Tencent Mengincar Perolehan Dana hingga US$ 4 Miliar dari Penerbitan Obligasi

Kamis, 15 April 2021 | 14:39 WIB
Tencent Mengincar Perolehan Dana hingga US$ 4 Miliar dari Penerbitan Obligasi
[ILUSTRASI. Logo Tencent ditampilkan dalam World Internet Conference di Wuzhen, Provinsi Zhejiang, China. 4 December 2017. REUTERS/Aly Song/File Photo]
Reporter: Sumber: Reuters | Editor: Thomas Hadiwinata

KONTAN.CO.ID - HONG KONG.  Tencent Holdings Ltd ingin mengumpulkan dana hinggal US$ 4 miliar melalui penerbitan surat utang pada Kamis (15/4), demikian pemberitaan Reuters mengutip dua orang sumber yang mengetahui rencana itu.

Mengutip term sheet yang ditinjau Reuters, yang sudah disepakati adalah obligasi yang memiliki tenor selama 10 tahun, 20 tahun, 30 tahun dan 40 tahun.

Dokumen itu tidak menyebut nilai obligasi yang akan diterbitkan. Namun, seorang sumber menyebut raksasa internet dan media sosial Tiongkok itu mengincar perolehan dana US$ 4 miliar dari obligasi yang akan diterbitkan. Jika rencana itu tercapai, maka ini adalah transaksi pendanaan terbesar kedua di tahun ini.

Tencent tidak segera menanggapi permintaan komentar.

Baca Juga: Grab Holdings (GRAB) umumkan rencana melantai di bursa saham AS tahun ini

Perusahaan sudah mendapat persetujuan dari Beijing, tepatnya  National Development and Reform Commission (NDRC), untuk mengumpulkan dana hingga US$ 4,15 miliar, ujar seorang sumber yang tidak dapat  disebutkan namanya karena informasinya belum dipublikasikan.

Tencent mengumpulkan dana hingga US$ 6 miliar pada Mei tahun lalu, dengan menerbitkan surat utang bertenor 40 tahun untuk pertama kalinya. Perusahaan bermaksud menggunakan dana yang terkumpul untuk tujuan perusahaan secara umum.

Panduan harga untuk obligasi bertenor 10 tahun adalah imbal hasil treasury 10 tahun plus 165 basis poin. Sedang harga untuk tenor 20 tahun adalah treasury AS 20 tahun ditambah 175 basis poin, menurut term sheet.

Panduan harga untuk periode 30- dan 40 tahun telah ditetapkan masing-masing sebesar 185 basis poin dan 195 basis poin, terhadap suku bunga acuan jangka panjang, lembar menunjukkan.

Ketentuan dan harga akhir obligasi Tencent akan ditetapkan pada Kamis waktu perdagangan di AS, atau Kamis malam waktu Asia, demikian pernyataan dua sumber tersebut.

Selanjutnya: Tak ada saham defensif, investor disarankan menunggu

 

Bagikan

Berita Terbaru

Harga dan Permintaan Turun, Apakah Sudah Saatnya Indonesia Hadapi Kiamat Batubara?
| Selasa, 17 Februari 2026 | 12:00 WIB

Harga dan Permintaan Turun, Apakah Sudah Saatnya Indonesia Hadapi Kiamat Batubara?

Sektor batubara masih menjadi tulang punggung pasokan listrik nasional dengan kontribusi 60% dan juga mesin pendapatan bagi negara.

Ekspor Anjlok, Permintaan Turun, dan Harga Tertekan, Batubara Masuki Sunset Industry?
| Selasa, 17 Februari 2026 | 12:00 WIB

Ekspor Anjlok, Permintaan Turun, dan Harga Tertekan, Batubara Masuki Sunset Industry?

Strategi pemangkasan produksi batubara nasional seharusnya tidak lagi menjadi kebijakan reaktif sesaat demi mengerek harga.

Melihat Peluang dan Tantangan Diversifikasi Penyaluran Kredit di Tahun 2026
| Selasa, 17 Februari 2026 | 11:00 WIB

Melihat Peluang dan Tantangan Diversifikasi Penyaluran Kredit di Tahun 2026

Indonesia tetap punya kesempatan, tetapi jalurnya lebih realistis sebagai pengungkit produktivitas lintas sektor.

Membedah Prospek Kinerja dan Saham BULL Seiring Fase Super Cycle Industri Pelayaran
| Selasa, 17 Februari 2026 | 11:00 WIB

Membedah Prospek Kinerja dan Saham BULL Seiring Fase Super Cycle Industri Pelayaran

Dalam RUPTL 2025-2034, PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL)​ terlibat dalam proyek FSRU dan logistik LNG domestik.

Lo Kheng Hong Getol Tambah Kepemilikan GJTL Sepanjang 2025, Berlanjut pada Awal 2026
| Selasa, 17 Februari 2026 | 10:13 WIB

Lo Kheng Hong Getol Tambah Kepemilikan GJTL Sepanjang 2025, Berlanjut pada Awal 2026

Berkat akumulasi terbarunya, Lo Kheng Hong (LKH) kini menguasai 5,97% saham PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL).

Saham Bank Syariah Lebih Moncer dari Bank Konvensional, Pilih BRIS atau BTPS?
| Selasa, 17 Februari 2026 | 10:00 WIB

Saham Bank Syariah Lebih Moncer dari Bank Konvensional, Pilih BRIS atau BTPS?

Mengupas perbandingan prospek kinerja dan saham PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) dan PT BTPN Syariah Tbk (BTPS)

Harga Emas Terdorong Kebijakan Kontroversial Trump, Diprediksi Bullish Hingga 2028
| Selasa, 17 Februari 2026 | 09:00 WIB

Harga Emas Terdorong Kebijakan Kontroversial Trump, Diprediksi Bullish Hingga 2028

Setelah Donald Trump tidak lagi menjabat, dunia bakal lebih damai sehingga daya tarik emas sedikit melemah.

Saham DEWA Kembali Bergairah Usai Terkoreksi, Harganya Diprediksi Masih bisa Mendaki
| Selasa, 17 Februari 2026 | 08:05 WIB

Saham DEWA Kembali Bergairah Usai Terkoreksi, Harganya Diprediksi Masih bisa Mendaki

Fundamental PT Darma Henwa Tbk (DEWA) kian kokoh berkat kontrak jangka panjang di PT Kaltim Prima Coal dan PT Arutmin Indonesia.

Meski Sahamnya Sudah Terjerembab -24%, Prospek dan Valuasi WIFI Tetap Premium
| Selasa, 17 Februari 2026 | 07:05 WIB

Meski Sahamnya Sudah Terjerembab -24%, Prospek dan Valuasi WIFI Tetap Premium

Ekspansi bisnis yang agresif menopang prospek kinerja keuangan PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI). 

Kisah Albertus Wiroyo Karsono, Jebolan Terbaik ITB Jadi Nakhoda di Bisnis Asuransi
| Selasa, 17 Februari 2026 | 06:05 WIB

Kisah Albertus Wiroyo Karsono, Jebolan Terbaik ITB Jadi Nakhoda di Bisnis Asuransi

Albertus Wiroyo Karsono lulus dari Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 1990 dan masuk dalam lima lulusan terbaik di antara 110 mahasiswa​.

INDEKS BERITA

Terpopuler