Berita Intelligence Industries

Persaingan di industri telekomunikasi Asia Pasifik bakal semakin sengit

Kamis, 08 November 2018 | 07:30 WIB

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri telekomunikasi di Asia Pasifik pada tahun depan akan menghadapi persaingan yang semakin sengit. Meski volume data tumbuh semakin kuat, persaingan tarif yang semakin ketat akan mengakibatkan pertumbuhan profit operator telekomunikasi naik tipis.

Lembaga pemeringkat Fitch Ratings, dalam laporannya bertajuk "Fitch 2019 Outlook: Telecoms / Asia-Pacific" yang baru saja dirilis, memperkirakan, belanja modal operator telekomunikasi tetap tinggi untuk memenuhi tuntutan layanan data.

Menurut Fitch, perusahaan telekomunikasi perlu mengelola kekuatan neraca keuangan dalam dua tahun ke depan menjelang siklus investasi 5G. Bagi sebagian besar operator, Fitch memperkirakan, arus kas bebas pada 2019 akan netral atau sedikit mengalami defisit. Karena itu, ruang peringkat sebagian operator telah melemah menghadapi beberapa tekanan tersebut.

Laporan lembaga pemeringkat Moody's Investors Service tak jauh berbeda dengan hasil riset Fitch. Oktober lalu, Moody's menerbitkan laporan mengenai propek industri telekomunikasi di Asia Pasifik bertajuk "Telecommunications - APAC: 2019 Outlook."

Dalam laporan tersebut, Moody's menyebutkan, persaingan di sektor telekomunikasi di Asia Pasifik pada 2019 akan semakin kuat. Kehadiran pendatang baru akan memacu intensitas kompetisi di Singapura, Jepang, dan Australia.

Menurut Moody's, teknologi 4G untuk sementara akan tetap menjadi teknologi dominan yang digunakan oleh perusahaan telekomunikasi di Asia Pasifik. Namun, pada 2019-2010, teknologi 5G akan mulai memiliki daya tarik. Moody's memperkirakan, beberapa negara seperti Jepang, Korea, dan Australia akan memimpin industri telekomunikasi di Asia Pasifik dalam meluncurkan layanan 5G.

Menurut Fitch, investasi teknologi 5G di kawasan Asia Pasifik masih akan selektif. Singapura dan Korea Selatan akan menjadi negara penggerak awal tekonologi 5G pada semester II 2019 atau kemungkinan pada 2020. Karena itu, intensitas belanja modal akan cenderung stagnan sebesar 23% terhadap pendapatan yang berpuncak pada arus kas bebas yang sedikit negatif.

Industri telekomunikasi di India dan Filipina, yang menempati peringkat tertinggi dalam rata-rata belanja modal di portofolio Fitch, diperkirakan akan mengalokasikan belanja modal sekitar 35%-40% terhadap pendapatan.

Moodys juga memperkirakan, tingkat dividen dan tingkat belanja modal yang tinggi akan terus menekan pembentukan arus kas bebas. Akibatnya, perusahaan akan mencari diversifikasi pendapatan sebagai yang menarah ke lebih banyak kemitraan lintas industri.

Menurut Moody's, pertumbuhan pendapatan industri telekomunikasi di 11 pasar di Asia Pasifik akan melambat. Kesebelas pasar itu mencakup Australia, Bangladesh, China, Hong Kong, India, Indonesia, Jepang, Korea, Malaysia, Filipina, dan Singapura.

Perlambatan pertumbuhan pendapatan yang paling menonjol terjadi di pasar negara berkembang. Di negara-negara tersebut, pertumbuhan pendapatan pada 2019 akan melambat menjadi 3%-3,5%. Di 2018 lalu, pendapatan di industri telekomunikasi negara berkembang masih tumbuh 3,9%.

Di seluruh Asia Pasifik, Moody's memperkirakan, pendapatan perusahaan telekomunikasi akan tumbuh moderat di kisaran 2%-2,2%. Pertumbuhan tersebut lebih rendah dibandingkan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) yang rata-rata mencapai 4,6%.

Moody's memperirakan, prospek sektor telekomunikasi di Asia Pasifik tetap stabil hingga 2019. Perusahaan telekomunikasi di 11 negara di Asia Pasifik menunjukan tingkat utang yang relatif stabil selama 12 bulan hingga 18 bulan ke depan. Meski melemah, likuiditas perusahaan tetap didukung oleh akses perusahaan ke perbankan dan pasar obligasi.

Fitch mengamini, prospek industri telekomunikasi di Asia Pasifik pada 2019 tetap stabil. Ini mencerminkan perkiraan Fitch terhadap manajemen belanja modal dan kebijakan dividen perusahaan.

Meski begitu, menurut Fitch, prospek pertumbuhan di masa mendatang tetap akan menantang. Fitch memperkirakan, EBITDA  perusahaan telokomunikasi di Asia Pasifik akan tumbuh sebesar 3%-4% pada 2019 karena pasar yang cukup tertekan.

Industri telekomunikasi di India dan Indonesia, Fitch memperkirakan, akan berbalik arah setalah EBITDA mengalami kontraksi pada 2018. Tarif data di pasar tersebut kemungkian semakin terbatas untuk menurun lebih jauh. Persaingan juga harus mulai menurun sehingga mengangkat pendapatan rata-rata per pengguna (ARPU) dan pendapatan keseluruhan.

Di antara berbagai isu di sektor telekomunikasi, Fitch menyarankan agar investor mencermati tiga isu berikut ini. Pertama, langkah perusahaan mendorong bisnis ke arah layanan 5G akan mengakibatkan intensitas belanja modal untuk beberapa tahun ke depan.

Kedua, pendatang baru di Singapura dan Filipina akan mempertajam persaingan. Ketiga, disrupsi pasar yang dilakukan Reliance Jio di Inda akan terus mempertajam persaingan dan menentukan kekuatan kredit petahana.

 

 


Reporter: Herry Prasetyo
Editor:

IHSG
6.200,68
0.88%
-54,92
LQ45
963,37
1.22%
-11,88
USD/IDR
14.249
0,11
EMAS
774.000
3,06%

Berita Terbaru Intelligence Industries

Baca juga