Strategi Transformasi Bisa Pacu Prospek Emiten Grup Pertamina
KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Kinerja emiten energi Grup PT Pertamina (Persero) belum moncer di sepanjang tahun 2025. Seperti kinerja PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO).
Di rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) yang digelar Selasa (21/4), manajemen melaporkan laba bersih PGEO sekitar US$ 137,67 juta pada 2025. Selain itu, RUPST juga menyetujui laporan total pendapatan PGEO pada 2025 sebesar US$ 432,73 juta.
Laba bersih PGEO di tahun 2025 merosot 14,2% secara tahunan atau year on year (yoy) dari US$ 160,49 juta pada 2024. Sedangkan pendapatan PGEO hanya tumbuh satu digit, 6,3% yoy dari US$ 407,12 pada tahun 2024.
Hampir serupa, laba bersih PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) menyusut 36,54% yoy jadi US$ 215,4 juta pada 2025. Padahal, pendapatan entitas usaha Pertamina di bidang industri gas ini masih tmbuh 5% yoy menjadi US$ 3,9 miliar pada akhir 2025.
Baca Juga: Pertumbuhan dari Ekspansi Jaringan jadi Amunisi Perusahaan Gas Negara (PGAS)
Sementara itu, PT Elnusa Tbk (ELSA) hanya mencetak laba bersih Rp 718,41 miliar pada 2025, naik tipis 0,66% yoy dari Rp 713,67 miliar di 2024. Di lain sisi, pendapatan ELSA melejit 8,25% yoy jadi Rp 14,49 triliun di tahun lalu.
Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana melihat, kinerja emiten Grup Pertamina masih menghadapi sejumlah tekanan pada 2025.
Hendra melihat, PGAS tertekan dari sisi margin akibat kenaikan biaya pasokan, terutama pergeseran ke LNG yang lebih mahal.
Lalu, PGEO terdampak rugi selisih kurs dan beban keuangan berbasis dolar AS. ELSA relatif lebih defensif, namun tetap terkena kenaikan biaya operasional.
Fase pemulihan
Memasuki 2026, Hendra melihat arah perbaikan mulai terlihat seiring strategi transformasi yang dijalankan masing-masing emiten.
PGAS, misalnya, mulai mendorong ekspansi ke segmen gas industri melalui Pertagas serta membuka peluang bisnis energi masa depan seperti hidrogen dan biometana.
Adapun, PGEO melanjutkan ekspansi kapasitas melalui proyek panas bumi seperti Lumut Balai yang jadi bagian dari roadmap peningkatan kapasitas hingga 1 gigawatt.
Lalu, ELSA mengedepankan efisiensi sebagai operator berbiaya rendah yang dinilai mampu memberikan dampak cepat terhadap peningkatan margin. "Efisiensi ELSA paling cepat tercermin ke laba," ujar Hendra, Rabu (22/4).
Baca Juga: Eksekusi Proyek Pembangkit, Kinerja PGEO bisa Terungkit
Senior Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas menilai, prospek ketiga emiten Pertamina tetap menarik, meski karakternya berbeda. "PGEO terlihat paling solid karena ekspansi kapasitas dan pendapatan berbasis kontrak yang stabil," ujarnya.
Menurut Sukarno, saat ini PGAS berada dalam fase pemulihan dengan ditopang pertumbuhan volume dan ekspansi ke segmen gas industri, meski margin masih terbatas.
ELSA cenderung bersifat siklikal karena kinerjanya mengikuti aktivitas hulu migas. PGEO dinilai paling defensif di tengah kondisi pasar saat ini yang masih volatil.
Dus, Sukarno merekomendasi beli PGEO dengan target harga Rp 1.300 per saham. PGAS dan ELSA direkomendasikan trading buy. Target harga masing-masing di kisaran Rp 2.000–Rp 2.100 dan Rp 770–Rp 800 per saham.
