Perjalanan Neneng Goenadi, Dari Konsultan Jadi Bos Teknologi

Sabtu, 18 Oktober 2025 | 09:00 WIB
Perjalanan Neneng Goenadi, Dari Konsultan Jadi Bos Teknologi
[ILUSTRASI. Neneng Goenadi, CEO Grab Indonesia.]
Reporter: Shintia Rahma Islamiati | Editor: Fahriyadi .

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di balik kesuksesan bisnis Grab di Indonesia, ada sosok perempuan tangguh dan bersahaja bernama Neneng Goenadi. Ia berperan penting, karena menjadi pengemudi yang menentukan arah bisnis perusahaan penyedia jasa transportasi berbasis teknologi tersebut.

Namun, langkah Neneng sampai ke posisinya saat ini, sebenarnya tidaklah mudah. Ia harus meniti karier terlebih dahulu sebagai menjadi  seorang konsultan hingga akhirnya duduk di posisi sebagai Chief Executive Officer (CEO) Grab Indonesia atau sebelumnya, jabatan ini disebut sebagai Country Managing Director Grab untuk wilayah Indonesia, sejak Februari 2019.   

Neneng membawa pengalaman panjangnya sebagai seorang profesional untuk mengelola bisnis dan memberdayakan jutaan mitra pengemudi di ekosistem digital Grab tersebut.

Neneng bercerita, capaian yang telah dipetiknya saat ini merupakan hasil dari sebuah keteladanan yang sudah dipelajarinya sejak masih kecil.  Neneng mengaku mendapatkan keteladanan dari ayahnya yang berprofesi menjadi dokter militer, yang waktu itu bertugas di Rumah Sakit Dustira, Cimahi.

Ia kerap diajak menemani ayahnya untuk bekerja. Jadi, ia dapat menyaksikan langsung ketika sang ayah melayani pasien dengan sepenuh hati. Dari sanalah cita-cita masa masa kecilnya tumbuh.

"Saya merasakan energi positif dari ayah yang dengan sepenuh hati melayani pasien. Pengalaman ini menumbuhkan semangat untuk memberi dampak positif bagi sesama dan membuat saya ingin menjadi dokter mengikut jejak Ayah,” kenangnya.

Nilai-nilai keluarga menjadi fondasi kuat dalam membentuk karakter Neneng. Ia tumbuh dalam keluarga yang hangat dan dekat, dengan kebiasaan sederhana seperti makan bersama setiap hari.

Kedekatan dengan sang ayah mengajarkannya tentang integritas dan kepemimpinan, yakni reputasi dibangun dari konsistensi antara perkataan dan perbuatan, sementara kepercayaan adalah aset paling berharga dalam setiap hubungan.

Orang tuanya juga menanamkan keseimbangan antara tanggung jawab dan kebebasan. Mereka tak menuntut anak-anaknya menjadi juara, namun selalu menekankan pentingnya memberi usaha terbaik.

Dua pesan sederhana yang paling diingat Neneng adalah soal kesetaraan dan kerendahan hati, memperlakukan semua orang dengan sama, dan tidak merasa lebih tinggi dari orang lain.

Neneng adalah seorang Sarjana Teknik Sipil dari Universitas Katolik Parahyangan, Bandung. Jurusan itu merupakan pilihan sang ayah. Meski demikian, ia menikmati perkuliahan hingga selesai.

Kendati banyak pengalaman yang diperolehnya dari jurusan akademik, namun Neneng bilang, bidang studi itu menyulitkannya untuk masuk bidang perbankan,  yang diidamkannya.

Tapi, dulu, ia tak patah semangat dan terus mencari peluang baru yang membawanya melanjutkan studi Magister Business Administration (MBA) di Cleveland State University, Amerika Serikat, dengan konsentrasi keuangan.

Selepas lulus, Neneng terjun ke dunia konsultan bisnis, bidang yang kemudian membentuk arah kariernya hingga kini.  "Dengan latar belakang teknik (Sipil) dan strategi bisnis (Finance) dengan gelar MBA, saya memilih untuk merintis jalur di dunia konsultan bisnis, yang kemudian membentuk perjalanan karier saya hingga saat ini," kata Neneng.

Menurut Neneng, perjalanan hidup tidak harus berjalan lurus. Setiap pengalaman dan tantangan, baginya adalah pelajaran berharga yang perlu diserap dan dijadikan bekal untuk melangkah ke masa depan.

Perempuan kelahiran Bandung, 27 Desember 1963 tersebut memulai langkah profesionalnya di Accenture, perusahaan konsultan global. Perusahaan itulah yang menjadi tempat karier pertamanya, selama lebih dari 20 tahun.

Neneng menduduki berbagai posisi strategis, antara lain Resources Industry Lead, ASEAN Management Consulting Lead, ASEAN Human Capital and Diversity Lead, hingga akhirnya dipercaya sebagai Country Managing Director Accenture Indonesia sejak 2013-2019.

Memimpin dengan hati

Pengalaman panjang di dunia konsultan mengasah kemampuan berpikir strategis, memecahkan masalah, dan memimpin tim lintas industri.

"Sejak hari pertama saya memulai karier di dunia konsultan bisnis, saya selalu berusaha memberikan yang terbaik tanpa memandang besar atau kecilnya tugas, dan saya tidak pernah memilih-milih pekerjaan," tuturnya.

Bagi Neneng, karier adalah perjalanan panjang yang menuntut semangat belajar tanpa henti. Ia menyebutnya knowledge marathon, bukanlah sprint

"Lingkungan kerja ideal harus menjadi ekosistem yang menumbuhkan rasa ingin tahu, memberikan akses ke berbagai project dan challenges baru untuk memperluas wawasan dan mempertajam keahlian," ujarnya.

Nilai yang selalu ia pegang dalam memilih tempat bekerja adalah, keselarasan antara misi dan etika perusahaan. Prinsip itu pula yang membawa Neneng ke Grab Indonesia, tempat ia kini menahkodai transformasi digital dan sosial di skala nasional.

Kesan pertama Neneng terhadap Grab adalah, kekaguman atas skala operasi dan potensi besar di kawasan Asia Tenggara.  Tantangannya adalah mengelola ekosistem yang melibatkan jutaan mitra pengemudi, merchant, dan pengguna di negara seluas Indonesia, dengan lebih dari 500 kota dengan keberagaman budaya.

Namun di balik kompleksitas itu, Neneng melihat peluang besar, yakni menjadikan Grab sebagai katalisator transformasi ekonomi digital di kawasan ini. Menurut Neneng, sejatinya Grab bukan hanya perusahaan teknologi, tetapi juga entitas yang beroperasi dengan prinsip Triple Bottom Line, menyeimbangkan kepentingan ekonomi, sosial, dan lingkungan.

"Bekerja di perusahaan dengan nilai yang selaras dengan prinsip hidup saya adalah sebuah berkah," katanya.

Transisi dari dunia konsultansi ke posisi eksekutif operasional juga membuka perspektif baru baginya. Jika di dunia konsultan ia memberi rekomendasi, maka di Grab ia melihat langsung dampak nyata dari keputusan yang diambilnya.

"Melihat perubahan langsung yang dirasakan jutaan mitra dan pengguna menjadi sumber motivasi yang luar biasa," ujarnya.

Sebagai pemimpin, Neneng dikenal dengan pendekatan yang empatik, terbuka, dan berorientasi pada manusia.

Ia menyebut, gaya kepemimpinannya adalah memimpin dengan hati, mendengarkan, serta memastikan setiap anggota tim merasa dihargai dan dilibatkan.

"Saya ingin tim merasa seperti satu keluarga besar. Saya tidak ingin karyawan di perusahaan hanya melihat saya sebagai atasan, tetapi juga sebagai tempat berdiskusi dan bertumbuh,” ujar Neneng.     

Selanjutnya: Rupiah dalam Sepekan Tertekan Data Ekonomi

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Mengintip Praktik Riset Saham Pesanan, Cara Emiten Mempercantik Diri dengan Bayaran
| Selasa, 27 Januari 2026 | 19:17 WIB

Mengintip Praktik Riset Saham Pesanan, Cara Emiten Mempercantik Diri dengan Bayaran

Emiten yang meminta "jasa poles" lewat riset sekuritas biasanya sedang bersiap melakukan aksi korporasi, seperti penjualan saham atau akuisisi.

Cabut Izin Tambang Tak Pernah Cukup Menyelamatkan Lingkungan
| Selasa, 27 Januari 2026 | 18:00 WIB

Cabut Izin Tambang Tak Pernah Cukup Menyelamatkan Lingkungan

Agincourt Resources mendapat penghargaan PROPER 2024 Peringkat Hijau dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH).

Temuan Minyak di Selat Malaka Jadi Katalis Baru ENRG, Ini Prospek ke Depan
| Selasa, 27 Januari 2026 | 17:52 WIB

Temuan Minyak di Selat Malaka Jadi Katalis Baru ENRG, Ini Prospek ke Depan

Melalui anak usahanya, ENRG melaporkan berhasil menemukan minyak dari salah satu sumur eksplorasi terbarunya di wilayah kerja Malacca Strait Riau.

Rumor DOGE Tembus US$ 3,66, Antara Hype dan Realita Pasar
| Selasa, 27 Januari 2026 | 17:23 WIB

Rumor DOGE Tembus US$ 3,66, Antara Hype dan Realita Pasar

Lonjakan ekstrem memang bukan hal baru bagi dogecoin (DOGE), sebab pada periode Juli 2020–Mei 2021, DOGE pernah melonjak lebih dari 30.000%.

BREN Masuk di LQ45 dan IDX80, Ini Daftar Saham-Saham Indeks Terbaru Mulai 2 Februari
| Selasa, 27 Januari 2026 | 15:15 WIB

BREN Masuk di LQ45 dan IDX80, Ini Daftar Saham-Saham Indeks Terbaru Mulai 2 Februari

BREN resmi masuk LQ45 mulai 2 Februari 2026, berpotensi buat IHSG dan LQ45 lebih sejalan. Cari tahu bagaimana dampaknya pada investasi Anda.

Didepak dari LQ45, Simak Prospek Saham ACES Menyambut Ramadan dan Lebaran
| Selasa, 27 Januari 2026 | 08:50 WIB

Didepak dari LQ45, Simak Prospek Saham ACES Menyambut Ramadan dan Lebaran

Manajemen PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES) menargetkan penambahan toko baru secara bertahap dengan pendekatan yang lebih terukur.

Investasi Danantara Diklaim Memberikan Tenaga Tambahan Kepada Janu Putra (AYAM)
| Selasa, 27 Januari 2026 | 08:36 WIB

Investasi Danantara Diklaim Memberikan Tenaga Tambahan Kepada Janu Putra (AYAM)

Sebagai emiten berkapitalisasi menengah, dampak pertumbuhan kinerja terhadap harga saham AYAM akan jauh lebih eksplosif.

Tren Saham DEWA Turun, Perlu Pembuktian Kinerja Agar bisa Berbalik Arah
| Selasa, 27 Januari 2026 | 08:21 WIB

Tren Saham DEWA Turun, Perlu Pembuktian Kinerja Agar bisa Berbalik Arah

Pergerakan harga saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA) belum mencerminkan akumulasi institusional yang solid.

Pergerakan Saham ULTJ Terdongkrak MBG, Resistance Krusial Belum Berhasil Dijebol
| Selasa, 27 Januari 2026 | 08:10 WIB

Pergerakan Saham ULTJ Terdongkrak MBG, Resistance Krusial Belum Berhasil Dijebol

Penambahan lini produksi baru telah masuk dalam rencana Ultrajaya (ULTJ) dan dijadwalkan mulai direalisasikan pada Maret 2026.

Saham BUMI Merosot Lagi, Investor Harap-Harap Cemas Menanti Kepastian MSCI
| Selasa, 27 Januari 2026 | 07:39 WIB

Saham BUMI Merosot Lagi, Investor Harap-Harap Cemas Menanti Kepastian MSCI

Jika PT Bumi Resources Tbk (BUMI) gagal masuk ke indeks MSCI, koreksi harga saham bisa semakin dalam.

INDEKS BERITA

Terpopuler