi seperti ini" atau "Situasi ekonomi lagi begini" atau kalimat lain yang nadanya menyiratkan ekonomi sedang susah.
Jadi, sebenarnya bagaimana, sih, ekonomi saat ini?
Di semester satu lalu, Knight Frank kembali merilis The Wealth Report, laporan yang berisi data dan insight mengenai perkembangan kekayaan dan orang superkaya dunia. Yang menarik dari laporan tahun ini, Indonesia diprediksi menjadi negara dengan pertumbuhan orang superkaya tercepat di dunia.
Di 2031, populasi ultra high net worth individual asal Indonesia diprediksi tumbuh 81,7%, tertinggi dibanding seluruh negara yang disurvei. Tidak heran, banyak bank yang rajin mengembangkan bisnis wealth management di Indonesia.
Tapi, di saat yang sama, World Bank Indonesia mencatat pekerja kelas menengah turun tajam. Menurut laporan yang dipublikasikan Juni lalu, jumlah pekerja yang memperoleh pendapatan kelas menengah telah menurun tajam, dari 14,5% pada tahun 2018 menjadi lebih dari 7% pada tahun 2025.
Data yang sangat kontradiktif dari dua lembaga ini bisa jadi sama-sama benar. Artinya, yang terjadi adalah, orang yang kaya semakin kaya, sementara yang pas-pasan jadi miskin, dan yang miskin makin miskin.
Banyak ekonom yang sudah mewanti-wanti, Indonesia berpotensi jatuh ke dalam pemulihan berbentuk huruf K (K-shaped recovery). Ini pemulihan di mana satu kelompok membaik, sedang kelompok lain bergerak turun atau tertinggal.
Jadi tidak aneh kalau belakangan ramai orang yang masuk desil 10, tapi merasa hidupnya tidak sejahtera. Bisa jadi ini karena ketimpangan yang melebar, di mana hanya sedikit orang yang benar-benar sejahtera di desil tersebut, sementara yang lain kesejahteraannya menurun.
Kalau ini yang terjadi, artinya pembagian desil kurang pas jadi acuan untuk membuat kebijakan.
