Seruput Kopi di Tengah Angka Miskin Bank Dunia
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Heboh mendengar laporan Bank Dunia yang menyebut 60,3% warga Indonesia masuk kategori miskin. Banyak orang mengelus dada. Bagaimana tidak? Versi Badan Pusat Statistik (BPS), angka kemiskinan kita terlihat molek di angka single digit, sekitar 9%. Namun, begitu Bank Dunia menggunakan standar negara upper-middle income -- yakni pengeluaran di bawah US$ 6,85 per hari berdasarkan ukuran purchasing power parity (PPP) -- tiba-tiba lebih dari separuh populasi negeri ini mendadak masuk dalam daftar rentan miskin dan miskin.
Mana yang benar? Entah. Tapi kalau disuruh memilih, kelihatannya akan lebih banyak orang memilih data Bank Dunia. Selain lebih kredibel dan evidence-based, motif politik praktisnya tidak sekental data produksi dalam negeri. Terlepas dari itu, ada hal menarik. Data Bank Dunia sebenarnya merepresentasekan satu segmen mayoritas masyarakat Indonesia, yaitu aspiring middle class. Mereka adalah kelompok kelas menengah nanggung. Secara statistik BPS, mereka tidak tergolong miskin ekstrem karena masih sanggup makan nasi tiga kali sehari dan memiliki atap untuk berteduh. Secara kasat mata, mereka adalah kelompok yang tiap hari pergi kerja kantoran, naik moda transportasi umum modern, dan sesekali nongkrong sambil membeli kopi Janji Jiwa seharga Rp 20.000. Kelihatannya gaya, dinamis dan mapan.
Baca Juga: Libur Musim Panas Mulai Ramai, Pariwisata Indonesia Menggeliat pada Juli 2026
