Rohaniwan dan LSM Minta Pemerintah Biden Bantu Negara Miskin Atasi Dampak Pandemi

Selasa, 16 Maret 2021 | 17:44 WIB
Rohaniwan dan LSM Minta Pemerintah Biden Bantu Negara Miskin Atasi Dampak Pandemi
[ILUSTRASI. Janet Yellen dalam acara The Fed di Washington, 13 December 2017. REUTERS/Jonathan Ernst TPX IMAGES OF THE DAY]
Reporter: Thomas Hadiwinata | Editor: Thomas Hadiwinata

KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Organisasi keagamaan di Amerika Serikat (AS) dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) meminta pemerintahnya mengulurkan tangan bagi negara-negara miskin dalam mengatasi dampak pandemi.

Permintaan semacam itu akan disampaikan Jubilee USA Network dan para pemimpin dari organisasi agama Kristen dan Yahudi di AS dalam pertemuan dengan Menteri Keuangan AS, Janet Yellen, hari ini (16/3). Jubilee USA Network merupakan LSM yang mengadvokasi penghapusan utang untuk negara-negara berkembang.

Pertemuan akan membahas cara-cara untuk meningkatkan sumber daya guna membantu negara-negara miskin dan berpenghasilan menengah mengatasi dampak dari pandemi COVID-19, restrukturisasi utang permanen dan perubahan iklim, demikian pernyataan Eric LeCompte, direktur eksekutif Jubilee USA Network.

Baca Juga: Inflasi AS diprediksi masih rendah, rupiah punya peluang menguat

Seperti dikutip Reuters, LeCompte mengatakan adalah hal biasa bagi para pemimpin agama untuk bertemu sekali dengan presiden AS selama masa jabatannya. Tetapi, pertemuan organisasi itu dengan menteri keuangan tidaklah lazim.

“Yang unik adalah lembaga-lembaga agama besar bersatu untuk menyelesaikan krisis pandemi saat ini dan mencegah krisis di masa depan,” kata dia, seperti dikutip Reuters. Bank Dunia memperkirakan pandemi akan mendorong sebanyak 150 juta orang penduduk dunia akan terjerumus ke dalam kemiskinan ekstrem.

Dia mengatakan pertemuan tersebut mencerminkan fokus Yellen pada sifat global pandemi, dan kesediaannya untuk terlibat dengan berbagai pemimpin di AS untuk mencari solusi.

Baca Juga: Awasi dana stimulus ekonomi, Joe Biden tunjuk Gene Sperling

Berbagai organisasi agama mendesak Pemerintahan Biden untuk mendukung peningkatan dana cadangan darurat Dana Moneter Internasional (IMF) atau Special Drawing Rights (SDR) untuk membantu negara-negara miskin yang semakin morat-marit di masa pandemi.

Dengan sejumlah syarat, Yellen telah menyatakan dukungan bagi alokasi SDR IMF yang baru. Sikap Yellen itu bertentangan dengan posisi yang diambil Pemerintahan AS di bawah Donald Trump. Sebagai pemegang saham terbesar IMF, dukungan dari Pemerintah AS sangat penting untuk  mengeksekusi rencana peningkatan cadangan.

Yellen, Senin (15/3) bertemu dengan Menteri Keuangan Inggris Rishi Sunak. Keduanya sepakat alokasi SDR baru dapat menjadi bagian penting dari paket dukungan untuk negara-negara berpenghasilan rendah.

Italia dan anggota lain dari Kelompok 20 negara ekonomi maju telah menyerukan penerbitan SDR baru senilai US$ 500 miliar. Penerbitan SDR oleh IMF tak ubahnya pencetakan uang oleh bank sentral di sebuah negara. IMF masih menyusun proposal penerbitan SDR, untuk diajukan ke negara-negara anggotanya musim semi ini.

Selanjutnya: Janet Yellen telepon Sri Mulyani, isyaratkan niat memperdalam kerja sama AS-Indonesia

 

 

Bagikan

Berita Terbaru

Prospek MIKA 2026 Tetap Solid dan Margin Terjaga Meski Pasien BPJS Menyusut
| Selasa, 10 Februari 2026 | 09:30 WIB

Prospek MIKA 2026 Tetap Solid dan Margin Terjaga Meski Pasien BPJS Menyusut

Persaingan bisnis rumah sakit semakin sengit sehingga akan memengaruhi ekspansi, khususnya ke kota-kota tier dua.

Perluas Kapasitas Panas Bumi, Prospek Saham PGEO Masih Menarik?
| Selasa, 10 Februari 2026 | 09:26 WIB

Perluas Kapasitas Panas Bumi, Prospek Saham PGEO Masih Menarik?

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) terus menggeber ekspansi pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) miliknya.

Wira Global Solusi (WGSH) Akan Menebar Saham Bonus Dengan Rasio 1:1
| Selasa, 10 Februari 2026 | 09:06 WIB

Wira Global Solusi (WGSH) Akan Menebar Saham Bonus Dengan Rasio 1:1

Saham bonus yang akan dibagikan PT Wira Global Solusi Tbk (WGSH) berasal dari kapitalisasi tambahan modal disetor atau agio saham tahun buku 2024.

Momentum Ramadan Berpotensi Dorong Pertumbuhan Darya-Varia (DVLA)
| Selasa, 10 Februari 2026 | 09:02 WIB

Momentum Ramadan Berpotensi Dorong Pertumbuhan Darya-Varia (DVLA)

Momentum Ramadan dinilai bakal menjadi salah satu katalis positif bagi emiten farmasi. Salah satunya PT Darya-Varia Laboratoria Tbk.​

Proyek Hilirisasi BPI Danantara Menyengat Prospek Emiten BEI
| Selasa, 10 Februari 2026 | 08:56 WIB

Proyek Hilirisasi BPI Danantara Menyengat Prospek Emiten BEI

Proyek hilirisasi Danantara juga membuka peluang keterlibatan emiten pendukung, baik di sektor energi, logistik, maupun konstruksi.

Tembus Rp 5,50 Triliun, Laba Indosat (ISAT) Tumbuh Dua Digit Pada 2025
| Selasa, 10 Februari 2026 | 08:48 WIB

Tembus Rp 5,50 Triliun, Laba Indosat (ISAT) Tumbuh Dua Digit Pada 2025

Segmen selular jadi kontributor utama pertumbuhan kinerja PT Indosat Tbk (ISAT) di sepanjang tahun 2025.

Saatnya Peningkatan Integritas Pasar Modal Menghadapi Turbulensi
| Selasa, 10 Februari 2026 | 08:33 WIB

Saatnya Peningkatan Integritas Pasar Modal Menghadapi Turbulensi

Pelaksanaan aturan ini tidak langsung, tapi ada waktu transisi. Ini penting agar pemilik dan pengendali punya waktu menyusun strategi 

Kinerja Bank Mandiri (BMRI) Tetap Kokoh di 2025, Diprediksi Berlanjut di 2026
| Selasa, 10 Februari 2026 | 08:11 WIB

Kinerja Bank Mandiri (BMRI) Tetap Kokoh di 2025, Diprediksi Berlanjut di 2026

Sentimen positif bagi BMRI di tahun 2026 berasal dari fundamental yang solid dan efisiensi berkelanjutan.

Melawan Arus Badai MSCI, Saham RALS Melesat Jelang Ramadan dan Idul Fitri 2026
| Selasa, 10 Februari 2026 | 07:57 WIB

Melawan Arus Badai MSCI, Saham RALS Melesat Jelang Ramadan dan Idul Fitri 2026

Penjualan periode Lebaran menyumbang hampir 30% dari total target penjualan tahunan PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS).

Efek Berantai, Prospek Negatif Moody’s Bikin Saham Big Caps Pelat Merah Kompak Turun
| Selasa, 10 Februari 2026 | 07:43 WIB

Efek Berantai, Prospek Negatif Moody’s Bikin Saham Big Caps Pelat Merah Kompak Turun

Indonesia perlu belajar dari India yang mengalami masalah serupa pada 2012 namun bisa bangkit dan berhasil merebut kembali kepercayaan investor.

INDEKS BERITA

Terpopuler