Sell on May and Go Away di Bursa Efek Indonesia

Senin, 15 Mei 2023 | 16:07 WIB
Sell on May and Go Away di Bursa Efek Indonesia
[ILUSTRASI. Lukas Setiaatmadja]
Lukas Setia Atmaja | IG: lukas_setiaatmaja; www.hungrystock.com

KONTAN.CO.ID -  Apakah kalender mempengaruhi imbal hasil saham? Sell in May and Go Away (SMGA)  adalah ungkapan populer di pasar modal Amerika Serikat (AS) untuk menunjukkan kepercayaan terhadap pengaruh kalender terhadap harga saham. SMGA adalah strategi investasi unik. Ia tidak didasarkan  analisis fundamental maupun teknikal. Namun pada aspek musiman (seasonal strategy).

Dalam buku Stock Trader’s Almanac, Jeffrey Hirsch mengungkapkan, superioritas periode awal November hingga akhir April (best period) terhadap periode awal Mei hingga akhir Oktober (worst period). Rata-rata kenaikan harga indeks saham Dow Jones Industrial Average pada best period selama 54 tahun terakhir adalah 7,5%. Sedangkan rata-rata harga saham di worst period hanya naik 0,3%.

Bouman dan Jacobsen (2002) melakukan riset dengan sampel 37 negara dengan data hingga1998. Mereka mengindikasikan bahwa di 35 negara terjadi fenomena "SMGA Effect", imbalhasil November-April lebih tinggi dari imbal hasil Mei-Oktober.

Andrade  dari Chartered Financial Institute (2013) melanjutkan riset Bouman dan Jacobsen dengan meneliti periode 1998-2012 di 37 negara. Mereka juga menemukan imbal hasilNovember-April lebih tinggi dari periode Mei-Oktober. 

Baca Juga: Waspada, Ada Cuan dan Jebakan Saat Sell In May and Go Away

Tapi penyebab SMGA Effect masih belum jelas.  Di AS pada Mei-Oktober terdapat 2 bulan yang buruk kinerjanya. September adalah bulan terburuk bagi investor saham di AS. Rata-rata imbal hasil di September index Standard & Poor 500 sejak 1950 adalah minus 0,65%. Bandingkan dengan bulan terbaik, Desember rata-rata imbal hasil 1,59%. Oktober sering terpilih mengalami market crash. 

Bagaimana di Indonesia? Dari analisis Indeks HargaSaham Gabungan (IHSG) selama 1 Mei 2001 – 30 April 2023 saya menemukan rata-rata imbal hasil investasi saham periode 1 Mei – 30 Oktober (worst period) adalah 2,82%.

Jauh di bawah rata-rata imbal hasil investasi periode 1 November – 31 April (best period) sebesar 14,03%. Perbedaan imbal hasil ini setelah diuji secara statistik dengan tingkat nyata 5%. Tapi hasil ini harus disikapi dengan hati-hati. Ada data outlier di tahun 2008, best period lebih baik dari worst period sebesar 103%. 

Ini karena krisis finansial global 2008. Saat itu IHSG turun drastis di  Mei hingga Oktober 2008, kemudian rebound hingga Mei 2009. Jika data outlier ini dikeluarkan dari perhitungan, beda rata-rata imbal hasil best period dan worst period tidak nyata ketika diuji secara statistik dengan tingkat nyata 5%. Artinya, jika data periode akhir April 2008 - akhir April 2009 tidak diperhitungkan, fenomena SMGA di BEI tidak eksis.

Selisih antara imbal hasil best period dan worst period cukup besar, rata-rata 11,21%. Dari 20 best period yang diteliti, hanya empat periode investor rugi.

Baca Juga: Ketidakpastian Tinggi, Cermati Waktu yang Tepat Masuk Pasar Saham

Sedangkan dari 20 worst period, ada 8 periode dimana investor rugi. Mirip fenomena di AS, di Bursa Efek Indonesia, Oktober adalah bulan berkinerja terburuk dan Desember adalah bulan berkinerja terbaik.

Bagi investor jangka panjang, faktor kalender tidak menjadi pertimbangan utama membuat keputusan investasi. Investor jangka panjang akan membeli saham jika prospek dan harga menarik, serta menjual saham jika harga naik tinggi (overpriced). Jika di akhir Mei 2020, banyak saham bagus yang diskon. tidak perlu menunggu awal November 2020 untuk membeli. 

Atau, jika di akhir Oktober ada saham overpriced, tidak perlu menunggu hingga Mei tahun berikutnya untuk menjual saham tersebut. Ada pepatah di antara para investor jangka panjang, "Time in the market beats timing the market." Sedangkan investor seperti Lo Kheng Hong pernah membuat wisdom, "Buy on May and Go to Sleep".

Bagikan

Berita Terkait

Berita Terbaru

Kunci Investasi Sukses Dirut Trust Sekuritas Gurasa Saigan
| Sabtu, 21 Februari 2026 | 07:00 WIB

Kunci Investasi Sukses Dirut Trust Sekuritas Gurasa Saigan

Krisis moneter 1998 menghantam portofolio Gurasa Saigan. Temukan mengapa ia memilih tidak cut loss dan strategi yang ia terapkan.

 RI-AS Teken Perjanjian, Stop Impor Tetap Jalan
| Sabtu, 21 Februari 2026 | 06:12 WIB

RI-AS Teken Perjanjian, Stop Impor Tetap Jalan

Kementerian ESDM menegaskan, penghentian impor solar, bensin dan avtur di luar kesepakatan dagang dengan pihak AS

 Mantan Sales Jadi Pengusaha Sukses
| Sabtu, 21 Februari 2026 | 06:04 WIB

Mantan Sales Jadi Pengusaha Sukses

Perjuangan Alamsyah Cheung rintis usaha alat pelacakan GPS dan membesarkan PT Sumber Sinergi Makmur Tbk

SMDR Siapkan Capex US$ 200 Juta di 2026: Patimban & Armada Baru Dongkrak Laba?
| Sabtu, 21 Februari 2026 | 05:00 WIB

SMDR Siapkan Capex US$ 200 Juta di 2026: Patimban & Armada Baru Dongkrak Laba?

Samudera Indonesia (SMDR) siapkan US$200 juta untuk Patimban dan armada baru. Strategi ini diharapkan meningkatkan kinerja perusahaan pada 2026.

Rugi Nggak Nawar
| Sabtu, 21 Februari 2026 | 04:35 WIB

Rugi Nggak Nawar

Cara pemerintah tatkala berurusan dengan permintaan dari negara atau pihak lain tidak seperti gaya tawar-menawar ala pasar.

Momentum Pertumbuhan Bank Syariah
| Sabtu, 21 Februari 2026 | 04:30 WIB

Momentum Pertumbuhan Bank Syariah

Bulan Ramadan saat ini seharusnya bisa menjadi momen untuk mewujudkan prinsip-prinsip ekonomi syariah.​

Nilai Tukar Rupiah Sepekan Ini Terseret Sentimen Geopolitik dan Domestik
| Sabtu, 21 Februari 2026 | 04:00 WIB

Nilai Tukar Rupiah Sepekan Ini Terseret Sentimen Geopolitik dan Domestik

Nilai tukar rupiah bergerak fluktuatif pekan ini. Analis melihat ada peluang meski trennya melemah terbatas. Cek proyeksi selengkapnya.

Matahari Putra Prima (MPPA) Rancang Rights Issue, Siap Terbitkan 24 Miliar Saham Baru
| Sabtu, 21 Februari 2026 | 03:49 WIB

Matahari Putra Prima (MPPA) Rancang Rights Issue, Siap Terbitkan 24 Miliar Saham Baru

Emiten ritel dari Lippo Group, akan menerbitkan 24 miliar saham baru dengan nilai nominal Rp 50 per saham dalam aksi rights issue. ​

Terpapar Sentimen Data Ekonomi dan Harga Komoditas, IHSG Anjlok 0,23% Dalam Sepekan
| Sabtu, 21 Februari 2026 | 03:41 WIB

Terpapar Sentimen Data Ekonomi dan Harga Komoditas, IHSG Anjlok 0,23% Dalam Sepekan

Pergerakan IHSG di sepanjang pekan ini masih dipengaruhi sejumlah sentimen. Di antaranya, sentimen rilis data ekonomi makro Amerika Serikat (AS).​

Harga Emas Mengkilat, Saham Emiten Menguat
| Sabtu, 21 Februari 2026 | 03:35 WIB

Harga Emas Mengkilat, Saham Emiten Menguat

Harga emas kembali melesat. Kondisi ini menjadi angin segar yang kesekian bagi emiten-emiten produsen emas pada tahun ini. 

INDEKS BERITA

Terpopuler