Stok Beras Melimpah Tapi Harga Tetap Naik, Apa yang Terjadi?
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indonesia seolah sedang menghadapi paradoks terkait dengan beras. Di satu sisi, stok beras pemerintah sedang berada di level yang sangat tinggi, tetapi harga beras di pasar justru masih menunjukkan kenaikan. Bahkan kenaikan harga beras ini berpotensi masih terus berlanjut hingga kuartal I-2027 mendatang.
Badan Pusat Statistik (BPS) menyampaikan harga beras di pekan pertama Oktober 2026 masih meningkat 0,16%. Sementara pada September lalu, keadaan tak berbeda jauh. Harga rata-rata beras berbagai kualitas di tingkat eceran mencapai Rp 15.769 per kg, melampaui rekor Rp 15.517 per kg pada Maret 2024.
Kondisi tersebut terjadi ketika stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) di Perum Bulog telah mencapai sekitar 4,48 juta ton pada akhir September. CBP Bulog memang sempat mencapai rekor 5,4 juta ton pada Juli 2026 dan masih 4,8 juta ton pada awal September, tetapi harga beras terus meningkat.
Tak hanya itu, secara tahunan produksi beras nasional juga diperkirakan mencapai sekitar 34 juta ton, lebih tinggi dibandingkan konsumsi nasional yang berada di kisaran 31 juta ton.
Baca Juga: Di Balik Mahalnya Sepiring Nasi
Saat dikonfirmasi, BPS menambahkan data bahwa seiring dengan proyeksi kenaikan harga beras di kuartal I-2027 mendatang, mereka bahkan turut memproyeksi adanya penurunan produksi beras nasional periode Januari-November 2026 menjadi hanya 32,34 juta ton, turun 939.236 ton atau 2,82% dibandingkan periode yang sama 2025. Untuk Oktober 2026-Januari 2027 saja, kebutuhan diperkirakan mencapai 10,16 juta ton.
Melihat hal ini, Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan surplus produksi secara tahunan tidak otomatis berarti pasokan beras akan mencukupi setiap bulan.
Menurutnya, periode Oktober hingga Januari 2026 merupakan masa ketika sebagian sentra produksi mulai memasuki periode tanam. Dalam kata lain, pasokan baru dari hasil panen tidak masuk ke pasar dalam jumlah besar.
Di sisi lain, konsumsi beras tetap berjalan. Dengan konsumsi nasional sekitar 2,54 juta ton per bulan, tekanan terhadap persediaan akan meningkat hingga memasuki periode panen berikutnya.
“Surplus tahunan tidak otomatis berarti pasokan cukup setiap bulan,” ujar Yusuf saat dihubungi KONTAN, Rabu (7/10).
Risiko tersebut semakin besar akibat gangguan kondisi cuaca. BPS sebelumnya memperkirakan produksi Januari-November 2026 sekitar 32,34 juta ton, turun 2,82% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan fenomena El Niño dapat bertahan hingga awal 2027.
