Pereda Nyeri Rupiah

Rabu, 10 Juni 2026 | 09:32 WIB
Pereda Nyeri Rupiah
[ILUSTRASI. Tedy Gumilar (KONTAN/Indra Surya)]
Tedy Gumilar | Senior Editor

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia (BI) mengambil manuver mengejutkan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) mingguan pada Selasa (9/6/2026). Bank sentral mengerek BI-Rate sebesar 25 basis poin (bps) ke level 5,50%. Suku bunga Deposit Facility juga ikut naik dari 4,50% menjadi 4,75%, sementara suku bunga Lending Facility melesat 25 bps menjadi 6,25%.

Dalam pernyataan resminya, BI beralasan langkah agresif ini diambil demi memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah. Ini juga ditujukan untuk mengerek imbal hasil demi memancing modal asing kembali masuk ke pasar domestik.

Kebijakan BI jelas manuver tak lazim. Biasanya, keputusan soal tingkat suku bunga acuan diketuk dalam RDG bulanan. Namun, sinyal ini membuktikan bahwa BI sangat concern mengawal rupiah, di tengah tekanan yang kian membesar terhadap institusi tersebut.

Persoalannya, sejak awal biang kerok pelemahan rupiah bukanlah buah dari ketidakbecusan BI. Depresiasi rupiah dan gejolak di pasar keuangan lebih dipicu oleh kepercayaan investor yang kian luntur. Kredibilitas pemerintah merosot lantaran kerap mengambil kebijakan yang tidak bisa diprediksi, inkonsisten, kerap grasah-grusuh seolah tergantung mood.

Kita tentu berharap, jurus BI ini membuahkan hasil maksimal. Namun, kita juga tidak bisa menutup mata, efektivitas langkah otoritas moneter menjaga rupiah kerap tumpul lantaran tidak dibarengi dukungan dari otoritas fiskal.

Buktinya masih segar. Pada 20 Mei 2026 lalu, BI mengerek BI-Rate 50 bps menjadi 5,25%. Kala itu, merujuk data Jakarta Interbank Spot Dolar Rate (Jisdor), rupiah bertengger di level Rp 17.685 per dolar AS. Apa daya, per 8 Juni 2026, nilai tukar rupiah justru makin terpelanting ke posisi Rp 18.171 per dolar AS.

Di pasar saham, capital outflow masih deras mengalir. Pada 20 Mei 2026 memang tercatat ada net foreign buy Rp 249,21 miliar. Namun, hari-hari berikutnya, arus dana berbalik arah. Termasuk pada 9 Juni 2026 ketika tercatat ada net foreign sell sebesar Rp 2,44 triliun. Alhasil, dalam rentang 20 Mei 2026 hingga 9 Juni 2026, total net foreign sell mencapai Rp 22,62 triliun.

Sementara kepemilikan asing di Surat Berharga Negara (SBN) rupiah, merujuk data Kementerian Keuangan menyusut tipis. Porsinya turun dari 12,68% per 18 Mei 2026 menjadi 12,64% di 6 Juni 2026.

Jangan sampai, setelah faktor global, sekarang institusi BI yang mau dijadikan kambing hitam!

Bagikan

Berita Terbaru

Astra International Masih Dibayangi Tekanan Daya Beli
| Selasa, 18 Agustus 2026 | 21:07 WIB

Astra International Masih Dibayangi Tekanan Daya Beli

Kinerja PT Astra International Tbk (ASII) di semester II 2026 diproyeksi membaik seiring volume penjualan otomotif yang lebih baik

Membedah ETF Emas; Cara Investasi, Pembentukan Harga, Modal, Prospek Hingga Risiko
| Selasa, 18 Agustus 2026 | 10:00 WIB

Membedah ETF Emas; Cara Investasi, Pembentukan Harga, Modal, Prospek Hingga Risiko

Di luar lima manajer investasi yang telah meluncurkan produk ETF Emas, ada sejumlah MI lain yang akan menyusul.

Asumsi Kurs Rp 17.500 di RAPBN 2027: Belajar dari Pengalaman 2026 yang Meleset Jauh
| Selasa, 18 Agustus 2026 | 08:49 WIB

Asumsi Kurs Rp 17.500 di RAPBN 2027: Belajar dari Pengalaman 2026 yang Meleset Jauh

Banyak syarat untuk memenuhi asumsi rupiah, yang repotnya sebagian bergantung pada kondisi eksternal.

Proyeksi CPO Dipangkas, Saham Sawit Mana yang Masih Menarik?
| Selasa, 18 Agustus 2026 | 08:26 WIB

Proyeksi CPO Dipangkas, Saham Sawit Mana yang Masih Menarik?

Ketika kenaikan harga CPO mulai terbatas, kinerja emiten tidak hanya bergantung pada pergerakan harga komoditas.

Ranjang Procrustes dan Kemasan Rokok
| Selasa, 18 Agustus 2026 | 08:12 WIB

Ranjang Procrustes dan Kemasan Rokok

Rokok boleh kita pandang sebagai persoalan serius bagi kesehatan. Namun, janganlah kebencian terhadapnya membuat kita berlaku tidak adil.

Rupiah Selasa (18/8) Berpotensi Menguat Terbatas, Cek Sentimen Utamanya
| Selasa, 18 Agustus 2026 | 08:10 WIB

Rupiah Selasa (18/8) Berpotensi Menguat Terbatas, Cek Sentimen Utamanya

Pelemahan indeks dolar AS dan turunnya imbal hasil obligasi pemerintah AS menjadi sentimen utama yang menopang rupiah

Buktikan Wibawa BI
| Selasa, 18 Agustus 2026 | 08:04 WIB

Buktikan Wibawa BI

Namun, independensi saja jelas tak akan cukup. Penentu wibawa bank sentral adalah konsistensi arah kebijakan yang dikomunikasikan secara jelas.

Penjualan ANTM Masih Tumbuh, Tapi Ada Risiko dari Tekanan Harga Komoditas
| Selasa, 18 Agustus 2026 | 08:01 WIB

Penjualan ANTM Masih Tumbuh, Tapi Ada Risiko dari Tekanan Harga Komoditas

PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) mendapatkan katalis positif dari kenaikan volume penjualan komoditas pada kuartal II-2026

Adu Kuat Saham WtE, Pengaruh Utama Pertumbuhan Fundamental atau Hanya Diversifikasi?
| Selasa, 18 Agustus 2026 | 08:00 WIB

Adu Kuat Saham WtE, Pengaruh Utama Pertumbuhan Fundamental atau Hanya Diversifikasi?

Investor kian memperhatikan kualitas proyek dan kemampuan emiten mengubah peluang bisnis pengolahan sampah menjadi arus kas.

Mengapa Saham Murah Tetap Murah Dalam Waktu Lama?
| Selasa, 18 Agustus 2026 | 07:57 WIB

Mengapa Saham Murah Tetap Murah Dalam Waktu Lama?

Mulai dengan, "Perusahaan mana menghasilkan return tinggi secara berkelanjutan, dan berapa harga yang pantas?"​

INDEKS BERITA

Terpopuler