Buktikan Wibawa BI
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pengajuan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia (BI) disambut positif pasar. Rupiah menguat di kisaran Rp 17.800-an per dolar AS jelang HUT ke-81 RI, setelah BI menaikkan suku bunga 100 basis poin sejak Mei untuk menahan tekanan mata uang. Publik cenderung membaca kepastian nama pemimpin definitif ini sebagai jaminan independensi.
Namun, Independensi saja jelas tak akan cukup. Penentu wibawa bank sentral adalah konsistensi arah kebijakan yang dikomunikasikan secara jelas. Ujian pertama datang cepat: Selasa-Rabu, 18-19 Agustus, Destry memimpin Rapat Dewan Gubernur bulanan pertamanya sejak diajukan sebagai calon definitif.
Perihal independensi dan kejelasan arah kebijakan moneter ini sedang menjadi polemik di Amerika Serikat. Ketua Federal Reserve Kevin Warsh menjauh dari forward guidance alias sinyal kebijakan lewat pernyataan rutin FOMC. Ia bahkan berencana memangkas pertemuan FOMC dari delapan kali setahun jadi hanya enam kali.
Akibatnya pasar bingung. Usai konferensi pers pertamanya, analis buru-buru mencap Warsh dovish. Ternyata label itu keliru. Pertemuan berikutnya, Fed justru menahan suku bunga di 3,50-3,75 persen dengan voting terpecah 9 banding 3.
Ambiguitas ini diperparah laporan Wall Street Journal bahwa Trump dan Warsh berkomunikasi berulang kali, meski dibantah Trump dengan klaim hanya bicara "satu kali, sebentar". Independensi Fed secara hukum tetap utuh; namun ketidakjelasan arah kebijakan, ditambah spekulasi kedekatan personal, membuat Fed kehilangan wibawa.
RDG pekan ini jadi ujian nyata bagi Destry. Fit and proper test di DPR belum tuntas, jadi dia akan memimpin RDG masih dalam kapasitas Pjs. Sinyal yang keluar, soal apakah BI melanjutkan pengetatan atau mulai melonggarkan di tengah tekanan eksternal, lebih menentukan kredibilitas BI di mata pasar dibanding sekadar kepastian nama yang diajukan Presiden.
Destry harus membuktikan bahwa lembaga yang dipimpinnya akan selalu independen. Modal kepercayaan sebagai Deputi Gubernur Senior dua periode baru teruji saat ia mengomunikasikan arah kebijakanyang independen secara konsisten, termasuk ketika kelak tak populer secara politik.
Sebuah tuntutan sikap yang tak mudah ditegakkan di saat banyak pejabat seolah sedang berlomba-lomba menyenangkan atasan dengan pujian dan tepuk tangan.
