Saham SMDR Reli Sejak Juli Disertai Akumulasi Asing, Kuncinya Ada di Pemulihan Laba

Kamis, 08 Oktober 2026 | 10:00 WIB
Saham SMDR Reli Sejak Juli Disertai Akumulasi Asing, Kuncinya Ada di Pemulihan Laba
[ILUSTRASI. Samudera Indonesia (SMDR) Siap Perluas Jaringan Bisnis Logistik (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)]
Reporter: Amalia Nur Fitri | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Gejolak geopolitik di Timur Tengah yang kerap menjadi salah satu sentimen saham pelayaran bergerak liar, ternyata tak terlalu mengusik pergerakan saham PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR).

Alih-alih ikut terseret sentimen negatif, SMDR mampu mempertahankan tren penguatan sejak Juli 2026. Pergerakan saham SMDR juga dibarengi masuknya minat investor asing.

Di awal Oktober 2026 ini, SMDR sempat mencatat net buy investor asing mencapai Rp 36,35 miliar. Sementara hingga perdagangan hari Rabu (7/10), akumulasi asing masih berlanjut dengan net buy sekitar Rp 9,38 miliar, walau net sell masih tinggi yakni Rp 7,59 miliar.

Alhasil, kemarin (7/10) SMDR ditutup melemah 3,27% ke Rp 414 per saham. Namun bila ditarik tren harga lebih panjang yakni sepekan dan sebulan terakhir, tercatat SMDR membukukan kenaikan harga saham masing-masing 6,15% dan 19,65%. Tiga bulan ini SMDR juga masih betah di zona hijau, menguat 55,64%.

Pengamat Pasar Modal sekaligus Pendiri Sekolah Saham Indonesia Raden Bagus Bima menilai bahwa reli saham SMDR yang terjadi sejak Juli, lebih berkaitan dengan perbaikan fundamental perusahaan.

Sepanjang paruh pertama 2026, SMDR memang mencatat kinerja positif. Pendapatan SMDR naik 11% year on year (YoY) menjadi US$ 421,80 juta dari US$ 379,10 juta pada periode yang sama tahun 2025.

Uniknya, laba bersih SMDR juga meningkat pula sebesar 11% YoY menjadi US$ 32,50 juta, dari US$ 29,3 juta pada semester I-2025. Total aset perseroan pun tumbuh 4% year to date (YtD) dibandingkan dengan posisi akhir tahun buku 2025.

“Naiknya saham SMDR sejak Juli sampai saat ini menurut saya karena memang SMDR berhasil meningkatkan pertumbuhan laba usahanya,” ujar Bima kepada KONTAN, Rabu (7/10).

Dia melanjutkan, selain pertumbuhan kinerja tersebut, investor pun kini lebih tenang karena adanya pemulihan aktivitas ekspor impor. Hal ini tercermin pula dari laporan Badan Pusat Statistik (BPS) yang melaporkan ekspor Januari - Agustus 2026 mencapai US$ 193,64 miliar atau naik 4,74% YoY.

Bahkan Direktur Utama SMDR, Bani Mulia menuturkan laju kinerja perusahaan didorong oleh lini bisnis pelayaran yang naik 22,45% YoY menjadi US$ 246,73 juta alias menyumbang kontribusi mencapai 65,09% dari total pendapatan periode ini.

Sentimen positif yang menaungi SMDR juga potensi peningkatan tarif pengangkutan dan efisiensi operasional.

Bani Mulia juga sampaikan SMDR diuntungkan dengan berbagai perjanjian dagang bilateral antarnegara yang diteken Indonesia dengan sejumlah negara. Sebut saja IEU-CEPA dan Peru-CEPA. Bani memastikan iklim dagang antarnegara yang kian positif ini bakal menjadi katalis positif bagi kinerja perseroan di paruh kedua tahun.

Perjanjian dagang diharapkan mendorong permintaan pengiriman barang. Melalui kontainer, hampir semua jenis barang dapat dikirim, mulai dari tekstil, elektronik, otomotif, produk konsumsi, hingga produk-produk e-commerce,” jelas Bani.

"Investor sekarang lebih tenang tenang karena adanya pemulihan aktivitas ekspor impor, dan kalau kita pelajari juga terdapat sentimen positif. Nah, sentimen yang saya maksud juga datang dari potensi peningkatan tarif pengangkutan dan efisiensi operasional," urai Bima.

Senada, Investment Advisor Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang menambahkan, reli SMDR sejak Juli lebih banyak didorong oleh fundamental earnings recovery ketimbang sekadar isu geopolitik di Timur Tengah.

Menurut Alrich, pertumbuhan volume kontainer, kenaikan freight maupun pendapatan, serta ekspansi armada menjadi katalis yang lebih relevan terhadap pergerakan saham SMDR.

"Perubahan rute perdagangan global juga berpotensi memberikan peluang tambahan bagi perusahaan pelayaran. Dalam kondisi tertentu, perubahan jalur perdagangan dapat meningkatkan jarak tempuh maupun permintaan terhadap jasa pengangkutan sehingga memberikan ruang bagi perusahaan untuk meningkatkan pendapatan," jelas Alrich.

Ia juga melihat aksi net buy asing sebagai faktor yang memperkuat momentum penguatan saham SMDR.

Ekspansi armada juga dinilai berpotensi menjadi katalis pertumbuhan berikutnya, terutama apabila pertumbuhan kapasitas tersebut dapat diikuti oleh peningkatan utilisasi dan volume angkutan.

Sebagai informasi, SMDR menganggarkan belanja modal (capex) sebesar Rp 500 miliar tahun ini. Capex dialokasikan untuk pengembangan bisnis, yakni pembelian kapal, pembangunan Galangan Samudera Madua, pengembangan pelabuhan, termasuk pelabuhan Patimban, dan pengembangan bisnis logistik lainnya.
 

Masih bullish

Dari sisi teknikal, Alrich masih melihat tren utama SMDR berada dalam fase bullish. Tetapi dia menyarankan agar tidak terburu-buru mengejar harga setelah saham mengalami reli cukup panjang.

Area Rp 400 menjadi level yang dapat dicermati untuk mencari peluang entry apabila terjadi pullback.

Alrich memberikan rekomendasi entry di area Rp 400 atau lebih rendah, dengan target harga Rp 440 dan stop loss apabila harga turun di bawah Rp 386.

Sementara Bima mencermati kembali masuknya investor asing yang memperkuat momentum saham SMDR, yakni mencapai Rp36,35 miliar pada awal Oktober.

Tetapi dia juga mengingatkan bahwa nilai transaksi asing tersebut masih relatif kecil apabila dibandingkan dengan kapitalisasi pasar SMDR yang berada di kisaran Rp 6,8 triliun.

"Akumulasi asing memang menjadi sentimen positif, tetapi belum cukup untuk menjadi satu-satunya alasan bagi investor untuk mengejar saham SMDR di level harga saat ini. Apalagi, setelah mengalami rally sejak Juli, ruang penguatan saham SMDR mulai dinilai lebih terbatas," tuturnya.

Bima memperkirakan saham SMDR memiliki potensi menuju level Rp 450, walau semakin tinggi harga saham, perlu untuk semakin memperhatikan apakah kenaikan tersebut masih ditopang oleh realisasi kinerja keuangan.

“Ruang kenaikan ke depan cenderung lebih terbatas sampai level harga Rp450, jadi investor perlu mencermati realisasi kinerja sampai dengan kuartal IV nanti,” imbuhnya.

Meski demikian, ia masih melihat prospek SMDR hingga akhir 2026 secara positif. Laba usaha SMDR diproyeksikan masih dapat tumbuh sekitar 15% YoY hingga 20% YoY hingga akhir tahun.

Ini Artikel Spesial
Agar bisa lanjut membaca sampai tuntas artikel ini, pastikan Anda sudah berlangganan.
Sudah Berlangganan?
Berlangganan dengan Google
Gratis uji coba 7 hari pertama dan gunakan akun Google sebagai metode pembayaran.
Business Insight
Artikel pilihan editor Kontan yang menyajikan analisis mendalam, didukung data dan investigasi.
Kontan Digital Premium Access
Paket bundling Kontan berisi Business Insight, e-paper harian dan tabloid serta arsip e-paper selama 30 hari.
Masuk untuk Melanjutkan Proses Berlangganan
Bagikan
Topik Terkait

Berita Terkait

Berita Terbaru

Prospek Penerbitan Obligasi Korporasi oleh Emiten Masih Terbuka Hingga Akhir Tahun
| Jumat, 16 Oktober 2026 | 11:00 WIB

Prospek Penerbitan Obligasi Korporasi oleh Emiten Masih Terbuka Hingga Akhir Tahun

Di tengah suku bunga tinggi dan persaingan imbal hasil dengan SBN, investor cenderung menuntut kompensasi risiko yang lebih besar.

Manuver Maxglory di Balik Saham SQMI: Bayang Utang, Valuasi, dan Proyek Ciemas
| Jumat, 16 Oktober 2026 | 09:30 WIB

Manuver Maxglory di Balik Saham SQMI: Bayang Utang, Valuasi, dan Proyek Ciemas

Masalah paling mendasar yang dihadapi SQMI sejatinya terletak pada macetnya pengembangan pabrik pengolahan emas Ciemas.

Terbitkan 170 Juta Saham Baru, PTRO Siap Menggelar Rights Issue
| Jumat, 16 Oktober 2026 | 09:04 WIB

Terbitkan 170 Juta Saham Baru, PTRO Siap Menggelar Rights Issue

Emiten kontraktor pertambangan batubara milik taipan Prajogo Pangestu itu akan menerbitkan maksimal 170 juta saham baru atau setara 1,69%.

Danantara, INA, dan TPIA Tuntaskan Investasi Strategis
| Jumat, 16 Oktober 2026 | 08:58 WIB

Danantara, INA, dan TPIA Tuntaskan Investasi Strategis

Kesepakatan ini menjadi langkah penting dalam memperkuat kapasitas industri soda kaustik dan ethylene dichloride (EDC) di pasar domestik.

Inflasi AS Melejit, Pasar Keuangan Asia Menjerit
| Jumat, 16 Oktober 2026 | 08:52 WIB

Inflasi AS Melejit, Pasar Keuangan Asia Menjerit

Kenaikan data inflasi Amerika Serikat bulan September 2026 mengguncang bursa saham dan mata uang di Asia.

Kebakaran Hutan Berpotensi Membakar Kinerja Emiten CPO
| Jumat, 16 Oktober 2026 | 08:26 WIB

Kebakaran Hutan Berpotensi Membakar Kinerja Emiten CPO

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai menjadi risiko operasional bagi sejumlah emiten perkebunan kelapa sawit. 

Tantangan Saham Telekomunikasi
| Jumat, 16 Oktober 2026 | 08:24 WIB

Tantangan Saham Telekomunikasi

Tekanan di Bursa Efek Indonesia (BEI) turut membuat saham-saham telekomunikasi dan infrastruktur pendukungnya berguguran.

MSCI Berpotensi Downgrade Indonesia, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini, Jumat (16/10)
| Jumat, 16 Oktober 2026 | 08:24 WIB

MSCI Berpotensi Downgrade Indonesia, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini, Jumat (16/10)

Penyedia layanan indeks global, MSCI yang mengumumkan dimulainya konsultasi untuk mengklasifikasikan ulang Indeks MSCI Indonesia.

Emiten Keluar HSC di Saat Pasar Penuh Tekanan, Apa Dampaknya ke Harga Saham?
| Jumat, 16 Oktober 2026 | 08:00 WIB

Emiten Keluar HSC di Saat Pasar Penuh Tekanan, Apa Dampaknya ke Harga Saham?

Cara paling cepat untuk mengurangi konsentrasi kepemilikan adalah dengan mengurangi kepemilikan pengendali secara langsung di pasar.

Dilego Asing Rp 1,6 Triliun, GOTO Jadi Saham Terbanyak Dilepas pada Oktober Berjalan
| Jumat, 16 Oktober 2026 | 07:36 WIB

Dilego Asing Rp 1,6 Triliun, GOTO Jadi Saham Terbanyak Dilepas pada Oktober Berjalan

Deutsche Bank hingga State Street Corp terpantau melepas sebagian kepemilikannya di PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO).

INDEKS BERITA

Terpopuler