Pendapatan Komisi Bank Kian Subur

Selasa, 30 April 2019 | 06:58 WIB
Pendapatan Komisi Bank Kian Subur
[]
Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri perbankan terus mendorong pertumbuhan pendapatan non bunga atau fee based income di tengah penurunan margin bunga atau net interest margin di triwulan pertama tahun ini. Dengan sejumlah strategi, sumbangsih pendapatan berbasis komisi ke laba bersih akan kian menggemuk hingga penghujung tahun.

PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) misalnya, akan mengejar pertumbuhan berbasis komisi sekitar 12%–14% hingga penghujung tahun ini. Komisi dari recurring income emiten anggota indeks Kompas100 ini diharapkan akan tumbuh lebih kencang.

BNI berhasil mencatatkan pendapatan berbasis komisi sebesar Rp 2,59 triliun atau naik 2,3% dibandingkan Rp 2,53 triliun di kuartal I-2018. "Tumbuh masih rendah karena non recurring fee kami masih minus. Sedangkan recurring fee sudah tumbuh dobel digit yakni 10,5%." kata Direktur Keuangan BNI Anggoro Eko Cahyo ke KONTAN.

Untuk mendorong pertumbuhan fee based, BNI akan meningkatkan layanan digital banking, memperluas silang layanan keuangan tanpa kantor (branchless banking cross), dan meningkatkan produktivitas dari 2.247 outlet perseroan ini.

Fee based income BNI di triwulan I juga ditopang trade finance bertumbuh 18,5% menjadi Rp 334 miliar, bank garansi naik 18,6% menjadi Rp 138 miliar, fee kredit sindikasi naik 91,5%, dan pendanaan pensiun naik 28,4% menjadi Rp 51 miliar. Fee based income BNI dari sektor konsumer dan ritel ditopang account maintenance yang tumbuh 5,8% menjadi Rp 442 miliar, kartu bisnis naik 16,8%, ATM tumbuh 24,3%, pemeliharaan kartu debit naik 66,2%, dan lain-lain.

Sementara PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) menargetkan pendapatan non bunga tumbuh sekitar 25% hingga akhir tahun. Untuk mencapai itu, BTN akan meningkatkan transaksi keuangan nasabah melalui BTN dengan menggunakan momentum penggunaan fasilitas uang elektronik milik BUMN yang bertajuk LinkAja.

Di kuartal I-2019, BTN mencatatkan pertumbuhan fee based income sekitar 45% menjadi Rp 600 miliar. Direktur Keuangan dan Tresuri BTN Iman Nugroho Soeko mengatakan, semua segmen fee based income perseroan ini bertumbuh di kuartal I. Pendapatan trading tresuri melesat hingga 280% dan fee administrasi naik 22%.

Adapun PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) membukukan fee based income sebesar Rp 3,14 triliun, tumbuh 16,49% yoy dibandingkan kuartal I 2018 sebesar Rp 2,69 triliun. Pertumbuhan ini salah penopang laba bersih perseroan di triwulan I.

Sementara Bank Jawa Timur menorehkan pertumbuhan fee based 39,02%, ditopang host to host bisnis Payment Point Online (PPOB), provisi kredit, digital banking dan trade finance.

Bagikan

Berita Terbaru

Tekanan Ganda Bisnis Vape Dalam Negeri
| Selasa, 06 Oktober 2026 | 09:39 WIB

Tekanan Ganda Bisnis Vape Dalam Negeri

Industri vape meminta BRIN membuka data penelitian yang diklaim menjatuhkan penjualan dalam beberapa hari terakhir.

WIKA Siapkan Divestasi Aset Rp 5,5 Triliun
| Selasa, 06 Oktober 2026 | 09:34 WIB

WIKA Siapkan Divestasi Aset Rp 5,5 Triliun

 Emiten konstruksi PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) mengaku telah mencatatkan penurunan utang berbunga dan utang usaha.

Menelusuri Jejak Hashim di Balik Manuver Ekspansi dan Volatilitas Saham WIFI
| Selasa, 06 Oktober 2026 | 09:30 WIB

Menelusuri Jejak Hashim di Balik Manuver Ekspansi dan Volatilitas Saham WIFI

Pengunduran diri Hashim S. Djojohadikusumo sebagai Komisaris Utama PT Solusi Sinergi Digital Tbk membuat langkah saham WIFI kian berat. 

AVIA Mengerek Target Pertumbuhan Pendapatan 14%
| Selasa, 06 Oktober 2026 | 09:21 WIB

AVIA Mengerek Target Pertumbuhan Pendapatan 14%

PT Avia Avian Tbk (AVIA) melanjutkan ekspansi untuk pertumbuhan jangka panjang, mulai dari pembangunan pabrik hingga penambahan produk.

Harga Pulp di China Merekah, Emiten Kertas Meraup Berkah
| Selasa, 06 Oktober 2026 | 08:55 WIB

Harga Pulp di China Merekah, Emiten Kertas Meraup Berkah

Harga pulp di pasar China Melonjak tajam jadi US$ 585 per ton pada September 2026, dari US$ 568 per ton pada bulan sebelumnya.

Emiten Masih Getol Pinjam Duit dari Bank
| Selasa, 06 Oktober 2026 | 08:48 WIB

Emiten Masih Getol Pinjam Duit dari Bank

Meski era suku bunga masih tinggi, fasilitas kredit dari perbankan masih menyedot minat sejumlah emiten di Tanah Air mencari pendanaan usaha.​

Harga Saham Mendaki Tinggi, Prospek SMAR Semakin Bertaji
| Selasa, 06 Oktober 2026 | 08:41 WIB

Harga Saham Mendaki Tinggi, Prospek SMAR Semakin Bertaji

Sejak awal tahun 2026 atau year to date (ytd), harga saham PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR) sudah terbang 89,47%.

Masuk Bisnis Telekomunikasi, NAYZ Caplok Bangkok Tellink
| Selasa, 06 Oktober 2026 | 08:35 WIB

Masuk Bisnis Telekomunikasi, NAYZ Caplok Bangkok Tellink

PT Hassana Boga Sejahtera Tbk (NAYZ) berencana mengambil alih 5.692.500 saham Bangkok Tellink atau setara 75% dari modal disetor.

Pasar Terus Mewaspadai Masih Derasnya Net Sell, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini
| Selasa, 06 Oktober 2026 | 08:31 WIB

Pasar Terus Mewaspadai Masih Derasnya Net Sell, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

Pergerakan IHSG hari ini masih akan dipengaruhi oleh harga komoditas dunia serta kondisi domestik setelah penerapan batas bawah harga saham Rp 1. 

MNKT Tuntaskan Private Placement Rp 1,02 Triliun
| Selasa, 06 Oktober 2026 | 08:29 WIB

MNKT Tuntaskan Private Placement Rp 1,02 Triliun

Aksi ini mengubah struktur permodalan MNKT. Jumlah saham yang ditempatkan dan disetor melonjak dari 5,5 miliar saham jadi 1,02 triliun saham.

INDEKS BERITA

Terpopuler