Resep Jangka Pendek Atasi Ekspor Mandek

Jumat, 15 Februari 2019 | 17:56 WIB
Resep Jangka Pendek Atasi Ekspor Mandek
[]
Reporter: Havid Vebri, Merlinda Riska, Ragil Nugroho | Editor: Havid Vebri

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT INKA mulai mengirimkan 15 kereta penumpang dari Tanjung Perak, Surabaya ke Bangladesh, Minggu lalu. Ini merupakan Ekspor pertama dari total 250 gerbong kereta penumpang untuk Bangladesh Railway yang tendernya dimenangi INKA tahun 2017. Seluruhnya dibuat di pabrik INKA di Jawa Timur.

Dua penggal kalimat itu terpampang di akun Instagram milik Presiden Joko Widodo, @jokowi, Senin (21/1) lalu. Kalimat tersebut tertulis untuk menyertai sebuah potret gerbong kereta api dengan kelir hijau yang tengah diangkat ke sebuah kapal di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.

Nadi Ekspor negara kita kembali berdetak? Bisa jadi. Sebab, pemerintah mengeluarkan jurus-jurus baru untuk mendongkrak kinerja Ekspor. Sebab, nilai rapor perdagangan Indonesia tahun lalu jeblok.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, total Ekspor kita sepanjang 2018 hanya tumbuh 6,65% menjadi US$ 180,06 miliar dibanding raihan 2017. Sebaliknya, pertumbuhan impor lebih kencang. Tahun lalu, total nilai impor mencapai US$ 188,63 miliar, tumbuh 20,15%.

Walhasil, neraca perdagangan Indonesia tahun 2018 mengalami defisit US$ 8,57 miliar. Ini merupakan defisit tahunan pertama dalam empat tahun terakhir. Sekaligus yang terparah selama republik ini berdiri. Defisit ini terbesar, ungkap Kepala BPS Suhariyanto.

Di era reformasi, neraca dagang kita sempat mencetak defisit selama tiga tahun berturut-turut, 20122014. Namun, angkanya enggak ada satu pun yang sampai US$ 5 miliar.

Menurut Adriyanto, Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemkeu), defisit perdagangan tahun lalu akibat neraca perdagangan minyak dan migas (migas) yang tekor hingga US$ 12,2 miliar. Penyumbang terbesar defisit sektor ini adalah defisit minyak mentah dan hasil minyak, masing-masing sebesar US$ 4,04 miliar dan US$ 15,95 miliar.

Sementara neraca dagang nonmigas dalam lima tahun terakhir selalu mengukir surplus di atas US$ 10 miliar, bahkan pada 2017 mencapai US$ 20,4 miliar. Cuma memang, pada 2018 nilainya turun drastis, hanya US$ 3,8 miliar. Ini tampaknya juga dipengaruhi demand dari negara mitra dagang, ujar Adriyanto.

Defisit neraca perdagangan jelas mimpi buruk bagi negara mana pun. Imbasnya menular ke defisit neraca transaksi berjalan alias current account deficit (CAD) yang besar.

Efisiensi biaya

Celakanya, pemerintah memperkirakan, defisit neraca perdagangan masih mungkin berlanjut tahun ini. Karena itu, pemerintah ingin segera bertindak.

Kita memerlukan instrumen kebijakan peningkatan Ekspor untuk tetap menjaga kestabilan kinerja neraca perdagangan, khususnya untuk kuartal pertama tahun ini. Instrumen yang kita butuhkan adalah untuk kurun waktu sangat segera, Jangka Pendek, kata Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Darmin Nasution.

Ya, kali ini pemerintah fokus merumuskan Resep Jangka Pendek yang bisa memberi dampak segera terhadap perbaikan kinerja neraca dagang sekaligus meningkatkan daya saing Ekspor. Itu sebabnya, Rapat Koordinasi Peningkatan Ekspor, Kamis (24/1) malam, memutuskan: pemerintah melakukan simplifikasi atau penyederhanaan prosedur Ekspor dan efisiensi sektor logistik. Harapan kami, upaya ini bisa efektif menggenjot Ekspor dalam Jangka Pendek, imbuh Adriyanto.

Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso menjelaskan, simplifikasi prosedural Ekspor untuk menghasilkan efisiensi biaya juga waktu. Caranya, dengan mengurangi komoditas yang wajib menyertakan laporan surveyor (LS) dan yang masuk dalam larangan terbatas (lartas) Ekspor.

Syarat LS, Susiwijono mengakui, selama ini cukup membebani Eksportir. Sebab, prosesnya memakan waktu lama dan menambah biaya. Tambah lagi, banyak duplikasi LS yang dilakukan kementerian, lembaga, dan perusahaan inspeksi. Sebut saja, Direktorat Jenderal (Ditjen) Bea Cukai, PT Surveyor Indonesia, PT Sucofindo.

Pemerintah, Susiwijono bilang, bakal segera memberlakukan kebijakan mengurangi LS dan lartas Ekspor. Saat ini, Kementerian Perdagangan (Kemdag) sedang merevisi sejumlah peraturan menteri perdagangan (permendag) terkait kebijakan wajib LS dan lartas Ekspor.

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemdag Oke Nurwan mengatakan, pihaknya tengah melakukan revisi permendag yang mengatur soal persyaratan LS. Rencananya, pembebasan syarat LS ini akan menyasar tujuh komoditas, yakni minyak kelapa sawit, minyak mentah, batubara, intan kasar, timah, dan kayu.

Meski begitu, penghapusan LS juga harus melihat aspek lain seperti ketentuan perdagangan internasional. Misalnya, kewajiban LS untuk Ekspor intan kasar. Ada ketentuan internasional yang mengharuskan sertifikasi oleh surveyor.

Sementara jumlah komoditas yang masuk dalam daftar lartas Ekspor tercatat ada 24 jenis. Contoh, bahan galian golongan C, batu mulia, beras, komoditas yang masuk dafatar cagar budaya dan CITES, intan kasar, inti kelapa sawit, karet, kayu, komoditas wajib letter of credit (L/C), kopi, serta logam.

Selain simplifikasi Ekspor, dalam Jangka Pendek pemerintah juga fokus meningkatkan efisiensi sektor logistik. Misalnya, dengan mengoptimalkan enforcement sistem delivery order (DO) secara online untuk meningkatkan kualitas arus barang (flow of goods)dan menekan waktu tunggu bongkar muat (dwelling time). Intinya, perbaikan logistik transportasi barang ini akan terus dilakukan, tegas Adriyanto.

Denny Surjantoro, Kepala Subdirektorat Informasi dan Komunikasi Ditjen Bea Cukai, menyatakan, lembaganya bakal menindaklanjuti kebijakan itu dengan modifikasi sistem secara otomatis. Sehingga, akan ada notifikasi kepada para Eksportir tentang kemudahan yang telah pemerintah lakukan.

Selain itu, ada juga kebijakan reputable trader. Dalam kebijakan ini, Ditjen Bea Cukai bakal memberikan kemudahan terhadap industri yang memiliki reputasi baik dalam Ekspor, seperti industri otomotif. Sehingga ke depan, percepatan implementasi aturan secara digital dengan sistem pembayaran dalam jaringan (daring) bisa mempermudah Ekspor dan impor kendaraan bermotor roda dua dan roda empat. Jadi kami mengotorisasi trader yang reputable supaya cepat proses Ekspornya, kata Denny.

Ada juga layanan satu atap antarkementerian dan lembaga bernama Klinik Ekspor. Layanan asistensi Ekspor ini khusus membantu mereka yang bertanya soal prosedur Ekspor.

Ekspor unggulan

Tentu, program Jangka Pendek saja enggak cukup, perlu kelanjutan lewat program Jangka menengah dan panjang untuk mendorong Ekspor. Jurus pemerintah, misalnya, memperbaiki iklim usaha melalui Online Single Submission(OSS), memberikan fasilitas insentif perpajakan, mengembangkan program vokasi, dan memilih komoditas Ekspor unggulan.

Beberapa sudah pemerintah lakukan dan mulai berjalan. Termasuk, penguatan sektor manufaktur akan terus kami lakukan, kata Adriyanto.

Soal pemilihan komoditas Ekspor unggulan, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian telah merumuskan pilihan kelompok industri yang bisa memacu Ekspor nasional.

Pertama, kelompok industri prioritas yang terdiri dari industri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, elektronik, otomotif, serta kimia.

Kedua, kelompok industri perikanan segar dan olahan, permesinan umum, furnitur, produk kayu kertas, peralatan kesehatan, industri sepeda.

Susiwijono menuturkan, pemilihan sektor unggulan ini akan pemerintah teruskan dengan memperkuat struktur industri masing-masing bidang yang berorientasi Ekspor. Penguatan struktur industri inilah yang masuk dalam kebijakan Jangka menengah dan panjang pemerintah, ujar dia.

Hanya, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan, masalah yang industri manufaktur hadapi berbeda-beda tergantung sektornya. Di sektor otomotif, contohnya, memerlukan insentif perpajakan semacam pengurangan pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) untuk produksi mobil jenis sedan. Begitu pun dengan sektor tekstil dan produk tekstil yang masih bermasalah dengan kesulitan penggunaan bahan baku dari dalam negeri.

Sementara di sektor elektronik, pemerintah akan membuat peta jalan untuk panduan penggunaan tingkat komponen dalam negeri (TKDN). Dengan begitu, ada nilai tambah yang bisa industri dalam negeri nikmati. Jangan sampai pembangunan infrastruktur teknologi kita bangun, tetapi bahan baku masih ketergantungan dari negara lain, kata Airlangga.

Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani menyambut positif perbaikan regulasi Ekspor yang sekarang sedang pemerintah siapkan. Namun, pemerintah juga mesti fokus pada problem akses pasar sebagai kebijakan bersifat lebih Jangka panjang. Selama ini, tujuan utama Ekspor hanya ke negara-negara yang itu-itu saja.

Kalau Ekspor gencar, maka Presiden bakal rajin mengunggah foto dan cerita soal pelepasan Ekspor barang.

Bagikan

Berita Terbaru

Saham BIg Four Perbankan Terus Tertekan, Saatnya Akumulasi?
| Senin, 19 Oktober 2026 | 19:17 WIB

Saham BIg Four Perbankan Terus Tertekan, Saatnya Akumulasi?

Keputusan untuk melakukan akumulasi beli harus mempertimbangkan tiga hal, yakni tujuan investasi, jangka waktu investasi, dan profil risiko.

MSCI dan Perlunya Meninjau Ulang Resep Bursa Saham
| Senin, 19 Oktober 2026 | 10:30 WIB

MSCI dan Perlunya Meninjau Ulang Resep Bursa Saham

Reformasi berhasil bukan karena aturan semakin banyak, tetapi karena pasar Indonesia semakin transparan, likuid, adil, dan dipercaya.       

IHSG Anjlok 40,04% YtD, Terburuk di Dunia, Asing Net Sell Rp 88 Triliun
| Senin, 19 Oktober 2026 | 09:19 WIB

IHSG Anjlok 40,04% YtD, Terburuk di Dunia, Asing Net Sell Rp 88 Triliun

Kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi yang terburuk di antara bursa saham global yang diperbandingkan BEI sepanjang 2026.

Tak Lagi Repot-Repot Urus Administrasi di Rumahsakit
| Senin, 19 Oktober 2026 | 09:07 WIB

Tak Lagi Repot-Repot Urus Administrasi di Rumahsakit

Platform kesehatan kini tidak hanya menawarkan layanan janji temu dengan dokter, tapi juga mendampingi pasien di rumahsakit.

Kenaikan Suku Bunga Acuan Semakin Dekat
| Senin, 19 Oktober 2026 | 08:41 WIB

Kenaikan Suku Bunga Acuan Semakin Dekat

Gejolak pasar keuangan meningkatkan risiko perubahan arah kebijakan suku bunga acuan                

Mengawali Pekan, MSCI Masih Menghantui Pasar, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini
| Senin, 19 Oktober 2026 | 08:34 WIB

Mengawali Pekan, MSCI Masih Menghantui Pasar, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

Pada Senin (19/10), volatilitas IHSG diprediksi masih cukup tinggi, meskipun peluang technical rebound tetap terbuka.

CNGR Incar 80% Saham GNI, PACK Berpotensi Kecipratan Sentimen Positif
| Senin, 19 Oktober 2026 | 08:29 WIB

CNGR Incar 80% Saham GNI, PACK Berpotensi Kecipratan Sentimen Positif

CNGR Advanced Material adalah pemilik PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK) via PT Eco Energi Perkasa.

Dua Tahun Prabowo: Janji Ekonomi Tak Mampu Selamatkan IHSG dari Krisis Kepercayaan
| Senin, 19 Oktober 2026 | 08:05 WIB

Dua Tahun Prabowo: Janji Ekonomi Tak Mampu Selamatkan IHSG dari Krisis Kepercayaan

Koreksi IHSG yang lebih dalam dibandingkan sejumlah pasar lain menunjukkan adanya persoalan domestik yang turut membebani pasar.

Kelangkaan BBM dan Pemadaman Listrik Jadi Alarm Bagi Tata Kelola Energi Nasional
| Senin, 19 Oktober 2026 | 07:44 WIB

Kelangkaan BBM dan Pemadaman Listrik Jadi Alarm Bagi Tata Kelola Energi Nasional

Sejumlah pihak mendesak Presiden untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh agar blackout listrik dan kelangkaan BBM tidak terus berulang​

Menagih Janji Penegakan Hukum Pasar Modal di Tengah Ancaman Turun Kelas MSCI
| Senin, 19 Oktober 2026 | 07:39 WIB

Menagih Janji Penegakan Hukum Pasar Modal di Tengah Ancaman Turun Kelas MSCI

Dukungan terhadap pasar modal tidak cukup melalui pernyataan, tetapi harus terlihat dalam pelaksanaan reformasi dan kepastian regulasi.

INDEKS BERITA

Terpopuler