Rating Naik, Biaya Utang Pemerintah Menurun

Rabu, 19 Juni 2019 | 09:21 WIB
Rating Naik, Biaya Utang Pemerintah Menurun
[]
Reporter: Intan Nirmala Sari | Editor: A.Herry Prasetyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Keputusan Standard & Poor's (S&P) mengerek peringkat kredit Indonesia akhir bulan lalu memberi berkah ke pasar obligasi negara. Tengok saja, lelang surat utang negara (SUN) yang digelar pemerintah laris manis.

Menurut catatan Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, dalam lelang SUN kemarin, Selasa (18/6), jumlah penawaran yang masuk dari investor mencapai Rp 54,80 triliun. Jumlah tersebut jauh lebih tinggi dari target indikatif yang ditetapkan pemerintah, yakni Rp 15 triliun, serta target maksimal Rp 30 triliun.

Penawaran yang masuk kali ini juga dua kali lipat lebih besar ketimbang penawaran yang masuk dalam lelang SUN sebelumnya. Pada lelang SUN 21 Mei lalu, sebelum S&P menaikkan rating utang Indonesia, penawaran yang masuk cuma Rp 26,20 triliun.

 

Lelang Surat Utang Negara (SUN) 18 Juni 2019 Laris Manis Diserbu Pembeli
  SPN03190919 SPN12200619 FR077 FR0078 FR0068 FR0079 FR0076
Jumlah penawaran yang masuk Rp 2,95 triliun Rp 6,31 triliun Rp 19,81 triliun Rp 13,36 triliun Rp 7,36 triliun Rp 3,29 triliun Rp 1,71 triliun
Jumlah nominal dimenangkan Rp 1,5 triliun Rp 1,10 triliun Rp 5 triliun Rp 7,9 triliun Rp 4,9 triliun Rp 2,6 triliun Rp 1 triliun
Yield tertinggi yang masuk 5,99% 6,25% 7,30% 7,77% 8,15% 8,30% 8,60%
Yield terendah yang masuk 5,78% 5,90% 7,08% 7,60% 7,94% 8,10% 8,39%
Yield rata-rata tertimbang
yang dimenangkan
5,83% 5,90% 7,09% 7,64% 7,98% 8,14% 8,44%
Yield tertinggi dimenangkan 5,87% 5,90% 7,10% 7,66% 8,02% 8,18% 8,47%
Tingkat kupon Diskonto Diskonto 8,12% 8,25% 8,37% 8,37% 7,37%
Jatuh Tempo 19-Sep-19 19 Juni 2020 15 Mei 2024 15 Mei 2029 15-Mar-34 15-Apr-39 15 Mei 2048

Selain faktor kenaikan peringkat utang, sentimen global yang cenderung positif bagi pasar modal dalam negeri juga memperkuat minat investor. Salah satunya, kemungkinan The Fed menurunkan Fed fund rate tahun ini. "Hal tersebut akhirnya memberi stimulus minat investor untuk masuk SUN," tutur Rio Ariansyah, Senior VP & Head of Investment Recapital Asset Management, kemarin.

Sentimen positif yang menaungi pasar obligasi dalam negeri tersebut juga mulai membuat biaya dana (cost of fund) penerbitan surat utang merosot. Dalam lelang kemarin, pemerintah bisa mematok yield lebih rendah dibandingkan lelang sebelumnya.

Ambil contoh pada lelang SUN seri FR0078. Dalam lelang di 21 Mei lalu, yield rata-rata tertimbang yang dimenangkan pemerintah dari surat utang acuan bertenor 10 tahun ini sebesar 8,07%. Dalam lelang kemarin, yield rata-rata yang dimenangkan 7,64%.

 

Rating Naik, Bunga Utang Turun*
  Hasil Lelang
21 Mei 2019
Hasil Lelang
18 Juni 2019
Yield tertinggi yang masuk 8,23% 7,77%
Yield terendah yang masuk 8,07% 7,60%
Yield rata-rata tertimbang yang dimenangkan 8,09% 7,64%
Yield tertinggi dimenangkan 8,10% 7,66%
*Perbandingan yield SUN FR0078 seri acuan 10 tahun
Sumber: DJPPR dan Riset KONTAN

Besaran yield yang diminta investor juga merosot. Pada lelang sebelum peringkat kredit S&P Indonesia naik jadi BBB, investor masih meminta yield antara 8,07%–8,23%. Kemarin, investor cuma meminta yield 7,60%–7,77%. "Ini karena fundamental lokal yang bagus," tegas Rio.

Kepala Riset Fixed Income Mandiri Sekuritas Handy Yunianto menilai pandangan investor terhadap pasar obligasi Indonesia memang masih positif. Investor asing bahkan tidak menunjukkan posisi jual signifikan di obligasi.

Penurunan yield pun tidak lantas membuat pasar obligasi Indonesia tidak atraktif. "Karena jika dibandingkan negara emerging market lainnya, Indonesia masih menawarkan yield yang cukup atraktif," kata Handy.

Hasil rapat bank sentral Amerika Serikat (AS) dan Bank Indonesia pekan ini akan menentukan arah pasar obligasi ke depan. Pelaku pasar saat ini menanti penurunan suku bunga.

Rio menyebutkan, penurunan suku bunga akan memberi dampak positif pada pasar obligasi. "Suku bunga turun, yield SUN juga akan turun," cetus dia.

Dana investor juga masih akan terus mengalir ke pasar obligasi. Meski yield cenderung turun, obligasi Indonesia tetap menarik karena fundamental positif.

Handy memprediksi peringkat utang Indonesia akan terus membaik. "Kami memprediksi Indonesia akan bisa mendapat upgrade rating di 2020 ke level BBB+," kata dia. Ini dengan asumsi bank sentral melonggarkan moneter.

Sekadar informasi, yield surat utang acuan Indonesia tenor 10 tahun juga terus turun. Kemarin, yield SUN tenor 10 tahun ada di 7,61%.

Bagikan

Berita Terbaru

Saham ASII Melawan Arus; Saat Investor Asing Getol Jualan, Harganya Malah Mendaki
| Selasa, 21 Juli 2026 | 12:57 WIB

Saham ASII Melawan Arus; Saat Investor Asing Getol Jualan, Harganya Malah Mendaki

ASII telah mendapatkan persetujuan pemegang saham untuk melaksanakan buyback saham dengan anggaran Rp 8 triliun.​

Prabowo Menggadang 12 Kota Satelit Baru, Saham Properti Mana yang Paling Diuntungkan?
| Selasa, 21 Juli 2026 | 09:40 WIB

Prabowo Menggadang 12 Kota Satelit Baru, Saham Properti Mana yang Paling Diuntungkan?

Kinerja operasional beberapa emiten properti pada kuartal II-2026 masih menunjukkan perlambatan efek tingginya suku bunga.

Ditengah Penurunan SKDU Saham Big Banks Masih Jadi Incaran Asing, Cermati Prospeknya
| Selasa, 21 Juli 2026 | 08:39 WIB

Ditengah Penurunan SKDU Saham Big Banks Masih Jadi Incaran Asing, Cermati Prospeknya

Pergerakan dana asing yang masih silih berganti antarsaham perbankan mengindikasikan pasar belum menemukan satu keyakinan penuh.

Ketika TNI dan Polri Mengawasi Kepatuhan Pajak
| Selasa, 21 Juli 2026 | 08:34 WIB

Ketika TNI dan Polri Mengawasi Kepatuhan Pajak

Pelibatan TNI & Polri dalam pengawasan pajak berpotensi mengaburkan garis pemisah antara fungsi pertahanan keamanan dan fungsi administrasi sipil.

Ketimun Naik Kelas
| Selasa, 21 Juli 2026 | 08:26 WIB

Ketimun Naik Kelas

Jika hari ini dan kemarin harga ketimun sudah tak lagi murah, besok bisa jadi cabai, bawang, atau bahkan beras menyusul ketimun.

Aksi Pindah Kantong Kepemilikan oleh Grup Djarum, Prospek Saham DATA Jadi Kian Harum?
| Selasa, 21 Juli 2026 | 08:15 WIB

Aksi Pindah Kantong Kepemilikan oleh Grup Djarum, Prospek Saham DATA Jadi Kian Harum?

Selain mengembangkan layanan FTTH, DATA juga memiliki sejumlah lini bisnis lain, mulai dari layanan backbone, kabel laut hingga data center.

Investor Ekstra Hati-Hati, Berikut Rekomendasi Saham Hari Ini, Selasa (21/7)
| Selasa, 21 Juli 2026 | 08:12 WIB

Investor Ekstra Hati-Hati, Berikut Rekomendasi Saham Hari Ini, Selasa (21/7)

Penguatan IHSG masih dibayangi sikap hati-hati investor menjelang rapat kebijakan Bank Indonesia (BI) pekan ini.

 Menanti Skema Motor Listrik Nasional
| Selasa, 21 Juli 2026 | 07:58 WIB

Menanti Skema Motor Listrik Nasional

Swasta meminta kesetaraan dan perlakuan yang sama dari pemerintah dalam oengembangan ekosistem kendaraan listrik

Ekspansi Kredit Bank Digital Membuat Risiko Likuiditas Ketat Tetap Tinggi
| Selasa, 21 Juli 2026 | 07:51 WIB

Ekspansi Kredit Bank Digital Membuat Risiko Likuiditas Ketat Tetap Tinggi

Laju penyaluran kredit di sejumlah bank masih lebih cepat dibandingkan penghimpunan dana, sehingga rasio loan to deposit ratio (LDR) tetap tinggi.

DPR Bakal Sahkan RUU Pusat Finansial
| Selasa, 21 Juli 2026 | 07:51 WIB

DPR Bakal Sahkan RUU Pusat Finansial

Pembahasan Rancangan Undang-Undang Pusat Finansial Internasional Indonesia rampung dalam 18 hari, dimulai pada 2 Juli 2026 hingga 20 Juli 2026.

INDEKS BERITA

Terpopuler