S&P Menaikkan Rating Aneka Tambang (ANTM)

Rabu, 10 Juli 2019 | 21:31 WIB
S&P Menaikkan Rating Aneka Tambang (ANTM)
[]
Reporter: Yuwono Triatmodjo | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. S&P menaikkan corporate credit rating PT Aneka Tambang Tbk (ANTM). Seperti diumumkan manajemen emiten anggota indeks Kompas100 ini, Rabu (10/7), peringkat ANTM naik dari semula B- dengan outlook positif, menjadi B dengan outlook yang sama.

Dalam keterangannya, Direktur Utama ANTM Arie Prabowo menyatakan bahwa prospek kinerja ANTM yang solid ke depan, tercermin dari pencapaian kinerja sepanjang kuartal I-2019. Kala itu, ANTM mampu mencetak penjualan bersih Rp 6,22 triliun atau naik 9% dibandingkan periode yang sama tahun 2018. Alhasil, ANTM mampu membukukan laba bersih hingga Rp 171,67 miliar.

Guna menjaga kinerja ANTM, Arie menyatakan pihaknya berorientasi pada pengembangan komoditas hilir yang bernilai tambah. ANTM, lanjut Arie, berkomitmen menyelesaikan proyek-proyek pengembangan hilirisasi yang telah diinisiasi sebagai bagian dari upaya untuk mendukung pengembangan bisnis dan meningkatkan nilai tambah komoditas tambang.

Sebagai bagian dari strategi tersebut, saat ini ANTM sedang menyelesaikan konstruksi proyek pembangunan pabrik feronikel Haltim (P3FH). Pabrik ini kelak memiliki kapasitas produksi 13.500 TNi.

Hingga akhir Juni 2019, realisasi konstruksi P3FH telah mencapai 97% dan direncanakan fase commissioning pabrik akan dilaksanakan pada triwulan ke-4 2019.

Kelak, dengan selesainya proyek P3FH, akan meningkatkan kapasitas total terpasang feronikel ANTM sebesar 50% dari kapasitas produksi feronikel terpasang saat ini sebesar 27.000 TNi per tahun.

Adapun dalam hal pengembangan bauksit, ANTM kini terus membangun pabrik smelter grade alumina refinery (SGAR) berkapasitas 1 juta ton SGA per tahun. Proyek ini merupakan hasil kerjasama dengan PT Inalum sebagai induk industri pertambangan.

Bagikan

Berita Terbaru

Poultry Bersinar di Awal Tahun, Akankah Bertahan Hingga Akhir 2026?
| Selasa, 31 Maret 2026 | 07:06 WIB

Poultry Bersinar di Awal Tahun, Akankah Bertahan Hingga Akhir 2026?

Laba dua emiten besar sektor ini, yakni CPIN dan JPFA, berpotensi melampaui ekspektasi pasar pada awal tahun.

Kinerja BLOG Ditopang Bisnis Logistik Cold Chain
| Selasa, 31 Maret 2026 | 06:49 WIB

Kinerja BLOG Ditopang Bisnis Logistik Cold Chain

Mengutip laporan keuangan perusahaan, BLOG mencatat pendapatan sebesar Rp 1,33 triliun, meningkat 23% dibandingkan tahun sebelumnya.

Pertamina Memacu Produksi Sumur Existing
| Selasa, 31 Maret 2026 | 06:45 WIB

Pertamina Memacu Produksi Sumur Existing

Upaya ini dilakukan untuk menahan laju penurunan alami produksi sekaligus menjaga kontribusi terhadap ketahanan energi nasional.

Industri Hilir Nikel Hadapi Tekanan Ganda
| Selasa, 31 Maret 2026 | 06:41 WIB

Industri Hilir Nikel Hadapi Tekanan Ganda

pemerintah akan mencari pemasukan tambahan bagi negara, salah satunya dari komoditas nikel yang bakal dikenakan pajak ekspor.

 Pemerintah Menahan Harga BBM Bersubsidi
| Selasa, 31 Maret 2026 | 06:38 WIB

Pemerintah Menahan Harga BBM Bersubsidi

Pemerintah tidak menaikkan harga BBM subsidi untuk menjaga beli masyarakat yang bisa mengerek inflasi akibat kenaikan harga barang

Mewaspadai Kenaikan Harga BBM
| Selasa, 31 Maret 2026 | 06:33 WIB

Mewaspadai Kenaikan Harga BBM

Hanya BBM nonsubsidi yang mungkin mengalami perubahan harga pada awal April 2026 lantaran lonjakan harga minyak dunia

Bulan Ramadan Tak Kuat Mendongkrak Daya Beli
| Selasa, 31 Maret 2026 | 06:30 WIB

Bulan Ramadan Tak Kuat Mendongkrak Daya Beli

​Daya beli masyarakat Indonesia melemah, pertumbuhan kredit konsumsi melambat meski terdorong momentum Ramadan.

Neraca Perdagangan Masih Akan Mencatat Surplus
| Selasa, 31 Maret 2026 | 06:25 WIB

Neraca Perdagangan Masih Akan Mencatat Surplus

Neraca perdagangan Februari 2026 diperkirakan kembali mencatat surplus meski pertumbuhan impor lebih tinggi dari ekspor

Likuiditas Berlebih, Dana Bank Kian Masif Berlabuh ke Surat Berharga
| Selasa, 31 Maret 2026 | 06:15 WIB

Likuiditas Berlebih, Dana Bank Kian Masif Berlabuh ke Surat Berharga

​Likuiditas masih longgar, bank besar lebih agresif menempatkan dana di obligasi saat kredit melambat.

Rupiah Tembus 17.000 per Dolar AS, Pemerintah Bertanggung Jawab Jaga Fiskal
| Selasa, 31 Maret 2026 | 06:15 WIB

Rupiah Tembus 17.000 per Dolar AS, Pemerintah Bertanggung Jawab Jaga Fiskal

Bukan cuma likuiditas, program prioritas pemerintah turut jadi beban berat bagi rupiah. Siapa yang harus bertanggung jawab? Baca selengkapnya.

INDEKS BERITA

Terpopuler