Pendapatan dan Laba AKRA di Kuartal IV-2025 bisa Lebih Baik, Ditopang Penjualan Lahan

Selasa, 28 Oktober 2025 | 08:15 WIB
Pendapatan dan Laba AKRA di Kuartal IV-2025 bisa Lebih Baik, Ditopang Penjualan Lahan
[ILUSTRASI. Pelabuhan yang terintegrasi dengan kawasan industri JIIPE di Gresik, Jawa Timur. DOK/Pelindo]
Reporter: Sugeng Adji Soenarso | Editor: Tedy Gumilar

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) mencatatkan kinerja yang masih solid di tengah tekanan margin minyak bumi di kuartal III-2025. Daya tahan fundamental AKRA pun mendorong harga sahamnya di tengah koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Senin (27/10), saham AKRA ditutup menguat 0,41% ke Rp 1.215 per saham, melanjutkan rebound yang terbentuk sejak 20 Oktober 2025. Ini berlangsung di saat IHSG mengalami koreksi hingga -1,87% pada hari yang sama. 

Adapun AKRA mencatatkan pendapatan sebesar Rp 32,39 triliun atau tumbuh 13,22% secara tahunan (YoY) hingga September 2025. Beriringan, laba bersih AKRA turut tumbuh 12,29% YoY menjadi Rp 1,65 triliun selama periode sembilan bulan.

Analis Indo Premier Seritas Ryan Winipta dan Reggie Parengkuan menuturkan, hasil itu sebetulnya berada di bawah perkiraan lantaran cuma 67% proyeksi internal dan 65% proyeksi konsensus.

Ini efek kinerja kuartal III yang terkoreksi. Mereka mencatat laba bersih AKRA di kuartal III-2025 sebesar Rp 470 miliar, relatif datar secara tahunan tetapi turun 24% dari kuartal II-2025 (QoQ).

"Ini akibat penurunan margin minyak bumi dan tidak adanya penjualan lahan industri pada periode tersebut," tulisnya dalam riset Jumat (24/10).

Baca Juga: Jadi Pengendali Baru Geoprima Solusi (GPSO), PIMSF Menggelar Tender Wajib

Sementara untuk pendapatan kuartal III cenderung stabil dengan penurunan 2% dari kuartal sebelumnya. Segmen bahan kimia mencatat pertumbuhan volume signifikan hingga 20% QoQ, mendorong kenaikan pendapatan 13% QoQ menjadi Rp 1,9 triliun.

Namun, penurunan pendapatan minyak dan gas sebesar 2% QoQ serta nihilnya penjualan lahan di kawasan industri menekan laba kotor konsolidasi hingga 21% QoQ.

Lalu, margin segmen perdagangan dan distribusi turun menjadi 6% akibat pergeseran komposisi pelanggan dari sektor tambang ke pasar umum yang marginnya lebih rendah.

Meski demikian, prospek kuartal IV-2025 dinilai positif. Manajemen memperkirakan peningkatan pendapatan utilitas dari pelanggan baru seperti Xinyi Glass, Xinyi Solar, dan Golden Elephant akan mulai terlihat pada kuartal IV.

Selain itu, terdapat potensi serah terima lahan sekitar 40–60 hektare pada akhir tahun yang dapat menjadi katalis pendapatan non-reguler.

Dengan demikian, panduan manajemen untuk penjualan lahan setahun penuh 2025 tetap di kisaran 80–110 hektare, dengan target laba bersih 2025 sekitar Rp 2,4 triliun – Rp 2,6 triliun.

 

 

Analis Maybank Sekuritas Indonesia Hasan Barakwan juga memperkirakan kinerja AKRA akan pulih di kuartal IV-2025. Dia memproyeksi pertumbuhan laba sekitar 16% QoQ berkat kontribusi penjualan lahan serta stabilnya performa segmen trading & distribution (T&D).

Selain itu, masalah operasional yang terjadi baru-baru ini di segmen ritel BP AKR diperkirakan tidak akan memiliki dampak material terhadap laba keseluruhan. Sebab, kontribusi dari bisnis ini tetap minimal, hanya sekitar 2% dari total volume distribusi bahan bakar.

Karenanya, Hasan turut mempertahankan proyeksi laba tahun 2025-2026, masing-masing Rp 2,42 triliun dan Rp 2,57 triliun. Hasan mempertahankan rekomendasi buy dengan target harga Rp 1.850 per saham.

"Kami juga menilai AKRA sebagai saham berdividen tinggi dengan potensi imbal hasil 9%–10% per tahun, didukung rasio payout di atas 80%," jelasnya.

Indo Premier Sekuritas juga mempertahankan rating beli dengan target harga Rp 1.480 per saham. Valuasi AKRA yang masih menarik di tengah ekspektasi pasar yang rendah turut menjadi pertimbangannya.

Baca Juga: BSI (BRIS) Cetak Laba Rp 5,69 triliun Hingga Kuartal III, Tumbuh 11,45%

Sementara untuk jangka pendek, Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memperingatkan ada potensi penurunan saham AKRA. Dia melihat secara teknikal posisi AKRA masih berada di fase uptrend, tetapi pada perdagangan kemarin disertai dengan munculnya tekanan jual.

"MACD masih berpeluang menguat di area positif dengan Stochastic yang mulai bergerak menyempit dan rawan terjadinya deadcross," terangnya.

Dus, ia memberikan rekomendasi buy on weakness dengan support di Rp 1.180 dan resistance Rp 1.260.

Disclaimer on: Berita ini bukan ajakan untuk membeli atau tidak membeli saham apa pun. Segala keputusan investasi beserta risikonya menjadi tanggung jawab Anda sepenuhnya.

Selanjutnya: Sido Muncul Menadah Berkah dari Masuk Angin

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

DSSA dan BREN Masuk Daftar HSC, Seberapa Besar Potensi Didepak dari Indeks MSCI?
| Jumat, 03 April 2026 | 16:07 WIB

DSSA dan BREN Masuk Daftar HSC, Seberapa Besar Potensi Didepak dari Indeks MSCI?

MSCI diharapkan juga akan membuka sesi konsultasi setelah BEI mengungkapkan daftar High Shareholding Concentration (HSC) kepada publik.

Pekan Depan 4 Emiten Masuk Masa Cum Dividen, Yield Emiten Haji Isam di Atas 10 Persen
| Jumat, 03 April 2026 | 10:00 WIB

Pekan Depan 4 Emiten Masuk Masa Cum Dividen, Yield Emiten Haji Isam di Atas 10 Persen

Dari empat emiten yang masuk masa cum dividen, satu di antaranya emiten batubara milik Haji Isam dan tiga lagi emiten di sektor keuangan.

Tentakel Sinarmas Terbitkan Sukuk Rp 3 Triliun, Indikasi Bagi Hasil 8,75% per Tahun
| Jumat, 03 April 2026 | 09:00 WIB

Tentakel Sinarmas Terbitkan Sukuk Rp 3 Triliun, Indikasi Bagi Hasil 8,75% per Tahun

Bagi investor yang berminat, pemesanan pembelian sukuk dipatok di angka Rp 5 juta dan/atau kelipatannya.

Laba BBYB Meroket Tajam, tapi Risiko Kredit Mengintai! Cek Target Harga Sahamnya
| Jumat, 03 April 2026 | 08:00 WIB

Laba BBYB Meroket Tajam, tapi Risiko Kredit Mengintai! Cek Target Harga Sahamnya

Laba bersih PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) pada kuartal IV-2025 hanya Rp 102 miliar, tergelincir -46% secara kuartalan.

Melihat Ancaman Ekonomi di Balik Angka Inflasi yang Terkendali
| Jumat, 03 April 2026 | 07:00 WIB

Melihat Ancaman Ekonomi di Balik Angka Inflasi yang Terkendali

Josua pardede melihat bahwa ke depannya, risiko inflasi dinilai masih cenderung meningkat terutama dari sektor pangan dan energi.

Kebijakan WFH bagi ASN, Belum Menjadi Game Changer Bagi Emiten Telko dan GOTO
| Jumat, 03 April 2026 | 06:16 WIB

Kebijakan WFH bagi ASN, Belum Menjadi Game Changer Bagi Emiten Telko dan GOTO

WFH secara alami akan menekan mobilitas masyarakat sehingga akan membuat mobilitas tertekan dan melambatkan segmen ride-hailing.

Saham Perkapalan Kompak Terkoreksi Usai Naik Signifikan, Cek Analisis Teknikalnya
| Jumat, 03 April 2026 | 06:00 WIB

Saham Perkapalan Kompak Terkoreksi Usai Naik Signifikan, Cek Analisis Teknikalnya

Dari segi kinerja keuangan, emiten yang mempunyai pendapatan dan laba bersih cukup besar ialah BULL dan SOCI.

Harga Minyak Dunia Melonjak 60%, Ancaman Resesi Global Mengintai
| Jumat, 03 April 2026 | 01:30 WIB

Harga Minyak Dunia Melonjak 60%, Ancaman Resesi Global Mengintai

PM Singapura Lawrence Wong peringatkan dunia hadapi krisis energi dan risiko stagflasi. Dampak konflik Timur Tengah bisa berlangsung lama.

Harga Penawaran IPO WBSA Rp 168 Per Saham, Duitnya Buat Akuisisi Perusahaan Afiliasi
| Kamis, 02 April 2026 | 13:33 WIB

Harga Penawaran IPO WBSA Rp 168 Per Saham, Duitnya Buat Akuisisi Perusahaan Afiliasi

PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA) merupakan perusahaan logistik terintegrasi yang baru didirikan pada 2021.

Konflik Timur Tengah bisa Menahan Penerbitan Obligasi Baru, Begini Kata TBIG dan ENRG
| Kamis, 02 April 2026 | 09:30 WIB

Konflik Timur Tengah bisa Menahan Penerbitan Obligasi Baru, Begini Kata TBIG dan ENRG

Di tengah himpitan pasar surat utang, opsi pendanaan dari kredit perbankan menjadi sekoci penyelamat.

INDEKS BERITA

Terpopuler