Berita Bisnis

Setelah Lemas, Pebisnis Wisata Mulai Bernapas

Rabu, 06 Oktober 2021 | 06:00 WIB
Setelah Lemas, Pebisnis Wisata Mulai Bernapas

Reporter: Amalia Nur Fitri | Editor: Azis Husaini

KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Pelaku bisnis hotel dan restoran merespons positif kebijakan pemerintah untuk membuka pintu bagi wisatawan mancanegara (wisman) ke Pulau Bali. Adapun wisman yang diperbolehkan baru berasal dari lima negara, yaitu Korea Selatan, Tiongkok, Jepang, Uni Emirat Arab dan Selandia Baru.

Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Maulana Yusran mengakui bisnis wisata di Bali sangat bergantung pada wisman, yang berkontribusi cukup besar terhadap okupansi hotel di Pulau Dewata. "Jika sudah dibuka kembali seperti sekarang, ada kesempatan okupansi kembali meningkat," ujar dia kepada KONTAN, Selasa (5/10).
 
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada Juli sampai Agustus 2021, Bali tak mencatatkan kunjungan wisman akibat pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) demi menekan penularan Covid-19.
 
Bali hanya menerima 43 kunjungan wisman sepanjang Januari-Agustus 2021, menurun 99,99% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya 1.069.199 kunjungan. 
 
Ihwal persiapan hotel dan restoran di Bali, Maulana menegaskan pelaku usaha senantiasa siap menerima tamu. Hal itu terlihat dari penerapan protokol kesehatan serta komponen produk dan pelayanan. Ia memastikan hotel dan restoran di Bali sudah memiliki standar kesehatan, kebersihan, keamanan, lingkungan, produk dan pelayanan yang aman.
 
Namun, PHRI juga menyoroti syarat karantina 8 hari bagi para wisman, yang berpotensi menambah biaya perjalanan yang cukup tinggi. Waktu karantina yang panjang serta tes PCR bagi wisman, bisa membuat wisman enggan melancong. Selain waktu berwisata berkurang, biaya pun menanjak. "Jangankan wisman, turis domestik saja pasti enggan bepergian jika syaratnya begitu. Bedanya, turis domestik bisa bepergian dengan jalur darat," ujar Maulana.
 
PHRI berharap suatu saat ada kelonggaran pada pelaksanaan karantina. Misalnya, wisman masih bisa keluar kamar hotel atau waktu karantina dipersingkat. Hal ini agar waktu wisata tak terbuang banyak. "Jika hal itu terjadi, tentu kami tetap memastikan kenyamanan dan keamanan pengunjung lain di hotel," kata Maulana.
 
Sekretaris Perusahaan PT Panorama Sentrawisata Tbk, AB Sadewa mengatakan, negara yang warganya boleh masuk melalui Bali memang bukan negara yang biasa ditangani PANR. Namun dia melihat kebijakan ini merupakan langkah bagus. "Kami memandang sangat positif, ini hal yang kami nantikan," kata dia kepada KONTAN, kemarin.
 
Sadewa menilai, efek kebijakan tersebut terhadap kinerja belum akan terlihat banyak hingga akhir tahun. Hal ini dengan asumsi belum akan banyak wisman yang datang dari lima negara yang diizinkan. Selama ini PANR banyak melayani wisman inbound asal Eropa, Amerika Serikat, Timur Tengah, Afrika Selatan dan Asia. Jika negara tersebut turut dibuka, kata dia, maka akan semakin berefek pada kinerja PANR tahun ini.
 
Direktur Pemasaran PT Eastparc Hotel Tbk (EAST), Wahyudi Eko Sutoro mengaku manajemen sulit memproyeksikan kinerja hingga akhir tahun nanti. Hal ini bergantung pada kebijakan pemerintah dalam penanggulangan wabah Covid-19. "Kami tetap fokus pada segmen MICE dan family. Kami berupaya untuk meningkatkan kinerja tahun ini agar lebih baik," kata dia, kemarin.       


Baca juga