Tiga Bulan Harga Melonjak 171%, Emiten Afiliasi Haji Isam ini Diversifikasi Bisnis
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di tengah tekanan profitabilitas bisnis eksisting, PT Dana Brata Luhur Tbk (TEBE), emiten yang terafiliasi dengan pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam, mulai menjajaki kakinya ke perdagangan bahan bakar minyak (BBM) dan jasa pelabuhan komoditas non-batubara sebagai upaya diversifikasi bisnis.
Rencana diversifikasi yang saat ini masih dalam tahap perizinan dan kajian, ternyata mampu membawa optimisme pelaku pasar.
Hal ini tercermin dari pergerakan saham TEBE yang menguat sebulan terakhir sebesar 59,18% hingga perdagangan Rabu (14/10). Walau terkoreksi 2,15% ke level Rp 2.730 pada perdagangan hari itu, saham TEBE masih akumulasi kenaikan sebesar 171,64% dalam tiga bulan terakhir. Sepanjang tahun berjalan (year to date/YtD) saham TEBE menguat 4,60%
TEBE sendiri merupakan perusahaan penyedia infrastruktur logistik batubara yang beroperasi di Kalimantan Selatan dan telah berdiri sejak 2008. Perseroan berada di bawah kendali akhir Haji Isam, melalui PT Dua Samudera Perkasa (DSP), yang menguasai 76,91% saham TEBE.
Riset Trimegah Sekuritas Indonesia tertanggal 12 Oktober 2026 lebih jauh menjabarkan bahwa dalam menjalankan bisnisnya, TEBE memiliki jalan angkut khusus batubara sepanjang 46 kilometer, pelabuhan batubara seluas 30 hektare (ha) di Sungai Barito dengan kapasitas pemuatan mencapai 18 juta ton per tahun, empat jalur jetty dan conveyor, serta armada alat berat.
Baca Juga: JARR, TEBE, PGUN hingga PACK Rally, Efek Spillover Rumor Akuisisi BYAN Oleh Haji Isam
Adapun perjalanan DSP untuk menguasai mayoritas saham TEBE dimulai pada Maret 2025. Dalam periode sepuluh hari, atau dalam 4–13 Maret 2025, DSP secara bertahap mengakumulasi kepemilikan awal sebesar 31,84% saham TEBE melalui kombinasi pembelian di pasar reguler dan transaksi block sale di luar pasar.
Seluruh transaksi tersebut dilakukan pada harga Rp 500 per saham, dengan menyerap kepemilikan sejumlah investor lama, termasuk South Bay Capital dan Robust Buana.
Langkah akuisisi DSP berlanjut pada 18 Maret 2025, ketika perusahaan tersebut mengambil alih seluruh kepemilikan Prima Mineral Utama sebesar 39,31% saham TEBE, dengan nilai transaksi tunai Rp 253 miliar.
Transaksi tersebut meningkatkan total kepemilikan DSP menjadi 71,15%, sekaligus memberikan kendali efektif atas operasional dan arah strategis TEBE.
Lebih lanjut, TEBE tak menjalankan bisnis pertambangan batubara secara langsung, tetapi juga menyediakan infrastruktur penting bagi perusahaan tambang untuk mengangkut dan memuat batubara.
Menurut paparan manajemen TEBE dalam paparan publik baru-baru ini, pelabuhan tersebut merupakan satu-satunya fasilitas sejenis di kawasan tersebut dan melayani sekitar 50 wilayah konsesi batubara.
"Dengan model bisnis tersebut, kinerja TEBE sangat bergantung pada volume produksi batubara pelanggan serta kuota produksi yang ditetapkan melalui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB)," urai Trimegah Sekuritas dalam risetnya yang dikutip KONTAN, Rabu (14/10).
Adapun layanan pelabuhan menjadi kontributor utama pendapatan TEBE, yakni sekitar 88% terhadap total pendapatan. Sementara itu, sebagian besar sisanya berasal dari jasa transportasi jalan angkut.
