Simak Rekomendasi Saham ARTO di Tengah Risiko Kredit yang Meningkat
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bank Jago Tbk (ARTO) mencatatkan kinerja yang tetap kuat sepanjang sembilan bulan pertama tahun 2025, meskipun menghadapi tekanan dari kenaikan cost of fund (CoF) dan cost of kredit (CoC) yang lebih tinggi.
Victor Stefano dan Naura Reyhan Muchlis, analis BRI Danareksa Sekuritas dalam risetnya yang dipublikasi pada 30 Oktober 2025 bilang laba bersih ARTO mencapai Rp 199 miliar, melonjak 132% secara tahunan atau year on year (YoY) namun capain ini masih berada di bawah estimasi BRIDS, hanya 69% dari proyeksi internal dan 73% dari konsensus analis untuk tahun 2025.
Kenaikan laba ini didorong oleh peningkatan margin bunga bersih (NIM) menjadi 8,5%, naik 134 basis poin (bps) dibanding tahun sebelumnya. Lonjakan NIM tersebut berhasil mengimbangi kenaikan CoC menjadi 4,0% atau naik 251 bps YoY, yang konsisten dengan strategi Bank Jago untuk memperluas portofolio pembiayaan pada segmen dengan profil risiko lebih tinggi.
Namun, di sisi lain, rasio dana murah (CASA) menurun ke 48%, turun 845 bps YoY, akibat pergeseran komposisi dana ke deposito berjangka. Kondisi ini membuat biaya dana (CoF) meningkat menjadi 4,5%. Meski demikian, manajemen Bank Jago optimistis tekanan tersebut akan mulai mereda mulai September 2025 seiring perbaikan struktur pendanaan.
Efisiensi operasional menjadi salah satu sorotan positif. Cost to income ratio (CIR) membaik tajam ke 58%, turun 2.007 bps YoY, didorong oleh kombinasi peningkatan NIM, pendapatan berbasis komisi (fee based income), dan pengendalian beban operasional. Kredit bermasalah (NPL) tetap terjaga di level rendah 0,4%, sedangkan loan at risk (LaR) berada di 5,9%, menunjukkan kualitas aset yang masih solid.
Pada kuartal III 2025, Bank Jago membukukan laba bersih Rp 72 miliar, naik 8% secara kuartalan (QoQ) dan 101% secara tahunan (YoY). Meski pertumbuhan tahunan cukup kuat, momentum bulanan sedikit melambat karena meningkatnya biaya dana. NIM tercatat naik 20 bps QoQ ke 8,3%, ditopang oleh kenaikan imbal hasil aset produktif (EA yield) yang mampu menutupi kenaikan CoF sebesar 35 bps akibat berkurangnya cakupan asuransi pinjaman.
Pertumbuhan kredit juga menunjukkan momentum positif dengan kenaikan 9% secara bulanan (MoM), sementara dana pihak ketiga (DPK) meningkat 7% MoM. Hal ini mendorong loan to deposit ratio (LDR) naik menjadi 98%. Pinjaman yang terkait dengan ekosistem GOTO masih mendominasi di kisaran 20-21%, sementara portofolio direct lending baru mulai menunjukkan pertumbuhan di kisaran 4-5%.
Pendapatan berbasis komisi meningkat signifikan 15% QoQ dan 53% YoY, mencerminkan diversifikasi sumber pendapatan Bank Jago di luar bunga pinjaman. Namun, peningkatan aktivitas bisnis ini juga diikuti oleh kenaikan biaya operasional (opex) yang mencapai Rp 424 miliar, naik 4% QoQ dan 22% YoY, terutama berasal dari biaya tenaga kerja dan pengembangan teknologi informasi.
Ke depan, manajemen Bank Jago tetap berhati-hati namun optimistis terhadap prospek penyaluran kredit langsung (direct lending). Pertumbuhan kredit tahun 2025 diproyeksikan mencapai 35%-40%, dengan ekspektasi perbaikan CoF pada kuartal IV 2025. Sementara itu, CoC diperkirakan tetap di bawah 4%, menandakan strategi mitigasi risiko yang efektif.
Untuk efisiensi, pertumbuhan opex diperkirakan masih di atas 20% hingga akhir tahun, namun akan berangsur turun ke kisaran belasan persen dalam jangka menengah. Bank juga menargetkan CIR di bawah 60% pada 2025, dan secara bertahap menurunkannya hingga di bawah 40% dalam jangka panjang.
Manajemen memperkirakan NIM berbasis risiko (risk adjusted NIM) akan meningkat pada tahun fiskal 2026, didorong oleh kombinasi antara ekspansi kredit langsung dan penurunan biaya dana. Selain itu, Bank Jago berencana memperluas layanan ritel melalui peluncuran produk asuransi dan investasi berbasis emas, memperkuat posisinya sebagai bank digital dengan diversifikasi produk yang lebih luas.
Boby Kristanto Chandra dan Kresna Hutabrat , Analis Mandiri Sekuritas menilai kinerja ARTO pada sembilan bulan pertama tahun 2025 menunjukkan pertumbuhan yang sangat solid. Perseroan berhasil mencatat kenaikan laba bersih sebesar 132% secara tahunan (YoY), didorong oleh ekspansi kredit yang kuat serta peningkatan pendapatan berbasis komisi (fee based income).
Pertumbuhan kredit Bank Jago tercatat jauh melampaui ekspektasi awal, seiring meningkatnya kepercayaan nasabah dan strategi penyaluran kredit yang lebih agresif ke segmen ritel maupun ekosistem digital. Mandiri Sekuritas memperkirakan pertumbuhan kredit tahun penuh 2025 akan melampaui panduan awal sebesar 30% YoY, menunjukkan kecepatan ekspansi yang lebih tinggi dari rata-rata industri perbankan nasional.
Selain itu, momentum pendapatan non-bunga terus menguat, menjadi pendorong penting bagi diversifikasi sumber pendapatan Bank Jago. Kombinasi antara pertumbuhan fee based income dan pengelolaan biaya dana CoF yang semakin efisien memberikan ruang bagi perbaikan margin keuntungan secara keseluruhan.
Melihat ke depan, Mandiri Sekuritas menilai prospek margin berbasis risiko (risk adjusted margin) pada tahun 2026 akan terus membaik. Peningkatan ini diperkirakan terjadi seiring penurunan biaya dana dan kontribusi yang semakin besar dari portofolio direct lending, yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi dan memperkuat posisi Bank Jago sebagai salah satu bank digital dengan kinerja paling cepat berkembang di Indonesia.
Rekomendasi Saham
Mandiri Sekuritas tetap merekomendasikan buy untuk saham Bank Jago (ARTO) di level harga Rp 2.360, dengan target harga (TP) di Rp 3.000 per saham. Rekomendasi ini mencerminkan keyakinan analis terhadap prospek pertumbuhan ARTO yang solid, didukung oleh ekspansi kredit yang agresif, peningkatan efisiensi biaya dana, serta kontribusi yang kian besar dari portofolio direct lending yang berpotensi memperkuat margin keuntungan dalam jangka menengah.
BRIDS juga mempertahankan rekomendasi beli untuk saham Bank Jago (ARTO), didukung oleh prospek pertumbuhan kredit yang solid, kualitas aset yang tetap terjaga, serta potensi peningkatan margin pada paruh kedua tahun 2025.
Meski demikian, BRIDS menurunkan estimasi kinerja tahun penuh 2025, tahun 2026 dan tahun 2027 masing-masing sebesar 4,2%, 6,6%, dan 1,1% untuk menyesuaikan dengan proyeksi CoF yang lebih tinggi dari perkiraan awal.
Seiring penyesuaian tersebut, target harga (TP) ARTO direvisi menjadi Rp 3.100 per saham, berdasarkan model valuasi 3-stage dividend discount model (DDM) dengan asumsi pertumbuhan jangka panjang (LTG) sebesar 8,0% dan biaya ekuitas (CoE) sebesar 10,0%.
BRIDS menekankan bahwa potensi risiko utama terhadap pandangan ini adalah kenaikan CoF dan CoC yang lebih tinggi dari ekspektasi, namun tetap menilai arah fundamental Bank Jago positif seiring penguatan bisnis pinjaman langsung dan efisiensi operasional yang berkelanjutan.
Sedangkan, Phintraco Sekuritas menilai secara teknikal saham Bank Jago (ARTO) tengah menguji area support di level 2.100, dengan penurunan volume perdagangan yang menandakan tekanan jual mulai terbatas.
Kondisi ini membuka peluang terjadinya rebound dalam waktu dekat, terutama jika harga mampu bertahan di atas level support tersebut. Konfirmasi penguatan akan terlihat apabila ARTO berhasil menembus area pivot di 2.200, yang dapat menjadi sinyal awal pergerakan positif lanjutan.
Phintraco Sekuritas merekomendasikan strategi buy on support dengan level entry di 2.110–2.130, stop loss di bawah 2.060, serta menetapkan target harga pertama di 2.250 dan target kedua di 2.380. Dengan potensi teknikal yang menarik ini, saham ARTO dinilai memiliki ruang kenaikan yang cukup menjanjikan, terutama jika sentimen pasar kembali positif terhadap sektor keuangan digital di kuartal mendatang.
