Semen Indonesia (SMGR) Optimistis Kinerja Keuangan Membaik

Selasa, 07 Mei 2019 | 07:00 WIB
Semen Indonesia (SMGR) Optimistis Kinerja Keuangan Membaik
[]
Reporter: Sinar Putri S.Utami | Editor: Narita Indrastiti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja keuangan PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) di kuartal pertama tahun ini kurang memuaskan. Kinerja perusahaan tertekan oleh biaya akuisisi PT Holcim Indonesia Tbk (SMCB).

Meski begitu, manajemen optimistis kinerjanya bakal membaik. "Mulai tahun ini akan lebih baik," ujar Sekretaris Perusahaan SMGR Sigit Wahono kepada KONTAN, Senin (6/5).

Ekspektasi tersebut tecermin dari EBITDA perusahaan yang masih positif, meski laba bersihnya mengalami penurunan. EBITDA SMGR sepanjang kuartal pertama tahun ini Rp 1,5 triliun, naik 38% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Asal tahu saja, laba bersih SMGR kuartal pertama tahun ini turun 35% menjadi Rp 268,10 miliar. Penyebabnya, beban keuangan perusahaan ikut meroket 210% menjadi Rp 711,62 miliar.

Kenaikan itu lantaran pada 29 Januari lalu, SMGR menarik pinjaman sindikasi senilai US$ 926,97 juta atau setara Rp 13,07 triliun. Adapun nilai akuisisi yang digelontorkan mencapai US$ 916,93 juta atau setara Rp 12,96 triliun.

Fasilitas pinjaman itu memiliki jangka waktu dua tahun dan akan jatuh tempo pada 12 November 2020. Bunga yang ditetapkan merupakan mengambang berdasarkan Libor 3 bulan ditambah dengan margin.

Analis Indo Premier Sekuritas Willy Goutama mengatakan, posisi EBITDA SMGR sesuai dengan ekspektasi pasar. Ini menunjukkan kinerja keuangan SMGR masih bisa pulih.

"Kenaikan EBITDA didorong oleh rata-rata jual domestik yang lebih tinggi," ujar Willy dalam riset 3 Mei. Dia menambahkan, rata-rata harga jual atau average selling price (ASP) semen domestik secara kuartalan dan tahunan masing-masing naik 15% dan 30%.

Volume penjualan SMGR kuartal pertama turun 3,5% menjadi 5,9 juta ton. Namun, pada saat yang bersamaan, volume penjualan SMCB justru naik 4%. Sehingga, ke depan, akuisisi SMCB akan mendongkrak volume penjualan SMGR, terlebih untuk pasar Jawa dan Sumatra. "Itu indikasi yang baik dan sinergi positif setelah akuisisi tersebut," kata Willy.

Dia masih merekomendasikan buy dengan target harga Rp 15.800 per saham hingga akhir tahun. Kemarin, saham ini turun 8,98% menjadi Rp 11.150 per saham.

Bagikan

Berita Terbaru

GPRA Genjot Pertumbuhan dari Pemanfaatan Aset Lahan dan Recurring Income
| Senin, 06 April 2026 | 20:06 WIB

GPRA Genjot Pertumbuhan dari Pemanfaatan Aset Lahan dan Recurring Income

Sejumlah proyek bakal menjadi penopang pertumbuhan GPRA tahun ini, diantaranya Bukit Cimanggu City, Metro Cilegon dan Garden Ville Pamoyanan.

Prospek Menarik, Tapi Risiko Kurs Jadi Catatan untuk MBMA
| Senin, 06 April 2026 | 17:47 WIB

Prospek Menarik, Tapi Risiko Kurs Jadi Catatan untuk MBMA

Tekanan pada laba bersih MBMA di kuartal IV-2025 juga dipengaruhi oleh melemahnya kontribusi joint venture serta kenaikan biaya keuangan.

Agenda Reformasi Pasar Modal, Indonesia Berpotensi Naik Kelas
| Senin, 06 April 2026 | 07:23 WIB

Agenda Reformasi Pasar Modal, Indonesia Berpotensi Naik Kelas

Selesainya program peningkatan transparansi, integritas dan kredibilitas informasi kepemilikan saham dalam waktu cukup singkat hanya dua bulan. 

Prediksi Defisit Neraca Transaksi Berjalan Melebar
| Senin, 06 April 2026 | 07:05 WIB

Prediksi Defisit Neraca Transaksi Berjalan Melebar

Lonjakan harga minyak mentah dan pelemahan nilai tukar ru[iah diperkirakan akan mengerek biaya impo 

Asing Terus Net Sell, Rupiah Cetak Rekor Terburuk, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini
| Senin, 06 April 2026 | 07:03 WIB

Asing Terus Net Sell, Rupiah Cetak Rekor Terburuk, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

Bersamaan minggatnya asing, kurs rupiah di Jisdor Bank Indonesia (BI) mencapai Rp 17.015 per dolar AS. Paling buruk sepanjang sejarah. 

Bisnis Obat Resep Melesat, Laba Kalbe Farma Semakin Sehat
| Senin, 06 April 2026 | 06:43 WIB

Bisnis Obat Resep Melesat, Laba Kalbe Farma Semakin Sehat

Segmen bisnis obat resep berkontribusi ke pendapatan PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) pada 2025. Segmen ini tumbuh 11,00% yoy jadi Rp 10,24 triliun. ​

Pemerintah Klaim Stok Pangan Berlimpah
| Senin, 06 April 2026 | 06:40 WIB

Pemerintah Klaim Stok Pangan Berlimpah

Risiko terbesarnya adalah gagal panen yang berujung pada kerugian petani akibat biaya produksi tidak kembali dan turunnya pendapatan

Ramai-Ramai Bangun Rusun Bersubsidi
| Senin, 06 April 2026 | 06:37 WIB

Ramai-Ramai Bangun Rusun Bersubsidi

Pemerintah akan menerbitkan aturan rusun bersubsidi sehingga bisa mempercepat pembangunan dan mengejar target 3 juta rumah

Laba Emiten Properti Terhantam Daya Beli
| Senin, 06 April 2026 | 06:36 WIB

Laba Emiten Properti Terhantam Daya Beli

Emiten properti masih menemukan tantangan di 2026 akibat kondisi geopolitik. Ini memicu ketidakpastian ekonomi, yang bisa menurunkan daya beli.​

Pertamina Gandeng US Grains Garap Bioetanol
| Senin, 06 April 2026 | 06:32 WIB

Pertamina Gandeng US Grains Garap Bioetanol

USGBC merupakan organisasi nirlaba internasional yang mewakili produsen dan pemangku kepentingan industri biji-bijian

INDEKS BERITA

Terpopuler