Perang Pangan

Rabu, 12 Juli 2023 | 05:36 WIB
Perang Pangan
[ILUSTRASI. TAJUK - Titis Nurdiana]
Reporter: Titis Nurdiana | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Trade war berkibar. Indonesia mengibarkan bendera ‘perang’ dengan banyak negara.

Keputusan menyetop ekspor komoditas sumber daya alam, dimulai nikel sejak tahun 2020, lalu tembaga di Juni 2023, menyusul kemudian tembaga, timah serta gas memantik reaksi panas.. 

Uni Eropa salah satu yang protes. Bahkan, menjadi penggugat kebijakan stop ekspor nikel ke wasit perdagangan dunia WTO. Lalu, IMF juga minta agar Indonesia secara bertahap mengendurkan larangan ekspor sumber daya alamnya. 

Jauh sebelum Indonesia, perang dagang juga sudah berkibar antara China dan Amerika Serikat (AS). Tahun 2018, perang itu memanas pasca Presiden Trump mengenakan tarif impor baja dan tembaga dari China. Dus perang antar dua negara penguasa perdagangan itu terus berlangsung hingga kini. 

Perang menciptakan balkanisasi alias blok-blokan. Yakni blok AS dan blok China. AS mengenakan sanksi ke Rusia atas penyetopan gas Rusia AS menyetop ekspor cip ke China, yang dibalas China dengan menekan perusahaan cip di China. 

Perang dagang tak hanya berkobar di energi, tapi memasuki ke pangan. Banyak negara mulai melarang ekspor hasil pertanian. 

Analisis World Bank terbaru  menyebut, kelaparan global akan terus berlanjut. Cuaca ekstrem,  konflik geopolitik mendorong banyak negara masuk ke krisis pangan.

Diperkirakan 1 miliar orang di seluruh dunia akan mengalami kesulitan parah untuk mendapatkan makanan. Jumlah ini naik tajam dari tahun 2015 sebanyak 330 juta orang. . Pandemi Covid, krisis energi, hingga pupuk memperparah kondisi. 

Banyak negara kini menyetop ekspor pangannya. Catatan International Food Policy Research Institute, negara-negara seperti India, Bangladesh, China, Turki, Argentina, Rusia hingga Vietnam melarang ekspor komoditas pangan dari beras, gula, tepung gandum hingga tomat serta pupuk.

Kebijakan inilah yang membuat aliran perdagangan yang bebas tersendat. Efeknya bisa ke ekonomi dengan kenaikan biaya produksi di banyak negara.  Ini bisa jadi bandul berat bagi ekonomi. 

Kedaulatan pangan harus menjadi prioritas di tengah kebutuhan yang terus bertambah serta produksi melambat. Ancaman  kemarau panjang yang diperkirakan terjadi di bulan Agustus mustahil bisa diselesaikan dengan kenaikan produksi pangan. 

Selama ini, kita terjebak dalam rencana mendorong produksi pangan, tapi miskin eksekusi. Alhasil, kedaulatan pangan masih mimpi

Bagikan

Berita Terbaru

Reli Saham EMTK; Ada Peluang Kenaikan Berlanjut tapi Waspadai Risiko Profit Taking
| Minggu, 12 April 2026 | 13:30 WIB

Reli Saham EMTK; Ada Peluang Kenaikan Berlanjut tapi Waspadai Risiko Profit Taking

Pergeseran haluan EMTK dari sekadar di bisnis penyiaran konvensional menjadi raksasa multisektor berbuah manis. 

WIFI Siap Alokasikan Duit Rights Issue  Hampir Rp 6 Triliun untuk Internet Rakyat
| Minggu, 12 April 2026 | 12:08 WIB

WIFI Siap Alokasikan Duit Rights Issue Hampir Rp 6 Triliun untuk Internet Rakyat

WIFI menargetkan pembangunan 5.500 titik atau sites IRA tahun 2026. Adapun potensi menjangkau hingga 5 juta pelanggan sampai akhir tahun 2026. 

Ambisi B50 Terus Menuai Penolakan! Beban Subsidi Biodiesel bisa Capai Rp 29 Triliun
| Minggu, 12 April 2026 | 12:00 WIB

Ambisi B50 Terus Menuai Penolakan! Beban Subsidi Biodiesel bisa Capai Rp 29 Triliun

Negara berpotensi kehilangan penerimaan dari pos pajak dan bea keluar senilai Rp 11,9 triliun hingga Rp 14,6 triliun. 

Kondisi Ekonomi Menantang di Kuartal II-2026, Tiga Hal Perlu Diwaspadai Masyarakat
| Minggu, 12 April 2026 | 10:35 WIB

Kondisi Ekonomi Menantang di Kuartal II-2026, Tiga Hal Perlu Diwaspadai Masyarakat

CEO Confidence Index (ICCI) kuartal II-2026 terjerembap ke level 2,99, ini rekor terendah sejak Juli 2020.

Right Issue RMKO Memicu Harapan Jangka Pendek, namun Ketidakpastian Masih Tinggi
| Minggu, 12 April 2026 | 09:25 WIB

Right Issue RMKO Memicu Harapan Jangka Pendek, namun Ketidakpastian Masih Tinggi

Rights issue RMKO ditujukan sebagai langkah strategis untuk memperkuat struktur permodalan dan likuiditas.

Harga BBM Subsidi Tidak Akan Dinaikkan, APBN Sulit Bertahan & Pertamina Jadi Bantalan
| Minggu, 12 April 2026 | 08:35 WIB

Harga BBM Subsidi Tidak Akan Dinaikkan, APBN Sulit Bertahan & Pertamina Jadi Bantalan

Harusnya peran Pertamina dalam menyerap efek lonjakan harga BBM lebih menyerupai "pembeli waktu" ketimbang penahan beban permanen.

Strategi Investasi Dirut PADA: Dari Deposito Hingga Bisnis Riil
| Minggu, 12 April 2026 | 08:00 WIB

Strategi Investasi Dirut PADA: Dari Deposito Hingga Bisnis Riil

 Cahyanul Uswah punya cara untuk menghindari kerugian dengan strategi investasi jangka panjang yang disiplin

Konsolidasi Fiber Optic PLN Icon+, Valuasi Saham Telkom (TLKM) Berpotensi Melesat
| Minggu, 12 April 2026 | 07:33 WIB

Konsolidasi Fiber Optic PLN Icon+, Valuasi Saham Telkom (TLKM) Berpotensi Melesat

Dalam jangka pendek, margin laba TLKM diproyeksi tergerus akibat membengkaknya beban integrasi dan pergeseran fokus ke lini bisnis wholesale.

Peluang dan Risiko di Balik Lonjakan Harga Saham Papan Pengembangan
| Minggu, 12 April 2026 | 06:41 WIB

Peluang dan Risiko di Balik Lonjakan Harga Saham Papan Pengembangan

Saham papan pengembangan bisa cuan besar, tapi risikonya juga tinggi. Temukan cara memilih saham berkualitas dan strategi trading yang aman.

IHSG Menguat 6,14% Sepekan, Cek Prediksi Pekan Depan
| Minggu, 12 April 2026 | 06:38 WIB

IHSG Menguat 6,14% Sepekan, Cek Prediksi Pekan Depan

Meredanya ketegangan global dan musim dividen mengangkat IHSG 6,14%. Namun, tekanan domestik mengintai.

INDEKS BERITA

Terpopuler