Pesona Saham Bank Kian Terbang

Senin, 17 Juli 2023 | 05:15 WIB
Pesona Saham Bank Kian Terbang
[]
Reporter: Nur Qolbi | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saham-saham sektor perbankan sepertinya memiliki prospek cerah pada semester II tahun 2023. Katalis positif bagi emiten perbankan berasal dari pemulihan ekonomi dan tahun politik, yang akan meningkatkan potensi penyaluran kredit. 

Restrukturisasi utang emiten konstruksi BUMN karya yang belakangan ini menjadi sorotan, ternyata memiliki porsi yang cukup kecil dalam portofolio kredit emiten bank besar. "Jadi, potensinya tidak akan signifikan untuk emiten bank besar. Namun, akan lebih tinggi risikonya untuk bank medium dan bank kecil," kata Analis BCA Sekuritas, Achmad Yaki, Minggu (16/7).

Kepala Riset Samuel Sekuritas, Prasetya Gunadi dalam riset 4 Juli 2023 mencatat, dalam coverage, bank membukukan penyaluran kredit gabungan sebesar Rp 3,9 triliun hingga Mei 2023. Jumlah itu naik 2,1% dibanding bulan sebelumnya dan tumbuh 9,2% secara tahunan. 

Baca Juga: Bank Central Asia (BBCA) Menjadi Merek Paling Bernilai di Asia Tenggara

Likuiditas perbankan cukup melimpah dengan loan to deposit ratio (LDR) gabungan sebesar 82,3% pada Mei 2023. Angka ini meningkat dari 81,2% pada April 2023 dan 80,9% pada Mei 2022. 

"Likuiditas tersebut didukung oleh dana simpanan yang mencapai Rp 4,8 triliun, naik 0,7% dibanding bulan sebelumnya dan naik 7,3% secara tahunan," kata Prasetya. 

Sejalan dengan itu, laba bersih bank-bank dalam pantauan Samuel Sekuritas meningkat 17,5%  secara tahunan atau year on year (yoy) menjadi Rp 71,5 triliun per Mei 2023. Pertumbuhan laba bersih tersebut terutama didorong penurunan biaya provisi 10,3% jadi Rp 26,4 triliun. 

Secara kumulatif, PT CIMB Niaga Tbk (BNGA) mencatat pertumbuhan laba bersih tertinggi, yakni 36,3% yoy pada Januari-Mei 2023. Disusul oleh PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) 34,7%, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) 18,8%, 

PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) 15,1%, PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) 8,1%, dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) 5,1%.

Baca Juga: Punya Prospek Cerah di Semester II-2023, Simak Rekomendasi Saham Sektor Perbankan

Rerata pendapatan bunga bersih alias net interest income (NII) masih naik 1,9% yoy, sedangkan net interest margin (NIM) flat di 5,06%. Prasetya meyakini bank besar dalam coverage-nya dapat menyerap potensi risiko kenaikan non-performing loan (NPL) dan membukukan pertumbuhan NIM pada 2023. 

Pilihan saham

Potensi pertumbuhan NIM di tengah tren bunga tinggi dapat membuka jalan untuk pertumbuhan pendapatan 12,4% secara yoy pada 2023. 

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Handiman Soetoyo dalam riset 12 Juli 2023 menambahkan, laporan keuangan semester I-2023 bank akan mulai dirilis dua - tiga minggu ke depan. 

Menurut dia, kinerja Bank Central Asia Tbk (BBCA) dapat mengesankan pasar karena pertumbuhan profitabilitas yang luar biasa didorong ekspansi NIM kenaikan pendapatan non-bunga dan cost of credit (CoC) lebih rendah.  

Sementara kinerja BMRI akan mengekor dengan NIM relatif sama, tetapi lebih kecil karena manajemen CoF yang lebih lemah dan peningkatan kualitas aset relatif rendah. 

Baca Juga: Daya Beli Masyarakat Masih Perlu Dijaga

BBRI diperkirakan dari sisi kinerja juga naik. Anak usaha BBRI, yakni Permodalan Nasional Madani (PNM) dan Pegadaian menjadi pendongkrak laba bersih induknya, sehingga menghasilkan hasil yang memuaskan.  

Sementara BBNI, menurut Handiman, kinerjanya akan positif lantaran imbal hasil pinjaman mulai membaik secara bertahap karena bank memfokuskan pertumbuhannya segmen korporasi.

Handiman merekomendasikan overweight saham sektor perbankan dengan tetap mempertahankan pilihan pada saham BBCA dan BMRI. 

Prasetya juga masih menyukai bank besar daripada bank kecil. "Pasalnya, bank-bank besar diperkirakan akan terus memimpin pertumbuhan kredit dan menikmati biaya dana yang lebih rendah di tengah makin ketatnya likuiditas," tulis dia. 

Prasetya menyarankan BBNI dan BBRI menjadi saham pilihan. BBNI telah melakukan pembenahan internal yang membantu meningkatkan kualitas aset. 

Sementara itu, BBRI dipilih karena berpotensi membukukan pertumbuhan kredit dua digit pada 2023. Didukung oleh program Kupedes yang akan mendongkrak NIM meskipun ada potensi tekanan biaya dana. 

Yaki juga memilih saham bank-bank besar, yakni BBCA, BBNI, BBRI, dan BMRI. Alasannya, rata-rata pertumbuhan harga saham bank-bank ini ditambah dividen per saham per tahun setara dua kali bunga deposito.    

Baca Juga: Investor Domestik Merajai Pasar Saham, IHSG Masih Lesu

Simak ulasan dan rekomendasi emiten perbankan sebagai berikut:     

Bank Central Asia (BBCA) 
BBCA diuntungkan dari kenaikan bunga karena eksposur besar di segmen korporasi, hingga otomatis menikmati kenaikan imbal hasil pinjaman. BBCA mengesankan pasar karena pertumbuhan profitabilitas didorong ekspansi NIM, pendapatan non-bunga dan cost of credit (CoC) rendah.
Rekomendasi: Trading buy 
Target harga: Rp 10.100
Handiman Soetoyo, Mirae Asset Sekuritas

Bank Mandiri (BMRI)
Saham BMRI menarik karena emiten itu memiliki return on average equity sebesar 19,6%. BMRI juga memiliki kebijakan pembayaran dividen yang layak. BMRI membayar dividen kurang lebih 60% dari laba bersih. Manajemen dari BMRI juga memiliki manajemen risiko yang baik. 
Rekomendasi: Buy 
Target harga: Rp 6.000
Eka Savitri, BRI Danareksa Sekuritas

Baca Juga: Ekspektasi Masyarakat Terhadap Kondisi Ekonomi Indonesia Menurun

Bank Rakyat Indonesia (BBRI)
BBRI membukukan pertumbuhan kredit dua digit pada 2023 didukung program Kupedes. Hal ini mendongkrak NIM, meskipun ada potensi tekanan dari biaya dana anak usaha BBRI, yakni Permodalan Nasional Madani (PNM). Pegadaian juga akan mendorong laba bersih BBRI. 
Rekomendasi: Buy 
Target harga: Rp 6.200
Achmad Yaki, BCA Sekuritas

Bank Negara Indonesia (BBNI)
BBNI telah membenahi kondisi internal dan berhasil meningkatkan kualitas aset. Alhasil, valuasi BBNI dengan pesaing terdekatnya, yakni BMRI, makin menyempit. BBNI kemungkinan melihat perbaikan imbal hasil pinjaman secara bertahap karena fokus pertumbuhan di segmen korporasi.
Rekomendasi: Buy 
Target harga: Rp 12.700
Prasetya Gunadi, Samuel Sekuritas

Baca Juga: Pengendali dan Investor Kakap Lepas, Saham-Saham Ini Bergerak Fluktuatif

Bagikan

Berita Terkait

Berita Terbaru

Simak Pilihan Saham Sektor Infrastruktur Di Tengah Tekanan Suku Bunga Tinggi
| Rabu, 26 Agustus 2026 | 08:24 WIB

Simak Pilihan Saham Sektor Infrastruktur Di Tengah Tekanan Suku Bunga Tinggi

 Terdapat beberapa emiten sektor infrastruktur dengan pendapatan berulang dan fundamental defensif yang dapat dicermati.

Bisnis Nikel Menopang Kinerja Laba Harum Energy
| Rabu, 26 Agustus 2026 | 08:19 WIB

Bisnis Nikel Menopang Kinerja Laba Harum Energy

Bisnis nikel semakin kuat menopang pendapatan PT Harum Energy Tbk (HRUM). HRUM pun berpeluang melanjutkan tren positif pertumbuhan kinerja insi

Perusahaan Manufaktur Kesehatan Milik UGM Siap IPO, Cermati Prospek dan Valuasinya
| Rabu, 26 Agustus 2026 | 08:17 WIB

Perusahaan Manufaktur Kesehatan Milik UGM Siap IPO, Cermati Prospek dan Valuasinya

PT Swayasa Prakarsa Tbk (SWAP) membidik dana initial public offering (IPO) sebanyak-banyaknya Rp 45,22 miliar.

IHSG Rabu (26/8) Berpeluang Sideways
| Rabu, 26 Agustus 2026 | 08:13 WIB

IHSG Rabu (26/8) Berpeluang Sideways

IHSG masih bertahan di atas moving average (MA) 100. Histogram MACD juga masih berada di area positif, 

Menadah Cuan Saham Lapis Dua
| Rabu, 26 Agustus 2026 | 08:09 WIB

Menadah Cuan Saham Lapis Dua

Prospek saham-saham lapis kedua (second liner) diperkirakan tetap menjanjikan, di tengah sentimen tinjauan indeks FTSE 

GOTO Ramai Ditransaksikan Jelang Efektif Rebalancing MSCI, Mayoritas di Bawah Rp 50
| Rabu, 26 Agustus 2026 | 08:07 WIB

GOTO Ramai Ditransaksikan Jelang Efektif Rebalancing MSCI, Mayoritas di Bawah Rp 50

Risiko panic selling saham GOTO terbuka jika BEI melepas batas bawah harga saham papan utama, pengembangan dan papan ekonomi baru di Rp 50.

Menakar Prospek Saham Grup Adaro ADRO, ADMR dan AADI di Tengah Transformasi Bisnis
| Rabu, 26 Agustus 2026 | 07:42 WIB

Menakar Prospek Saham Grup Adaro ADRO, ADMR dan AADI di Tengah Transformasi Bisnis

Operasional smelter aluminium menandai sumber pendapatan baru bagi bisnis Grup Adaro sekaligus memperkuat narasi transformasi bisnis.

Mangkir Bayar Utang, Pefindo Memangkas Peringkat ADHI Menjadi idCCC
| Rabu, 26 Agustus 2026 | 07:39 WIB

Mangkir Bayar Utang, Pefindo Memangkas Peringkat ADHI Menjadi idCCC

Kami dapat meninjau kembali peringkat apabila ADHI mampu mengatasi permasalahan terkait kewajiban utang yang jatuh tempo tersebut. 

Dampak Sanksi AS Terkait Iran pada Rupiah di Rabu (26/8)
| Rabu, 26 Agustus 2026 | 07:00 WIB

Dampak Sanksi AS Terkait Iran pada Rupiah di Rabu (26/8)

Mengutip data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup di level Rp 17.723 per dolar AS, melemah 0,03% dibandingkan posisi penutupan Senin (24/8). 

Pendanaan Bank Pembangunan Daerah Tengah Menghadapi Tantangan
| Rabu, 26 Agustus 2026 | 07:00 WIB

Pendanaan Bank Pembangunan Daerah Tengah Menghadapi Tantangan

DPK BPD per Juni 2026 tercatat mengalami kontraksi secara tahunan meski hampir separuh dana belanja Pemda masih belum terserap.

INDEKS BERITA

Terpopuler