Pertumbuhan vs Inflasi

Rabu, 04 Februari 2026 | 06:14 WIB
Pertumbuhan vs Inflasi
[ILUSTRASI. TAJUK - Syamsul Ashar (KONTAN/Indra Surya)]
Syamsul Ashar | Managing Editor

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Awal 2026 seharusnya menjadi fase kebangkitan ekonomi setelah 2025 yang penuh tekanan. Aktivitas manufaktur mulai menggeliat. PMI Manufaktur menembus zona ekspansif, menandakan produksi dan permintaan naik.

Optimisme ini langsung berhadapan dengan kenyataan pahit: tekanan harga yang menguat. Data Badan Pusat Statistik (BPS) inflasi tahunan per Januari 2026 mencapai 3,55%, tertinggi sejak pertengahan 2023 dan di atas target Bank Indonesia. 

Penjelasan resmi kerap mengaitkan lonjakan ini dengan low base effect akibat diskon tarif listrik tahun lalu. Bagi kelas menengah, argumen teknis itu tak relevan. Yang terasa nyata adalah harga kebutuhan rumah tangga dan biaya hidup yang naik, perlahan tetapi konsisten, menggerus daya beli.

Di sinilah paradoks ekonomi bekerja. Sektor manufaktur bangkit justru saat inflasi menguat. Geliat pabrik seharusnya menjadi kabar baik, tetapi berubah problematik ketika kenaikan produksi dibarengi lonjakan biaya bahan baku, energi, dan logistik. Pelemahan Rupiah terhadap dolar AS memperparah tekanan tersebut. Produsen pun dihadapkan pada dilema klasik: menekan margin atau menaikkan harga jual. Dalam banyak kasus, beban akhirnya dialihkan ke konsumen.

Inflasi awal 2026 juga menandakan bahwa tekanan harga bukan sekadar musiman. Struktur biaya produksi yang rapuh membuat industri mudah terpukul oleh guncangan eksternal. Ketika inflasi menembus 3,5%, dampaknya langsung terasa: konsumsi melemah, tabungan tergerus, dan pemulihan ekonomi menjadi timpang. Tekanan di pasar keuangan—Rupiah yang rapuh dan IHSG yang masih dilanda arus keluar modal asing—menambah kerumitan situasi.

Masalahnya, respons kebijakan masih terlalu berfokus ke stabilisasi angka, bukan stabilisasi kehidupan nyata. Inflasi tidak bisa dijinakkan dengan narasi statistik atau janji tekanan harga akan mereda. Koordinasi kebijakan moneter dan fiskal yang berjalan sendiri-sendiri memperlebar jarak antara pertumbuhan produksi dan kestabilan harga.

Ini bukan semata soal PMI di atas 50 atau inflasi yang terkendali. Ini soal kepercayaan masyarakat bahwa pendapatan dan daya beli mereka aman. Tanpa kendali harga yang nyata, setiap kabar baik sektor manufaktur berisiko berubah menjadi ironi. Indonesia memasuki 2026 bukan hanya untuk bertahan, melainkan untuk memastikan pertumbuhan berjalan seiring dengan stabilitas harga dan kesejahteraan rakyat.

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terkait

Berita Terbaru

Yield Global Tinggi Bikin Waswas, Bentengi Portofolio Investasi
| Selasa, 13 Oktober 2026 | 15:30 WIB

Yield Global Tinggi Bikin Waswas, Bentengi Portofolio Investasi

Kenaikan yield global, harga minyak dan risiko bubble saham AI, bikin pasar investasi kian penuh ketidakpastian. Bagaimana investor menyikapi?

Jurus Hadapi Kesalahan Finansial Anak
| Selasa, 13 Oktober 2026 | 14:37 WIB

Jurus Hadapi Kesalahan Finansial Anak

Simak langkah yang bisa orangtua lakukan saat anak melakukan kesalahan keuangan.                     

Kepercayaan Pasar Belum Pulih, IPO di BEI Masih Sepi
| Selasa, 13 Oktober 2026 | 09:33 WIB

Kepercayaan Pasar Belum Pulih, IPO di BEI Masih Sepi

Sejak awal tahun hingga 12 Oktober 2026, baru ada tujuh emiten melantai di BEI, dengan total dana yang dihimpun Rp 2,16 triliun. 

Saham Big Caps Anjlok, Kinerja IHSG Semakin Jeblok
| Selasa, 13 Oktober 2026 | 09:28 WIB

Saham Big Caps Anjlok, Kinerja IHSG Semakin Jeblok

Saham-saham big caps rontok pada perdagangan Senin (12/10) akibat rumor sanksi OJK terhadap sejumlah emiten.

 

ASII Tender Sukarela Saham AUTO Pada Harga Rp 3.600
| Selasa, 13 Oktober 2026 | 09:12 WIB

ASII Tender Sukarela Saham AUTO Pada Harga Rp 3.600

Dalam penawaran ini, PT Astra International Tbk (ASII) berencana membeli saham PT Astra Otoparts Tbk (AUTO) paling banyak 238.442.293 lembar.

CSRA Tebar Dividen Interim Hingga Rp 30,75 Miliar
| Selasa, 13 Oktober 2026 | 09:04 WIB

CSRA Tebar Dividen Interim Hingga Rp 30,75 Miliar

 PT Cisadane Sawit Raya Tbk (CSRA) membagikan dividen interim sebesar Rp 30,75 miliar dari buku tahun 2026.

Prospek Saham MTEL: Peluang dari 5G, FWA, Fiber Optik, dan Konsolidasi Menara
| Selasa, 13 Oktober 2026 | 08:19 WIB

Prospek Saham MTEL: Peluang dari 5G, FWA, Fiber Optik, dan Konsolidasi Menara

Sekitar separuh menara PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) telah terhubung dengan jaringan serat optik. 

Martina Berto (MBTO) Bidik Pertumbuhan Penjualan 24%
| Selasa, 13 Oktober 2026 | 07:53 WIB

Martina Berto (MBTO) Bidik Pertumbuhan Penjualan 24%

Bisnis jasa manufaktur atau maklon untuk industri kosmetik turut menambah pundi-pundi PT Martina Berto Tbk (MBTO). 

Rumor Temuan Manipulasi Harga Pengaruhi MSCI & FTSE, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini
| Selasa, 13 Oktober 2026 | 07:51 WIB

Rumor Temuan Manipulasi Harga Pengaruhi MSCI & FTSE, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

Yang ditakutkan pasar, temuan manipulasi bisa memengaruhi perlakuan MSCI dan FTSE tepat menjelang keputusan November mendatang.

Produksi CPO Cisadane Sawit Raya (CSRA) Ditopang Tiga Pabrik
| Selasa, 13 Oktober 2026 | 07:45 WIB

Produksi CPO Cisadane Sawit Raya (CSRA) Ditopang Tiga Pabrik

PT Cisadane Sawit Raya Tbk (CSRA) membidik volume produksi minyak sawit mentah tumbuh 31% di sepanjang tahun ini

INDEKS BERITA

Terpopuler