PMI Manufaktur Indonesia Ekspansif, Tapi Masih Jauh dari Pemulihan

Rabu, 03 Juni 2026 | 08:12 WIB
PMI Manufaktur Indonesia Ekspansif, Tapi Masih Jauh dari Pemulihan
[ILUSTRASI. Pameran Percetakan (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)]
Reporter: Amalia Nur Fitri | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sektor manufaktur Indonesia terlihat menunjukkan kembali tanda-tanda kehidupan setelah sempat terjerembab dan tertekan dalam beberapa bulan terakhir.

Hal ini terlihat dalam data terbaru S&P Global yang mencatat Purchasing Manager's Index Manufaktur Indonesia (PMI) yang berada di level 50,0 pada Mei 2026 alias naik dari 49,1 di April 2026. Dalam paparan yang dibagikan oleh S&P Global, secara teknis capaian ini mengembalikan aktivitas manufaktur ke zona ekspansi setelah sebelumnya terus berada di fase kontraksi.

Tetapi, angka 50,0 yang dicapai ini merupakan garis batas yang demikian tipis antara ekspansi dan kontraksi. Meski kondisi industri tak lagi dinilai memburuk, pemulihan yang terjadi belum bisa dikategorikan sebagai kebangkitan manufaktur yang kuat.

Baca Juga: Dari PMI hingga Rupiah, Ini Deretan Indikator yang Membuat Pasar Waspada

Chief Economist Permata Bank Josua Pardede memberikan pandangan bahwa kenaikan PMI dari posisi 49,1 menjadi 50,0 hanya menunjukkan bahwa tekanan terhadap sektor manufaktur mulai mereda. Namun, posisi indeks yang masih tepat berada di ambang batas ekspansi, malah menjadi sinyal bahwa pelaku industri masih berhati-hati.

"Permintaan memang mulai membaik, tetapi produsen belum percaya diri menaikkan produksi secara agresif karena tekanan biaya, pasokan, dan ketidakpastian permintaan yang masih besar," papar Josua kepada KONTAN, Selasa (2/6).

Pandangan senada juga disampaikan oleh Yusuf Rendy Manilet Economic Researcher Center of Reform on Economics (CORE). Yusuf menilai level PMI di angka 50,0 belumlah cukup untuk membuktikan bahwa sektor manufaktur telah memasuki masa pemulihan.

Menurutnya, angka tersebut lebih tepat dibaca sebagai sinyal stabilisasi daripada pemulihan. Untuk menyatakan sektor manufaktur benar-benar pulih, diperlukan PMI yang mampu bertahan di atas 50,0 selama beberapa bulan berturut-turut dan didukung oleh perbaikan output ekspor, serta penyerapan tenaga kerja.

Ini Artikel Spesial
Agar bisa lanjut membaca sampai tuntas artikel ini, pastikan Anda sudah berlangganan.
Sudah Berlangganan?
Berlangganan dengan Google
Gratis uji coba 7 hari pertama dan gunakan akun Google sebagai metode pembayaran.
Business Insight
Artikel pilihan editor Kontan yang menyajikan analisis mendalam, didukung data dan investigasi.
Kontan Digital Premium Access
Paket bundling Kontan berisi Business Insight, e-paper harian dan tabloid serta arsip e-paper selama 30 hari.
Masuk untuk Melanjutkan Proses Berlangganan
Bagikan

Berita Terbaru

Hobi Unik Bos  Harta Djaya Karya (MEJA): Koleksi Jersey hingga Jam Tangan Lawas
| Minggu, 02 Agustus 2026 | 15:32 WIB

Hobi Unik Bos Harta Djaya Karya (MEJA): Koleksi Jersey hingga Jam Tangan Lawas

Dari sekian banyak koleksim ada dua yang paling ia banggakan. Pertama, jersey Bryan Robson, pemain Inggris, lengkap dengan tanda tangan asli.

Direktur Harta Djaya Karya Venantius Agung: Optimis Pada Prospek Emas Fisik
| Minggu, 02 Agustus 2026 | 10:44 WIB

Direktur Harta Djaya Karya Venantius Agung: Optimis Pada Prospek Emas Fisik

Venantius Agung Passionoraga tetap setia pada satu instrumen yang telah menemani lebih dari tiga dekade, yakni emas fisik.

Investor Masih Berhati-Hati, Kurva Imbal Hasil Obligasi Bergerak Mendatar
| Minggu, 02 Agustus 2026 | 10:38 WIB

Investor Masih Berhati-Hati, Kurva Imbal Hasil Obligasi Bergerak Mendatar

Investor meminta premi tinggi di tengah ketidak pastian fiskal dan prospek ekonomi yang belum pulih.

Jangan Belanja untuk Senang, Merana Kemudian
| Minggu, 02 Agustus 2026 | 09:15 WIB

Jangan Belanja untuk Senang, Merana Kemudian

Simak tanda-tanda terjebak doom spending, dan bagaimana cara mengatasinya.                          

Rapor Juli Positif, Bisakah Reksadana Saham Cuan Tahun Ini?
| Minggu, 02 Agustus 2026 | 08:35 WIB

Rapor Juli Positif, Bisakah Reksadana Saham Cuan Tahun Ini?

Rata-rata reksadana saham cetak kinerja positif sebulan terakhir. Namun, menutup tahun ini dengan kinerja positif, masih akan menantang.

Kapan Waktu yang Tepat Bagi Investor Melakukan Profit Taking?
| Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:05 WIB

Kapan Waktu yang Tepat Bagi Investor Melakukan Profit Taking?

Profit taking terencana bukan tanda hilangnya keyakinan terhadap pasar. Melainkan menjaga hasil jerih payah agar tidak menguap.

Jersey Lokal Meraup Peluang Saat Demam Olahraga Meradang
| Minggu, 02 Agustus 2026 | 00:34 WIB

Jersey Lokal Meraup Peluang Saat Demam Olahraga Meradang

Tren olahraga kini melanda berbagai kalangan, seperti apa pengaruhnya ke bisnis jersey lokal dalam negeri?

Cabai Gendot dari Dieng yang Super Pedas
| Minggu, 02 Agustus 2026 | 00:11 WIB

Cabai Gendot dari Dieng yang Super Pedas

​Di Jawa Barat, cabai gendot dikenal dengan nama cabai tit super, tit paris dan jatilaba. Asal-usul nama tit super dan tit paris tidak jelas.

Angkutan Antarkota Topang Bisnis Weha Transportasi Indonesia (WEHA)
| Sabtu, 01 Agustus 2026 | 20:10 WIB

Angkutan Antarkota Topang Bisnis Weha Transportasi Indonesia (WEHA)

Pertumbuhan pendapatan ditopang bisnis jasa angkutan antarkota yang meningkat 16,7% yoy selama semester I-2026

Laba Bersih Gudang Garam (GGRM) pada Semester I-2026 Melejit 2.440%
| Sabtu, 01 Agustus 2026 | 12:02 WIB

Laba Bersih Gudang Garam (GGRM) pada Semester I-2026 Melejit 2.440%

PT Gudang Garam Tbk (GGRM) mencatat lonjakan laba signifikan di tengah merosotnya penjualan di semester I-2026.

INDEKS BERITA

Terpopuler