Rupiah & Lebaran

Kamis, 22 Januari 2026 | 06:10 WIB
Rupiah & Lebaran
[ILUSTRASI. Asnil Bambani Amri (KONTAN/Indra Surya)]
Asnil Bambani | Senior Editor

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang mencapai titik terendah dalam sejarah layak menjadi perhatian pembuat kebijakan. Kenapa? Karena pelemahan rupiah saat ini terjadi pada saat importir membutuhkan dolar AS untuk belanja aneka produk kebutuhan saat Ramadan dan Lebaran.

Memang Lebaran masih lama, sekitar dua bulan lagi. Tetapi, pembelian dan pengiriman barang untuk memenuhi permintaan Lebaran sudah dilakukan semenjak bulan lalu hingga kini. Semua sudah paham, masa Lebaran adalah masa warga Indonesia pesta berbelanja. 

Permintaan barang baik itu kebutuhan pokok, produk konsumsi akan naik signifikan di Hari Raya Umat Islam tersebut. Namun yang perlu jadi catatan, produk yang dibutuhkan saat Lebaran itu kebanyakan impor alias dibeli dengan mata uang dolar AS. 

Contoh, dua produk pangan yang mayoritas impor dan konsumsinya besar di Indonesia adalah tepung terigu dan daging sapi. Kedua produk itu sudah menjadi bahan baku pangan saat ini. Jika harga belinya naik, maka harga produk turunannya ikut naik, seperti kue Lebaran dan juga rendang.

Ada banyak produk makanan lain yang memakai terigu dan daging sebagai bahan baku. Jika harga bahan bakunya naik, maka harga produk hilirnya juga akan naik. Kita mesti ingat, Indonesia belum swasembada pangan. Jika dibilang swasembada beras, ya silakan. Tapi saat Lebaran, beras hanya salah satu dari banyak sembako prioritas.

Sebut saja, kacang kedelai, bawang putih, gula dan banyak lagi. Produk-produk itu masih impor dan dibeli. Jika rupiah masih melemah, bisa dipastikan hukum pasar akan terjadi. Harga akan naik karena harga modalnya naik.

Ditambah dengan naiknya permintaan menjelang Lebaran, tentu faktor kenaikan harganya menjadi ganda. Lantas siapa sih yang mau mengganti rendang di meja makan saat Lebaran? 

Pelemahan rupiah saat ini harus menjadi alarm dalam dua bulan ke depan, alarm kenaikan harga pangan. Jika harga produk pangan melejit tinggi, dampaknya adalah inflasi. Jika inflasi tidak terkendali, dampaknya menerpa daya beli sehingga berisiko mengganggu pertumbuhan ekonomi. 

Adapun risiko bagi warga, inflasi berkepanjangan tak hanya menimbulkan masalah ekonomi, bisa-bisa berujung masalah sosial. Sudah siap dengan harga sembako untuk Lebaran naik tinggi?

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Pemerintah Siapkan Pembelaan Tuduhan AS
| Rabu, 15 April 2026 | 11:00 WIB

Pemerintah Siapkan Pembelaan Tuduhan AS

Pemerintah akan menyerahkan dokumen submission comment paling lambat 15 April 2026                  

Geser Strategi dan Menggenjot 5G, EXCL Berpeluang Besar Mencetak Laba
| Rabu, 15 April 2026 | 10:13 WIB

Geser Strategi dan Menggenjot 5G, EXCL Berpeluang Besar Mencetak Laba

Tekanan terhadap bottom line masih bersifat sementara dan mencerminkan fase transisi menuju efisiensi operasional.

ADB Ramal Pertumbuhan Ekonomi RI Stabil di 5,2%
| Rabu, 15 April 2026 | 09:54 WIB

ADB Ramal Pertumbuhan Ekonomi RI Stabil di 5,2%

Proyeksi pertumbuhan ekonomi RI oleh ADB masih di bawah target pemerintah yang sebesar 5,4% pada tahun ini

Target Tax Ratio 2026 Masih Sulit Tercapai
| Rabu, 15 April 2026 | 09:47 WIB

Target Tax Ratio 2026 Masih Sulit Tercapai

Presiden Prabowo Subianto ingin rasio pajak alias tax ratio Indonesia pada tahun ini mencapai 13%   

Ongkos BI untuk Angkat Rupiah Makin Mahal
| Rabu, 15 April 2026 | 09:15 WIB

Ongkos BI untuk Angkat Rupiah Makin Mahal

Bank Indonesia mengintensifkan frekuensi lelang hingga mengerek imbal hasil SRBI                    

Fundamental Rentan, Rupiah Kian Terbenam
| Rabu, 15 April 2026 | 08:32 WIB

Fundamental Rentan, Rupiah Kian Terbenam

Rupiah menyentuh rekor terburuk Rp17.127 per dolar AS. Pelemahan bukan hanya karena perang, tetapi rapuhnya fondasi domestik. 

Mengangkat Indeks, Menarik Asing, tetapi Terus Dicurigai
| Rabu, 15 April 2026 | 08:10 WIB

Mengangkat Indeks, Menarik Asing, tetapi Terus Dicurigai

Berbagai instrumen pengawasan, notasi, penghentian sementara, dan parameter teknis kerap hadir tanpa penjelasan yang memadai.

Cadangan Devisa Turun, Ketahanan Fiskal Mengkhawatirkan, Cek Proyeksi Rupiah Hari Ini
| Rabu, 15 April 2026 | 07:54 WIB

Cadangan Devisa Turun, Ketahanan Fiskal Mengkhawatirkan, Cek Proyeksi Rupiah Hari Ini

Di domestik, pasar tertuju pada data fundamental dan persepsi ketahanan fiskal Indonesia. Ini mempengaruhi gerak rupiah.

Waspadai Potensi Profit Taking, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini, Rabu (15/4)
| Rabu, 15 April 2026 | 07:24 WIB

Waspadai Potensi Profit Taking, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini, Rabu (15/4)

Hari ini, investor perlu mewaspadai  potensi profit taking dalam jangka pendek. Mengingat kondisi IHSG yang sudah memasuki area overbought.

Legalisasi Rokok Ilegal Harus Dikaji Lebih Cermat
| Rabu, 15 April 2026 | 07:21 WIB

Legalisasi Rokok Ilegal Harus Dikaji Lebih Cermat

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meminta produsen rokok ilegal beralih menjadi legal paling lambat Mei 2026

INDEKS BERITA

Terpopuler