Surya Semesta (SSIA) Bidik Pertumbuhan Bisnis 2024

Sabtu, 30 Desember 2023 | 05:10 WIB
Surya Semesta (SSIA) Bidik Pertumbuhan Bisnis 2024
[]
Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Fahriyadi .

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten kawasan industri PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) membidik kenaikan pendapatan tahun depan. Sejumlah lini bisnis telah dipersiapkan agar kinerja bisnis bisa berlari lebih kencang.

Dengan demikian, Vice President Head of Investor Relations SSIA Erlin Budiman optimistis tahun depan bisa mengejar pendapatan yang lebih baik. Untuk lini bisnis konstruksi ada target pertambahan pendapatan sekitar 10%.

"Bisnis hotel juga sama, diharapkan akan memberikan kontribusi yang lebih besar. Kami juga berencana merenovasi hotel Melia Bali yang akan dilakukan Oktober 2024," kata Erlin kepada KONTAN, Kamis (28/12).

Adapun untuk lini bisnis kawasan industri, SSIA sangat optimistis mendulang hasil yang lebih baik karena ada proyek anyar Subang Smartpolitan. Nah, progres pembangunan Subang Smartpolitan ini masih sesuai jadwal dan diselaraskan dengan pembangunan jalan tol.

Di kawasan itu, SSIA sudah memulai pembangunan infrastruktur seperti jalan, tipping, water, dan cut and fill. "Rencana kami, kuartal II-2024 salah satu tenant kami di Subang Smartpolitan akan mulai beroperasi," ujar Erlin.

Untuk itu, Erlin menganggarkan belanja modal alias capital expenditure (capex) sebesar Rp 1,3 triliun di tahun 2024. Capex akan digunakan untuk pengembangan proyek Subang Smartpolitan.

“Sebesar Rp 1 triliun capex akan digunakan untuk Subang Land Development dan akuisisi. Untuk segmen hospitality sekitar Rp 250 miliar, dan sisanya untuk Nusa Raya Cipta dan lainnya,” tutur Erlin.

Hingga kuartal III-2023, SSIA mencatatkan pencapaian marketing sales Subang Smartpolitan sebesar Rp 31 miliar atau setara 2 hektare (ha) lahan.

Pendanaan untuk capex tahun 2024 ini berasal dari berbagai sumber, salah satunya adalah refinancing utang ke International Finance Corporation (IFC). Sebagai gantinya, SSIA lalu dapat fasilitas dari bank lokal, yaitu Bank Central Asia Tbk (BBCA), dan dari PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI).

Asal tahu saja, pendapatan SSIA hingga bulan September 2023 sebesar Rp 3,02 triliun, naik 22,3% dari periode sama tahun lalu yang sebesar Rp 2,46 triliun. Peningkatan ini berasal dari pendapatan sektor perhotelan yang naik 76,7% ke Rp 289,4 miliar.

Pendapatan dari segmen bisnis properti dan konstruksi SSIA masing-masing meningkat sekitar 13,0% ke Rp 47,6 miliar dan Rp 229,4 miliar.

Namun, SSIA mencatatkan kerugian sebesar Rp 23,7 miliar hingga kuartal III 2023, turun 133,5% dari laba bersih sebesar Rp70,8 miliar pada kuartal III 2022.

Perhatikan ESG

Erlin menyampaikan, Subang Smartpolitan menjadi pelopor cerdas dan pembangunan kota yang berkelanjutan. Kawasan ini juga akan memanfaatkan teknologi dan Internet of Things (IoT) untuk meningkatkan efisiensi dan keamanan.

"Subang Smartpolitan sudah menjadi fokus SSIA sejak di diluncurkan pada November 2020 lalu. Saat ini sudah masuk 2 tenant dari Jepang dan Taiwan," kata Erlin.

Ia mengatakan, sejak dirilis 2020 lalu pembangunan Subang Smartpolitan terkendala pandemi Covid-19 yang terus berlanjut hingga tahun 2022. "Namun, di semester II-2022 kami berhasil mendapatkan tenant pertama dari Jepang," ucapnya.

Selain itu, Erlin menyebutkan proyek pembangunan Subang Smartpolitan juga akan menerapkan prinsip Environment, Sustainability, and Governance (ESG).

"(ESG) itu pasti. Kami fokus untuk membuat Subang Smartpolitan sebagai Smart, Green and Sustainable Industrial City," jelasnya.

Sebagai informasi, pada tahun 2023 ini, SSIA telah mengalokasikan capex sebesar Rp 1 triliun untuk pengembangan Subang Smartpolitan agar bisa selesai tepat waktu.

Bagikan

Berita Terbaru

Saham Bank Jumbo Masih Menanti Rebound
| Selasa, 20 Oktober 2026 | 05:30 WIB

Saham Bank Jumbo Masih Menanti Rebound

Saham bank jumbo tertekan aksi jual asing, tapi peluang rebound teknikal masih terbuka.               

Permodalan Himbara Tergerus di Kala Potensi Risiko Meningkat
| Selasa, 20 Oktober 2026 | 05:25 WIB

Permodalan Himbara Tergerus di Kala Potensi Risiko Meningkat

Permodalan Himbara tergerus di tengah ekspansi kredit dan kenaikan nilai NPL. Penerbitan obligasi perpetual jadi strategi bank perkuat modal 

Saham PGUN dan JARR Ambles, Agunan Kredit Bank Mandiri Tergerus
| Selasa, 20 Oktober 2026 | 05:10 WIB

Saham PGUN dan JARR Ambles, Agunan Kredit Bank Mandiri Tergerus

Kondisi ini menjadi sorotan karena Jhonlin Group menjaminkan saham kedua emiten tersebut untuk memperoleh fasilitas kredit dari Bank Mandiri. 

IHSG Terendah 6 Tahun, Waspadai Tekanan Jual Saham Big Caps Hari Ini (20/10)
| Selasa, 20 Oktober 2026 | 04:50 WIB

IHSG Terendah 6 Tahun, Waspadai Tekanan Jual Saham Big Caps Hari Ini (20/10)

IHSG mengakumulasi pelemahan 15,83% dalam sepekan terakhir. Sedangkan sejak awal tahun, IHSG melemah total 42,22%.​

Investasi EBT untuk Data Center
| Selasa, 20 Oktober 2026 | 04:42 WIB

Investasi EBT untuk Data Center

Investasi EBT juga sejalan dengan upaya mewujudkan tren menuju pusat data ramah lingkungan atau green data center (GDC).

Leasing Perkuat Diversifikasi Pembiayaan Alat Berat
| Selasa, 20 Oktober 2026 | 04:20 WIB

Leasing Perkuat Diversifikasi Pembiayaan Alat Berat

Penyaluran pembiayaan alat berat oleh multifinance mencapai Rp 48,50 triliun hingga Agustus 2026, alias hanya naik 0,12% dari Agustus 2025.

Saham BIg Four Perbankan Terus Tertekan, Saatnya Akumulasi?
| Senin, 19 Oktober 2026 | 19:17 WIB

Saham BIg Four Perbankan Terus Tertekan, Saatnya Akumulasi?

Keputusan untuk melakukan akumulasi beli harus mempertimbangkan tiga hal, yakni tujuan investasi, jangka waktu investasi, dan profil risiko.

MSCI dan Perlunya Meninjau Ulang Resep Bursa Saham
| Senin, 19 Oktober 2026 | 10:30 WIB

MSCI dan Perlunya Meninjau Ulang Resep Bursa Saham

Reformasi berhasil bukan karena aturan semakin banyak, tetapi karena pasar Indonesia semakin transparan, likuid, adil, dan dipercaya.       

IHSG Anjlok 40,04% YtD, Terburuk di Dunia, Asing Net Sell Rp 88 Triliun
| Senin, 19 Oktober 2026 | 09:19 WIB

IHSG Anjlok 40,04% YtD, Terburuk di Dunia, Asing Net Sell Rp 88 Triliun

Kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi yang terburuk di antara bursa saham global yang diperbandingkan BEI sepanjang 2026.

Tak Lagi Repot-Repot Urus Administrasi di Rumahsakit
| Senin, 19 Oktober 2026 | 09:07 WIB

Tak Lagi Repot-Repot Urus Administrasi di Rumahsakit

Platform kesehatan kini tidak hanya menawarkan layanan janji temu dengan dokter, tapi juga mendampingi pasien di rumahsakit.

INDEKS BERITA

Terpopuler