Tenaga Kerja Jadi KPI

Senin, 26 Januari 2026 | 06:10 WIB
Tenaga Kerja Jadi KPI
[ILUSTRASI. TAJUK - Hasbi Maulana (KONTAN/Indra Surya)]
Hasbi Maulana | Managing Editor

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Panggung World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Swiss, pekan lalu menjadi saksi optimisme tinggi Presiden Prabowo Subianto tentang ekonomi Indonesia yang bakal "mengejutkan dunia". Pertumbuhan di angka 5,1% memang mentereng di tengah mendungnya ekonomi global. Namun, di balik tepuk tangan para investor, terselip alarm nyaring yang tak boleh diabaikan: Global Risks Report 2026 yang baru dirilis Januari ini menempatkan pengangguran sebagai risiko nomor wahid bagi Indonesia untuk periode 2026-2028.

Inilah paradoks yang kita hadapi. Di satu sisi, pemerintah membanggakan daya tahan makro, namun di sisi lain, struktur ketenagakerjaan formal kita sedang rapuh. Gelombang PHK sektor manufaktur yang mencapai lebih 88.000 orang sepanjang 2025 menjadi bukti nyata. 

Di Amerika Serikat (AS) publikasi angka pengangguran bulanan selalu menjadi peristiwa ekonomi penting yang ditunggu bukan hanya oleh warga AS, tapi juga pelaku ekonomi dunia. Dari angka pengangguran tersebut dunia keuangan mencoba memprediksi kebijakan moneter bank sentral AS, The Fed, lewat penetapan bunga dana federal. 

Dalam pernyataan resmi yang dirilis hampir saban bulan, The Fed selalu menegaskan mandat kebijakan moneter mereka adalah mengendalikan inflasi di satu sisi dan memperluas lapangan kerja di sisi yang lain. Turun naik kebijakan bunga di AS itu pada gilirannya mempengaruhi harga saham, surat utang, bahkan harga komoditi. 

Di Indonesia, entah mengapa, jarang sekali orang yang menyoroti angka pengangguran. Apakah karena sejak dulu masyarakat selalu berasumsi bahwa pekerjaan sulit dicari sehingga tanpa angka resmi pun masyarakat yakin bahwa angka pengangguran tinggi? 

Angka pengangguran atau lapangan kerja juga jarang menjadi tema utama kebijakan pemerintah. Coba ingat-ingat, pidato atau narasi pejabat siapa yang berfokus pada pengangguran atau ketersediaan lapangan kerja? Kalau pun ada, kebanyakan hanya menyebut penyerapan tenaga kerja sekadar sebagai salah satu efek manfaat, selain beragam manfaat lain untuk industri, investor, atau konsumen

MBG, program yang paling haus menyedot APBN, disebut Presiden Prabowo bakal menyerap 1,5 juta tenaga kerja langsung. Nah, pemerintah harus berani menjadikan penyerapan tenaga kerja ini sebagai key performance indicator (KPI) terhadap semua program, ketimbang cuma jumlah ompreng.

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Menakar Pergerakan Saham MMIX Di tengah Rencana Ekspansi Produksi 1,8 Miliar Popok
| Kamis, 29 Oktober 2026 | 13:56 WIB

Menakar Pergerakan Saham MMIX Di tengah Rencana Ekspansi Produksi 1,8 Miliar Popok

Manajemen menargetkan pendapatan MMIX pada 2027 mencapai Rp 473 miliar, naik sekitar 21,9% dibandingkan target 2026 sebesar Rp 388 miliar.

Menanti Investasi Jumbo Mengalir ke Hulu Migas
| Kamis, 29 Oktober 2026 | 09:45 WIB

Menanti Investasi Jumbo Mengalir ke Hulu Migas

Kementerian ESDM sudah melakukan proses tender atas 60% dari 118 blok migas di Indonesia yang disiapkan.

Rogoh Kocek Rp 1,47 Triliun, UNTR Sebar Dividen Interim
| Kamis, 29 Oktober 2026 | 09:24 WIB

Rogoh Kocek Rp 1,47 Triliun, UNTR Sebar Dividen Interim

PT United Tractors Tbk (UNTR) akan membagikan dividen tunai interim tahun buku 2026, dengan alokasi dana maksimal Rp 1,47 triliun.

Bisnis Hulu Migas Meningkat, Laba Bersih ELSA Melesat 29,4% di Sembilan Bulan 2026
| Kamis, 29 Oktober 2026 | 09:20 WIB

Bisnis Hulu Migas Meningkat, Laba Bersih ELSA Melesat 29,4% di Sembilan Bulan 2026

Pertumbuhan pendapatan mendorong laba bersih PT Elnusa Tbk (ELSA)melonjak 29,4% yoy jadi Rp 681,55 miliar per akhir September 2026.

Penjualan Emas Mengkilat, Laba ANTM Melambung 46% Pada Januari-September 2026
| Kamis, 29 Oktober 2026 | 09:12 WIB

Penjualan Emas Mengkilat, Laba ANTM Melambung 46% Pada Januari-September 2026

Segmen emas jadi kontributor terbesar penjualan  PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), dengan porsi 77% atau sekitar Rp 68,41 triliun.

Menadah Berkah di Saham Valuasi Murah
| Kamis, 29 Oktober 2026 | 09:03 WIB

Menadah Berkah di Saham Valuasi Murah

Saham dengan valuasi menarik, arus kas kuat, dan dividend yield kompetitif, memiliki daya tahan di tengah tekanan jual asing.

The Fed Tahan Suku Bunga dan Yield SBN Melambung, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini
| Kamis, 29 Oktober 2026 | 08:57 WIB

The Fed Tahan Suku Bunga dan Yield SBN Melambung, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

Pasar keuangan domestik masih dibayangi sejumlah tekanan. Seperti pelemahan rupiah, arus keluar modal asing dan kenaikan yield SBN.​

Rupiah di Ujung Tanduk, Ini Daftar PR Pemangku Kepentingan Agar Kembali Menguat
| Kamis, 29 Oktober 2026 | 08:54 WIB

Rupiah di Ujung Tanduk, Ini Daftar PR Pemangku Kepentingan Agar Kembali Menguat

Dalam skenario negatif, nilai tukar rupiah berisiko melemah menuju Rp 18.500–Rp 19.000 per dolar AS.

ELSA Ajukan Letter of Intent ke PHE: Cek Proyeksi Kinerja dan Pandangan Analis
| Kamis, 29 Oktober 2026 | 08:27 WIB

ELSA Ajukan Letter of Intent ke PHE: Cek Proyeksi Kinerja dan Pandangan Analis

Hingga kuartal III-2026, pendapatan ELSA tumbuh 15,8% YoY menjadi Rp 12,13 triliun dan laba bersih melesat 29,4% YoY menjadi Rp 681,55 miliar.

Niramas Ekspor Perdana Jeli ke Kawasan Karibia
| Kamis, 29 Oktober 2026 | 08:25 WIB

Niramas Ekspor Perdana Jeli ke Kawasan Karibia

PT Niramas Utama Tbk (JELI), produsen makanan dan minuman bermerek Inaco yakin kinerja perusahaan membaik di semester II-2026. 

INDEKS BERITA

Terpopuler