Prospek Indofood Sukses Makmur (INDF) Ditopang dari Segmen Agribisnis

Rabu, 19 Januari 2022 | 04:00 WIB
Prospek Indofood Sukses Makmur (INDF) Ditopang dari Segmen Agribisnis
[]
Reporter: Avanty Nurdiana, Nur Qolbi | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dinilai masih moncer di tahun ini. Pasalnya, INDF memiliki anak usaha yang mendapat keuntungan langsung dari kenaikan harga komoditas.

Analis Pilarmas Investindo Sekuritas Okie Ardiastama mengatakan, kenaikan harga crude palm oil (CPO) dan kekuatan pasar domestik menjadi kontributor pendapatan INDF. Sepanjang sembilan bulan pertama di 2021, kontribusi pendapatan sektor perkebunan juga menjadi salah satu penopang pertumbuhan kinerja Indofood. 

Analis BRI Danareksa Sekuritas Natalia Sutanto dalam risetnya menuliskan, lini bisnis perkebunan membukukan pertumbuhan pendapatan tertinggi, yakni 36% secara year on year (yoy) menjadi Rp 11,75 triliun. 

indfBaca Juga: Ini Rekomendasi Saham yang Bisa Dilirik Saat IHSG Diramal Melemah pada Selasa (18/1)

Secara total, kontribusi lini agribisnis masih sebesar 16,37% dari total pendapatan sembilan bulan pertama 2021, sebesar Rp 72,81 triliun. "Kenaikan tersebut ditopang dari kenaikan harga jual CPO, sedang volume penjualan cenderung stagnan," ujar Natalia. 

Harga jual rata-rata CPO dan palm kernel menurut Natalia masing-masing naik 31% secara yoy dan 60% secara yoy. "Padahal volume penjualan sawit turun 2%," jelas dia. 

Lini bisnis INDF yang lain juga sukses mencetak kenaikan pendapatan. Pendapatan anak usaha INDF, yakni PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), misalnya, naik 26%. Pendapatan Bogasari naik 14%. Sedangkan pendapatan divisi distribusi tumbuh 13% secara yoy. 

Menurut Natalia, sepanjang tahun lalu, INDF juga berhasil membukukan kenaikan margin operasional dari 13,9% menjadi 16,6%. Kenaikan margin terbesar terjadi di divisi agribisnis, menjadi 13,6% dari semula 7,1%. 

ICBP juga berhasil telah menaikkan harga jual mi instan di awal tahun lalu. Alhasil, emiten ini sukses mencatatkan kenaikan margin operasional dari 18,4% menjadi 20,5%. Natalia menyebut, penurunan margin EBIT terjadi pada Bogasari, yakni dari sebelumnya 8,9% menjadi 6,5%. Ini karena kenaikan harga gandum lebih tinggi yakni naik 26% secara yoy. 

Proyeksi kinerja

Muhammad Fariz Analis Ciptadana Sekuritas menyoroti biaya bunga juga lebih tinggi akibat akuisisi Pinehill, naik 94%. Karena itu, Fariz menuliskan dalam risetnya, faktor risiko terbesar dari INDF adalah daya beli yang rendah dan pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah. 

Baca Juga: Menyongsong Musim Dividen, Simak Rekomendasi Saham Pilihan Mirae Asset Sekuritas

Dua faktor tersebut bisa mengakibatkan penurunan volume penjualan produk INDF. Maklum, perusahaan ini masih membutuhkan dana besar untuk membiayai akuisisi Pinehill. 

Sepanjang tahun lalu, Fariz memperkirakan INDF bisa membukukan pendapatan Rp 82,96 triliun dengan laba bersih Rp 5,98 triliun. Sedangkan pada tahun ini, INDF diperkirakan bisa mengantongi pendapatan sebesar Rp 86,69 triliun dengan laba bersih Rp 6,17 triliun. 

Natalia juga merevisi naik proyeksi laba bersih INDF sebesar 9% untuk 2021 dan 7% untuk 2022. Alhasil, laba bersih INDF sepanjang 2021 diperkirakan meningkat menjadi Rp 7,22 triliun, sedangkan laba bersih 2022 tumbuh ke Rp 7,7 triliun. Kemudian, pendapatan 2021 diprediksi terkerek 22,6% yoy menjadi Rp 100,19 triliun dan pendapatan 2022 tumbuh 5,6% yoy menjadi Rp 105,8 triliun. 

"Berdasarkan analisis sensitivitas kami, INDF tidak terlalu terpengaruh oleh pergerakan harga CPO karena divisi agribisnis mengimbangi penurunan di ICBP," ucap Natalia. Namun, ia melihat akan ada dampak negatif dari harga gandum yang lebih tinggi, sehingga akan meningkatkan biaya yang berpotensi berefek ke margin. 

Analis Sinarmas Sekuritas Elvira Natalia dalam risetnya menuturkan, segmen CBP akan terus menjadi tulang punggung kinerja INDF. Sementara segmen agribisnis akan menjadi penyangga marginnya. 

Baca Juga: Rekomendasi Saham Sektor Konsumer yang Masih Menarik Untuk Dilirik

Elvira dan Natalia rekomendasi buy saham INDF dengan target harga masing- masing Rp 7.800 dan Rp 8.700 per saham. Fariz juga rekomendasi buy dengan target Rp 8.000. Saham INDF turun 0,77% ke Rp 6.425, Selasa (18/1).        

Bagikan

Berita Terbaru

Obligasi Korporasi Tertekan Bunga Tinggi, Investor Disarankan Fokus Flight to Quality
| Selasa, 03 November 2026 | 10:00 WIB

Obligasi Korporasi Tertekan Bunga Tinggi, Investor Disarankan Fokus Flight to Quality

Jika BI-Rate naik lagi, yield benchmark akan terkerek hingga membuat kupon korporasi semakin mahal dan berisiko mendemotivasi emiten.

TAPG Bagi Dividen Interim Senilai Rp 1,38 Triliun
| Selasa, 03 November 2026 | 09:32 WIB

TAPG Bagi Dividen Interim Senilai Rp 1,38 Triliun

PT Triputra Agro Lestari Tbk (TAPG) akan membagikan dividen interim Rp 1,38 triliun. Tiap pemegang saham berhak menerima dividen Rp 70 per saham

MEDC Menyebar Dividen Interim Sebesar US$ 30 Juta
| Selasa, 03 November 2026 | 09:28 WIB

MEDC Menyebar Dividen Interim Sebesar US$ 30 Juta

Keputusan pembagian dividen mendapat persetujuan direksi dan dewan komisaris pada 29 Oktober 2026. Jumlah dividen ini setara Rp 544,86 miliar.​

Tertekan Harga Bahan Baku dan Kurs, Laba Duet Emiten Grup Salim Tergerus
| Selasa, 03 November 2026 | 09:23 WIB

Tertekan Harga Bahan Baku dan Kurs, Laba Duet Emiten Grup Salim Tergerus

Kinerja PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) belum moncer di sepanjang sembilan bulan 2026

Ada Indeks Komoditas Saham Mulai Bernas
| Selasa, 03 November 2026 | 09:15 WIB

Ada Indeks Komoditas Saham Mulai Bernas

Mengawali pekan ini, mayoritas saham emiten di IDX Commodity 20 melaju. Saham komoditas Grup Bakrie dan Grup Barito menguat secara harian.

Melepas Beban HSC dari Punggung IHSG
| Selasa, 03 November 2026 | 09:05 WIB

Melepas Beban HSC dari Punggung IHSG

Pengecualian saham-saham HSC bisa mengembalikan dominasi saham blue chip di  Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Prospek Dividen UNTR 2027 di Tengah Penurunan Laba dan Arus Kas
| Selasa, 03 November 2026 | 09:00 WIB

Prospek Dividen UNTR 2027 di Tengah Penurunan Laba dan Arus Kas

Prospek harga batubara, emas, permintaan alat berat, dan kinerja kontraktor pertambangan turut memengaruhi kemampuan UNTR menghasilkan kas.

Saham BSDE Tertekan di Tengah Penurunan Laba tapi Target Marketing Sales bisa Dicapai
| Selasa, 03 November 2026 | 08:32 WIB

Saham BSDE Tertekan di Tengah Penurunan Laba tapi Target Marketing Sales bisa Dicapai

Investor yang mendekap saham BSDE tak mendapat insentif tambahan lantaran emiten Grup Sinarmas ini sudah lama absen membagikan dividen.

WBSA Mengandalkan Integrasi Multimoda
| Selasa, 03 November 2026 | 08:05 WIB

WBSA Mengandalkan Integrasi Multimoda

PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA) mengandalkan integrasi layanan multimoda dan penerapan hybrid asset model untuk menjaga pertumbuhan bisnis.

ARKO Gencar Menambah Portofolio EBT
| Selasa, 03 November 2026 | 08:01 WIB

ARKO Gencar Menambah Portofolio EBT

PT Arkora Hydro Tbk (ARKO) menargetkan produksi listrik pada 2027 tumbuh 49,4% dibandingkan proyeksi tahun ini.

INDEKS BERITA