Tencent Mengantongi US$ 3 Miliar dari Penjualan 2,6% Saham Pemilik Shopee

Rabu, 05 Januari 2022 | 12:06 WIB
Tencent Mengantongi US$ 3 Miliar dari Penjualan 2,6% Saham Pemilik Shopee
[ILUSTRASI. Kantor pusat Sea Ltd di Singapura, 5 Maret 2021. REUTERS/Edgar Su]
Reporter: Sumber: Reuters | Editor: Thomas Hadiwinata

KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Tencent Holdings Ltd mengantongi dana US$ 3 miliar dari penjualan 14,5 juta saham Sea Ltd. Mengutip term-sheet yang dilihat Reuters pada Rabu, saham perusahaan game dan e-commerce yang berbasis di Singapura itu dihargai US$ 208 per saham.

Perusahaan investasi sekaligus raksasa digital platform asal China itu menjual saham Sea di bagian bawah kisaran harga, US$ 208.00 - US$ 212,00 transaksi berlangsung kemarin. Tencent dan Sea menolak mengomentari penjualan saham tersebut.

Harga yang ditetapkan mencerminkan diskon sebesar 6,8% dari harga penutupan terakhir Sea pada perdagangan Senin, yaitu US$ 223,31 per saham.

Kabar tentang divestasi yang dilakukan Tencent menekan saham Sea hingga melemah 11,4% pada perdagangan Selasa di New York menjadi US$ 197,84.

Baca Juga: Ditawar KKR, Telecom Italia (TIM) Gandeng Bank-bank Untuk Menyusun Rencana Bisnis

Penjualan 14,5 juta saham mengurangi porsi kepemilikan Tencent di Sea menjadi 18,7% dari 21,3%. Perusahaan mengatakan bermaksud untuk mempertahankan sebagian besar sahamnya di Sea untuk jangka panjang.

"Penjualan saham mencairkan sebagian dari nilai investasi Tencent di Sea, yang telah mengalami pertumbuhan dan ekspansi yang signifikan dalam operasi bisnis globalnya. Divestasi ini memberi Tencent sumber daya untuk mendanai investasi lain dan inisiatif sosial," kata perusahaan itu dalam sebuah pernyataan. .

Tencent akan menjalani periode penguncian yang membatasinya untuk menjual lebih banyak lagi saham Sea, selama enam bulan ke depan.

Saham Sea yang terdaftar di AS merosot sekitar 8% menjadi US$ 205,5 pada awal perdagangan dan saham Tencent ditutup 0,8% lebih rendah pada HK$ 450.

Langkah Tencent datang hanya beberapa hari setelah perusahaan mengatakan akan melepaskan sahamnya di JD.com yang bernilai US$ 16,4 miliar. Pelepasan itu menurunkan eksposur Tencent terhadap bisnis e-commerce, di tengah tekanan dari tindakan keras peraturan Beijing terhadap perusahaan teknologi.

Sea mengatakan Tencent dan afiliasinya telah memberikan pemberitahuan yang tidak dapat dibatalkan untuk mengkonversi semua saham biasa Kelas B mereka.

Setelah konversi, semua saham kelas B Sea yang beredar akan dimiliki pada akhirnya oleh Forrest Li, pendiri, ketua dan CEO Sea, yang nilai pasarnya sebesar US$ 124 miliar menjadikannya perusahaan paling bernilai di Asia Tenggara.

Tencent juga telah setuju untuk menghentikan perannya sebagai proksi bagi Li, setelah konversi saham.

Baca Juga: Investor Airbnb dan Spotify Akan IPO di Nasdaq, Incar Valuasi Sebesar US$ 9,3 Miliar

Sea mengusulkan untuk meningkatkan hak suara setiap saham biasa Kelas B menjadi 15 suara dari tiga.

"Dewan percaya bahwa, karena Sea telah meningkat secara signifikan untuk menjadi perusahaan internet konsumen global terkemuka, itu adalah kepentingan terbaik perusahaan dalam mengejar strategi pertumbuhan jangka panjangnya untuk lebih memperjelas struktur modalnya melalui perubahan yang direncanakan," itu dikatakan.

Sea mengatakan perubahan itu harus disetujui oleh pemegang sahamnya pada rapat umum tahunan yang ditetapkan pada 14 Februari.

Dikatakan bahwa begitu perubahan dilakukan, saham biasa Kelas B yang beredar dan dimiliki oleh Li diharapkan mewakili sekitar 57% dari hak suara, naik dari sekitar 52%. Secara terpisah, Li memegang sekitar 54% dari total hak suara terkait dengan ukuran dan komposisi dewan direksi Sea.

Bagikan

Berita Terbaru

Jangan Serakah Serok Beli Saham dan Panic Sell Berlebihan
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 12:53 WIB

Jangan Serakah Serok Beli Saham dan Panic Sell Berlebihan

Dengan kondisi pasar saham yang memerah, bagaimana saran keputusan investasi saat ini?              

Bencana dan Relevansi Instrumen Pembayaran
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 10:54 WIB

Bencana dan Relevansi Instrumen Pembayaran

Preferensi masyarakat terhadap pembayaran tunai banyak dipengaruhi oleh kenyamanan dan kemudahan yang dirasakan.

Meredam Inflasi
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 10:34 WIB

Meredam Inflasi

Masalahnya, lonjakan harga pangan semakin menjadi persoalan, karena terjadi saat daya beli masyarakat masih melemah.

BPJS Disuntik Dana Rp 20 Triliun: Efek ke Kinerja MIKA, SILO, dan HEAL Tak Serupa
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 09:57 WIB

BPJS Disuntik Dana Rp 20 Triliun: Efek ke Kinerja MIKA, SILO, dan HEAL Tak Serupa

Perbedaan porsi pasien jadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan investor dalam menilai potensi dampak tambahan dana BPJS Kesehatan.

Analisis Kinerja & Saham PWON: Marketing Sales Turun namun Tertolong Recurring Income
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 09:21 WIB

Analisis Kinerja & Saham PWON: Marketing Sales Turun namun Tertolong Recurring Income

Keberlanjutan insentif PPN DTP dan stabilitas suku bunga sebagai faktor yang dapat mendorong pemulihan permintaan properti.

Mengukur Efek Volatilitas Harga Minyak Dunia ke Saham MEDC, ENRG, dan RATU
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 08:58 WIB

Mengukur Efek Volatilitas Harga Minyak Dunia ke Saham MEDC, ENRG, dan RATU

PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) menjadi emiten yang paling langsung terpapar pergerakan harga minyak.

Peluang dan Risiko Saham Valuasi Rendah
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 08:20 WIB

Peluang dan Risiko Saham Valuasi Rendah

Tekanan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membuat sejumlah saham kini diperdagangkan dengan price to earnings ratio (PER) di bawah rata-rata. 

Paradoks Saham DSSA: Saat Minat Asing Bertabrakan dengan Tipisnya Order Book di Pasar
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 08:14 WIB

Paradoks Saham DSSA: Saat Minat Asing Bertabrakan dengan Tipisnya Order Book di Pasar

Volatilitas DSSA cenderung lebih tinggi dibandingkan saham berkapitalisasi besar lain yang punya basis pemegang saham lebih luas.

Efek Kredit Rakyat Rp 400 Triliun Diramal Terbatas
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 08:03 WIB

Efek Kredit Rakyat Rp 400 Triliun Diramal Terbatas

Secara nominal, kredit Rp 400 triliun setara sekitar 1,5% dari produk domestik bruto (PDB)          

Kinerja Bukalapak Kembali Keok, Penurunan Investasi Menjadi Biang Kerok
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 08:02 WIB

Kinerja Bukalapak Kembali Keok, Penurunan Investasi Menjadi Biang Kerok

Kerugian investasi menekan kinerja PT Bukalapak.com (BUKA), hingga berbalik mencatatkan rugi bersih.

INDEKS BERITA

Terpopuler