Seruput Kopi di Tengah Angka Miskin Bank Dunia

Kamis, 10 September 2026 | 04:28 WIB
Seruput Kopi di Tengah Angka Miskin Bank Dunia
[ILUSTRASI. Kemiskinan Dan Pengangguran-Pengumpul barang bekas memikul karung di Jakarta (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)]
Iqbal Mochtar | Pengurus PB IDI dan PP IAKMI; Ketua Kluster Kedokteran dan Kesehatan Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Heboh mendengar laporan Bank Dunia yang menyebut 60,3% warga Indonesia masuk kategori miskin. Banyak orang mengelus dada. Bagaimana tidak? Versi Badan Pusat Statistik (BPS), angka kemiskinan kita terlihat molek di angka single digit, sekitar 9%. Namun, begitu Bank Dunia menggunakan standar negara upper-middle income -- yakni pengeluaran di bawah US$ 6,85 per hari berdasarkan ukuran purchasing power parity (PPP) -- tiba-tiba lebih dari separuh populasi negeri ini mendadak masuk dalam daftar rentan miskin dan miskin. 

Mana yang benar? Entah. Tapi kalau disuruh memilih, kelihatannya akan lebih banyak orang memilih data Bank Dunia. Selain lebih kredibel dan evidence-based, motif politik praktisnya tidak sekental data produksi dalam negeri. Terlepas dari itu, ada hal menarik. Data Bank Dunia sebenarnya merepresentasekan satu segmen mayoritas masyarakat Indonesia, yaitu aspiring middle class. Mereka adalah kelompok kelas menengah nanggung. Secara statistik BPS, mereka tidak tergolong miskin ekstrem karena masih sanggup makan nasi tiga kali sehari dan memiliki atap untuk berteduh. Secara kasat mata, mereka adalah kelompok yang tiap hari pergi kerja kantoran, naik moda transportasi umum modern, dan sesekali nongkrong sambil membeli kopi Janji Jiwa seharga Rp 20.000. Kelihatannya gaya, dinamis dan mapan.

Baca Juga: Libur Musim Panas Mulai Ramai, Pariwisata Indonesia Menggeliat pada Juli 2026

Ini Artikel Spesial
Agar bisa lanjut membaca sampai tuntas artikel ini, pastikan Anda sudah berlangganan.
Sudah Berlangganan?
Berlangganan dengan Google
Gratis uji coba 7 hari pertama dan gunakan akun Google sebagai metode pembayaran.
Business Insight
Artikel pilihan editor Kontan yang menyajikan analisis mendalam, didukung data dan investigasi.
Kontan Digital Premium Access
Paket bundling Kontan berisi Business Insight, e-paper harian dan tabloid serta arsip e-paper selama 30 hari.
Masuk untuk Melanjutkan Proses Berlangganan
Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Jangan Serakah Serok Beli Saham dan Panic Sell Berlebihan
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 12:53 WIB

Jangan Serakah Serok Beli Saham dan Panic Sell Berlebihan

Dengan kondisi pasar saham yang memerah, bagaimana saran keputusan investasi saat ini?              

Bencana dan Relevansi Instrumen Pembayaran
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 10:54 WIB

Bencana dan Relevansi Instrumen Pembayaran

Preferensi masyarakat terhadap pembayaran tunai banyak dipengaruhi oleh kenyamanan dan kemudahan yang dirasakan.

Meredam Inflasi
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 10:34 WIB

Meredam Inflasi

Masalahnya, lonjakan harga pangan semakin menjadi persoalan, karena terjadi saat daya beli masyarakat masih melemah.

BPJS Disuntik Dana Rp 20 Triliun: Efek ke Kinerja MIKA, SILO, dan HEAL Tak Serupa
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 09:57 WIB

BPJS Disuntik Dana Rp 20 Triliun: Efek ke Kinerja MIKA, SILO, dan HEAL Tak Serupa

Perbedaan porsi pasien jadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan investor dalam menilai potensi dampak tambahan dana BPJS Kesehatan.

Analisis Kinerja & Saham PWON: Marketing Sales Turun namun Tertolong Recurring Income
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 09:21 WIB

Analisis Kinerja & Saham PWON: Marketing Sales Turun namun Tertolong Recurring Income

Keberlanjutan insentif PPN DTP dan stabilitas suku bunga sebagai faktor yang dapat mendorong pemulihan permintaan properti.

Mengukur Efek Volatilitas Harga Minyak Dunia ke Saham MEDC, ENRG, dan RATU
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 08:58 WIB

Mengukur Efek Volatilitas Harga Minyak Dunia ke Saham MEDC, ENRG, dan RATU

PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) menjadi emiten yang paling langsung terpapar pergerakan harga minyak.

Peluang dan Risiko Saham Valuasi Rendah
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 08:20 WIB

Peluang dan Risiko Saham Valuasi Rendah

Tekanan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membuat sejumlah saham kini diperdagangkan dengan price to earnings ratio (PER) di bawah rata-rata. 

Paradoks Saham DSSA: Saat Minat Asing Bertabrakan dengan Tipisnya Order Book di Pasar
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 08:14 WIB

Paradoks Saham DSSA: Saat Minat Asing Bertabrakan dengan Tipisnya Order Book di Pasar

Volatilitas DSSA cenderung lebih tinggi dibandingkan saham berkapitalisasi besar lain yang punya basis pemegang saham lebih luas.

Efek Kredit Rakyat Rp 400 Triliun Diramal Terbatas
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 08:03 WIB

Efek Kredit Rakyat Rp 400 Triliun Diramal Terbatas

Secara nominal, kredit Rp 400 triliun setara sekitar 1,5% dari produk domestik bruto (PDB)          

Kinerja Bukalapak Kembali Keok, Penurunan Investasi Menjadi Biang Kerok
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 08:02 WIB

Kinerja Bukalapak Kembali Keok, Penurunan Investasi Menjadi Biang Kerok

Kerugian investasi menekan kinerja PT Bukalapak.com (BUKA), hingga berbalik mencatatkan rugi bersih.

INDEKS BERITA

Terpopuler