Rupiah Masih Rentan, Bunga Acuan Dipertahankan 6%

Jumat, 26 April 2019 | 08:44 WIB
Rupiah Masih Rentan, Bunga Acuan Dipertahankan 6%
[]
Reporter: Benedicta Prima | Editor: Thomas Hadiwinata

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI), Kamis (26/4), memutuskan tidak mengubah bunga acuan. Bunga BI 7-Day Reverse Repo Rate tetap sebesar 6%.

BI menyebut nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang masih sangat volatil sebagai alasan mempertahankan bunga. Pada penutupan perdagangan, di pasar spot, Kamis (26/4) kemarin, nilai tukar rupiah melemah 0,64% dibandingkan dengan penutupan perdagangan pada hari sebelumnya menjadi Rp 14.180 per dollar Amerika Serikat (AS). Posisi penutupan rupiah kemarin merupakan yang terendah sejak 3 April lalu.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), kemarin, juga berakhir di zona merah. IHSG menurun sebesar 75,09 poin atau 1,16% ke posisi 6.372,78. Investor asing membukukan aksi jual bersih atau net sell Rp 723,77 miliar pada perdagangan hari ini.

Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan, bunga acuan BI ditahan untuk mencegah aliran modal asing keluar dari pasar keuangan dalam negeri. Apalagi, BI masih berupaya untuk menekan defisit transaksi berjalan alias current account deficit (CAD) ke level 2,5% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). "Keputusan ini sejalan dengan upaya memperkuat stabilitas eksternal perekonomian Indonesia," tandas Perry,

Kata Perry, nilai tukar rupiah masih di bawah fundamentalnya atau undervalued sehingga kemungkinan penguatan ada. Peluang penguatan ini, sejalan dengan prospek eksternal yang membaik. Apalagi, bank sentral memperkirakan suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) tak bakal menaikkan bunga acuannya tahun ini dan tahun depan.

Jika sebelumnya, The Fed ada kemungkinan akan menaikkan bunga tahun ini atau tahun depan minimal satu kali, "Namun kali ini kami melihat The Fed tak naikkan bunga tahun ini dan tahun depan," ujar Perry.

Dari sisi domestik, potensi penguatan rupiah didorong prospek perekonomian domestik yang positif dan ketidakpastian pasar keuangan yang berkurang. BI memperkirakan, pertumbuhan ekonomi kuartal pertama tahun ini mendekati angka 5,2%, didukung permintaan domestik. Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi dalam negeri diperkirakan akan ada di kisaran 5%–5,4%.

BI juga memperkirakan neraca pembayaran Indonesia (NPI) pada kuartal pertama tahun ini bakal mencatat surplus. Ini didorong oleh surplus pada transaksi modal dan finansial sejalan dengan masuknya dana asing. Secara year to date hingga 24 April 2019, aliran modal asing yang masuk ke dalam negeri tercatat mencapai Rp 73,28 triliun.

Surplus NPI periode Januari-Maret tahun ini juga tercermin pada posisi cadangan devisa (cadev). Per akhir Maret lalu, cadev naik jadi US$ 124,5 miliar.

Namun, bank sentral tetap memantau pergerakan CAD, terutama memasuki kuartal kedua. Secara historis, CAD biasanya naik karena musim pembayaran bunga deviden hingga pembayaran pokok utang. "Tapi kami pastikan, CAD di bawah 3% terhadap PDB," tambah Perry.

  Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro melihat, BI7DRRR berpeluang turun tahun ini. Ia memperkirakan, bunga acuan BI bakal turun dari 6% menjadi 5,75% tahun ini.

Pemangkasan itu, "Dengan asumsi dasar bahwa arah kebijakan The Fed akan lebih dovish, inflasi dalam negeri stabil, dan CAD menyusut," kata Andry.

Andry juga memperkirakan, CAD akan menyusut menjadi 2,6% terhadap PDB pada 2019 dibanding tahun 2018 yang mencapai 2,98% terhadap PDB.

Perbaikan ini didukung oleh membaiknya posisi neraca perdagangan sejalan dengan upaya pemerintah yang telah menerapkan berbagai langkah untuk mengendalikan impor.

Meski begitu, Andry melihat bahwa tekanan telah bergeser ke sisi ekspor menyusul proyeksi perlambatan ekonomi di Amerika Serikat, China, dan Eropa.

Bagikan

Berita Terbaru

Pelajaran Keadilan dari Perjalanan Nvidia
| Selasa, 25 Agustus 2026 | 14:35 WIB

Pelajaran Keadilan dari Perjalanan Nvidia

Turnover pegawai Nvidia sangat rendah, yakni 2,7%. Jauh di bawah dari dari 17,7% turnover pegawai  industri semikonduktor.

DSSA Masih Diburu dan Bertahan di Atas Rp 1.000, Minat Investor Asing Belum Luntur
| Selasa, 25 Agustus 2026 | 10:00 WIB

DSSA Masih Diburu dan Bertahan di Atas Rp 1.000, Minat Investor Asing Belum Luntur

Net foreign buy menunjukkan sebagian investor asing melihat cerita spesifik DSSA lebih penting daripada statusnya di indeks MSCI.

Simak Prospek TLKM yang Kantongi 17 Rekomendasi Beli Sejak Awal Agustus 2026
| Selasa, 25 Agustus 2026 | 09:00 WIB

Simak Prospek TLKM yang Kantongi 17 Rekomendasi Beli Sejak Awal Agustus 2026

PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) berencana melepas tiga hingga empat anak usaha yang masih merugi sebelum akhir 2026.

Menakar Dampak Kehadiran Sandiaga Uno Sebagai Komisaris Utama Terhadap Prospek MUTU
| Selasa, 25 Agustus 2026 | 08:01 WIB

Menakar Dampak Kehadiran Sandiaga Uno Sebagai Komisaris Utama Terhadap Prospek MUTU

Nilai tambah kehadiran Sandiaga Uno lebih mungkin muncul melalui jaringan, strategic partnership, dan akses ke ekosistem investasi.

Asing Rotasi di Bank BUMN, BBRI Jadi Pilihan, BMRI Tertekan
| Selasa, 25 Agustus 2026 | 06:51 WIB

Asing Rotasi di Bank BUMN, BBRI Jadi Pilihan, BMRI Tertekan

Menurut analis BBRI dan BBNI relatif menarik karena valuasinya masih kompetitif dengan prospek pertumbuhan kredit dan laba yang solid.

Peta Persaingan Berubah, Konsolidasi serta Ekspansi Fiber Jadi Andalan Emiten Menara
| Selasa, 25 Agustus 2026 | 06:42 WIB

Peta Persaingan Berubah, Konsolidasi serta Ekspansi Fiber Jadi Andalan Emiten Menara

Entitas gabungan MTEL dan TBIG akan memiliki valuasi sekitar Rp 90 triliun hingga Rp 93 triliun, jauh lebih besar dibandingkan skala milik TOWR.

Profil Swayasa Prakarsa (SWAP), Perusahaan Riset UGM yang Bakal Melantai di BEI
| Senin, 24 Agustus 2026 | 15:47 WIB

Profil Swayasa Prakarsa (SWAP), Perusahaan Riset UGM yang Bakal Melantai di BEI

PT Swayasa Prakarsa Tbk (SWAP) masih mengalami kerugian meskipun nilainya menyusut, diiringi pendapatan yang tumbuh positif.

Industri Semen Mulai Pulih, Begini Prospek Saham INTP dan SMGR di Semester II-2026
| Senin, 24 Agustus 2026 | 08:35 WIB

Industri Semen Mulai Pulih, Begini Prospek Saham INTP dan SMGR di Semester II-2026

Perbaikan kinerja emiten semen berlangsung di tengah kondisi kelebihan pasokan yang masih menghantui.

Cari Tambahan Modal Baru, Emiten Siap Menggelar Rights Issue
| Senin, 24 Agustus 2026 | 08:33 WIB

Cari Tambahan Modal Baru, Emiten Siap Menggelar Rights Issue

Saat ini ada beberapa emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang berencana menggelar aksi korporasi rights issue.

Hari Kejepit di Awal Pekan, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini, Senin (24/8)
| Senin, 24 Agustus 2026 | 08:30 WIB

Hari Kejepit di Awal Pekan, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini, Senin (24/8)

Investor tetap perlu memperhatikan pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) serta perkembangan sentimen eksternal. 

INDEKS BERITA

Terpopuler