Strategi CTRA: Bagaimana Pengembang Ini Lolos dari Tantangan Properti 2026?

Sabtu, 04 Juli 2026 | 07:00 WIB
Strategi CTRA: Bagaimana Pengembang Ini Lolos dari Tantangan Properti 2026?
[]
Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Rizki Caturini

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Ciputra Development Tbk (CTRA) memasang sejumlah strategi untuk melalui 2026, tahun yang penuh tantangan untuk industri properti. Kendala itu, mulai suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) yang menanjak hingga konsumsi masyarakat yang masih lesu.  Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sepanjang tahun ini turut membayangi kinerja industri properti.

Direktur Utama CTRA, Candra Ciputra mengatakan, penjualan properti CTRA memang masih bergantung dari kredit pemilikan rumah (KPR). Per kuartal I 2026, CTRA mencatatkan pendapatan prapenjualan alias marketing sales sebesar Rp 2,4 triliun. Sebesar 72% dari jumlah itu dibayar menggunakan skema KPR. Proporsinya naik sekitar 2% dari periode sama tahun lalu. Sisanya dibayar secara kas 19% dan tunai bertahap 9%.

Meskipun begitu, setiap kenaikan suku bunga BI sebesar 1%, konsumen tidak akan langsung mengalami kenaikan biaya cicilan yang signifikan, walaupun bunganya memang bergerak.

Sekretaris Perusahaan CTRA, Aditya Ciputra Sastrawinata mengatakan, dengan berbagai tantangan yang ada, manajemen CTRA menetapkan target kinerja 2026 dengan penuh pertimbangan dan kehati-hatian. Mengingat, masih lesunya permintaan properti di beberapa wilayah akibat faktor penurunan daya beli.

Target realistis

Sejak awal tahun, CTRA sudah memproyeksikan pendapatan dan laba bersih turun 10% di tahun 2026 dibanding tahun sebelumnya. Meski begitu,  CTRA masih menargetkan pencapaian pendapatan marketing sales stagnan di Rp 9,5 triliun dengan mempertimbangkan situasi perekonomian global dan domestik.

"CTRA optimistis mampu mencapai target marketing sales 2026 melalui penerapan strategi yang berfokus pada pengembangan produk residensial dan diversifikasi geografis, di samping juga memanfaatkan program insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP)," kata Sastrawinata.

CTRA telah menyiapkan stok yang diikutsertakan dalam program insentif PPN DTP di tahun 2026.  Aditya bilang, di awal 2026, CTRA memiliki stok PPN DTP sekitar Rp 1 triliun, sisa dari tahun sebelumnya. Sementara di tahun 2026, CTRA memiliki strategi untuk mempercepat pembangunan unit-unit yang belum terjual agar bisa disertakan dalam program PPN DTP di tahun ini.

"Harapannya, unit-unit tersebut bisa diserahterimakan sebelum akhir tahun, sehingga konsumen dapat menggunakan insentif PPN DTP di tahun 2026," katanya. 

CTRA memiliki total aset yang disertakan di program PPN DTP senilai Rp 4 triliun di tahun ini. 

Dari marketing sales per Maret 2026, sekitar 51% atau senilai Rp 1,30 triliun merupakan aset yang ikut serta dalam program insentif tersebut.

Namun, CTRA mencatat penjualan aset dengan harga di bawah Rp 1 miliar turun ke 8% sepanjang kuartal I. Sementara, penjualan unit di harga Rp 2 miliar-Rp 5 miliar mengalami peningkatan persentase komposisi.

Hal itu mengindikasikan kenaikan permintaan justru terjadi dari segmen menengah atas. Padahal, insentif PPN DTP 100% ditujukan untuk unit rumah dengan harga di bawah Rp 2 miliar.

Manajemen CTRA meyakini permintaan untuk unit properti tak sepenuhnya didorong oleh insentif PPN DTP. Melainkan, dari tren suku bunga dan kondisi ekonomi makro, termasuk rupiah. "Harapannya, saat insentif itu selesai, kondisi ekonomi jauh lebih baik," ungkap Direktur Ciputra Development, Harun Hajadi.

Untuk memenuhi target marketing sales di tahun ini, CTRA meluncurkan dua proyek residensial yang baru yakni Citra Homes Halim di Jakarta dan Citra Bukit Golf Sentul di Bogor, serta klaster-klaster baru.                            

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Siap-Siap Ada Kebijakan Tarif Pajak di 2027
| Sabtu, 15 Agustus 2026 | 11:40 WIB

Siap-Siap Ada Kebijakan Tarif Pajak di 2027

Target penerimaan pajak dalam RAPBN 2027 meningkat 12,1% dari outlook tahun 2026                    

Ambisi Ekonomi Terbentur Fiskal
| Sabtu, 15 Agustus 2026 | 10:31 WIB

Ambisi Ekonomi Terbentur Fiskal

Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi pada tahun depan sebesar 6%, rekor tertinggi dalam 13 tahun   

Menjadikan Sang Ibunda Sebagai Panutan
| Sabtu, 15 Agustus 2026 | 09:26 WIB

Menjadikan Sang Ibunda Sebagai Panutan

Perjalanan Agus Martowardojo menarik karena pernah dipercaya memimpin Bank Mandiri di usia yang masih muda.

Opex Naik, Investasi Jadi Pemicu
| Sabtu, 15 Agustus 2026 | 09:05 WIB

Opex Naik, Investasi Jadi Pemicu

Beban bank meningkat seiring ekspansi dan investasi.                                                    

Anggaran Perlinsos 2027 Makin Gemuk
| Sabtu, 15 Agustus 2026 | 09:02 WIB

Anggaran Perlinsos 2027 Makin Gemuk

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, perlinsos tetap menjadi salah satu instrumen penting dalam kebijakan fiskal pemerintah pada 2027

MDKA Tambah Kepemilikan Saham EMAS
| Sabtu, 15 Agustus 2026 | 08:16 WIB

MDKA Tambah Kepemilikan Saham EMAS

Setelah transaksi, kepemilikan MDKA di EMAS bertambah jadi 9,43 miliar saham dari sebelumnya 9,33 miliar saham.

Langkah Strategis CLEO: Kejar Efisiensi Operasional Melalui Otomasi Pabrik
| Sabtu, 15 Agustus 2026 | 08:00 WIB

Langkah Strategis CLEO: Kejar Efisiensi Operasional Melalui Otomasi Pabrik

Produsen air minum dalam kemasan (AMDK) ini menyiapkan belanja modal atau capital expenditure (capex) sekitar Rp700 miliar

Kemerdekaan Tanpa Kesejahteraan
| Sabtu, 15 Agustus 2026 | 07:15 WIB

Kemerdekaan Tanpa Kesejahteraan

Makna hakiki dari sebuah kemerdekaan adalah bukan sekedar kemerdekaan untuk negara saja tetapi bagi setiap warga negaranya.

Lautan Luas (LTLS) Pacu Kinerja di Paruh Kedua
| Sabtu, 15 Agustus 2026 | 07:10 WIB

Lautan Luas (LTLS) Pacu Kinerja di Paruh Kedua

LTLS terus berupaya meningkatkan kontribusi pendapatan dari lini bisnis food ingredients dan air bersiih

Investor Menanti Bukti Agar Pasar Kembali Seksi
| Sabtu, 15 Agustus 2026 | 07:08 WIB

Investor Menanti Bukti Agar Pasar Kembali Seksi

Kendati rebound seusai pidato Presiden Prabowo, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) belum mengalami perubahan tren bullish.

INDEKS BERITA