Tiga Potensi Krisis di Amerika Serikat Mengepung Bursa Saham Global

Senin, 22 Mei 2023 | 10:12 WIB
Tiga Potensi Krisis di Amerika Serikat Mengepung Bursa Saham Global
[ILUSTRASI. ANALISIS - Hans Kwee, Direktur Investa Saran Mandiri]
Hans Kwee | Praktisi Pasar Modal dan Pengajar, Dosen Magister Atma Jaya dan Trisakti

KONTAN.CO.ID - Selepas pandemi, kinerja perekonomian Indonesia sangat baik. Pertumbuhan ekonomi kuartal I 2023 tercatat 5,03% lebih baik dari perkiraan 4,95%. Sektor manufaktur dan perdagangan jadi kontributor utama, tumbuh 4,4% dan 4,9%.

Tahun 2023 ekonomi Indonesia diperkirakan tumbuh 5,4%, lebih tinggi dibanding sebagian besar perekonomian dunia yang mayoritas diperkirakan melambat. Surplus neraca dagang tercatat 36 bulan berturut turut.  

Inflasi Indonesia turun. April tercatat 4,33%. Inflasi sempat naik ke 5.95% di September 2022 selepas kenaikan harga BBM subsidi kembali turun di tengah inflasi negara maju sangat tinggi. 

Indonesia akan memasuki tahun pemilu. Biasanya tahun pemilu ditandai kenaikan IHSG akibat optimisme dan aktivitas kampanye. Aktivitas kampanye mendorong konsumsi masyarakat meningkat yang juga menaikkan kinerja emiten dan perekonomian nasional. 

Namun, IHSG engan bergerak di atas 7.000 dan bahkan sebulan terakhir dalam tren turun. Penyebabnya, perekonomian global dikepung tiga potensi krisis Amerika Serikat (AS).

Baca Juga: Robert Kiyosaki Menjawab Pertanyaan Soal Mengapa Orang Kaya akan Semakin Kaya

Pertama, cerita usang sejak lebih dari satu tahun lalu. Kenaikan fed fund rate menimbulkan kekhawatiran potensi resesi. Diawali inflasi AS sempat 9,1% di Juni. Inflasi juga di Zona Eropa, tertinggi pada Oktober 10,6 % dan Inggris level 11.1%. Penyebabnya, ketidakseimbangan supply dan demand. 

Ekonomi pulih mendorong konsumsi masyarakat naik. tapi ada gangguan pasokan akibat pandemi. Inflasi juga didorong kenaikan harga komoditas pasca pandemi itambah perang Rusia Ukraina.

The Fed sangat agresif menaikkan suku bunga acuan. Fed rate naik 500 basis poin dalam 15 bulan terakhir. Kenaikan sangat cepat dan level suku bunga tertinggi pasca krisis subprime mortgage di 2008. Kenaikan bunga acuan juga di Zona Eropa, Inggris dan bank sentral lain.

Selepas Mei 2023 pasar  berharap ada jeda kenaikan suku bunga dan  akhir tahun Fed menurunkan bunga acuan. Tapi pembacaan inflasi di April 2023 memudarkan harapan tersebut. 

Ada masalah di inflasi inti AS, sempat mencapai 6,6% di September 2022 turun lebih lambat dari inflasi keseluruhan. Inflasi inti  5.5%. Kenaikan bunga tinggi ditambah negatif spread US Treasury Yield menimbulkan kekhawatiran potensi resesi. 

Potensi krisis AS kedua, datang dari sektor perbankan. Pandemi kembali menjadi kambing hitam atas runtuhnya beberapa bank  di AS. Quantitative easing dan bantuan langsung tunai (BLT) Pemerintah AS ke masyarakat mendorong likuiditas longgar. 

Neraca Fed sebelum pandemi di US$ 3,8 triliun, sempat naik sampai US$ 8,9 triliun. Jadi, ada lebih dari US$ 5 triliun likuiditas disuntikkan ke sistem perekonomian. Likuiditas longgar mendorong dana pihak ketiga tinggi selama pandemi. 

Penyaluran kredit terbatas dan bank AS menempatkan sebagian besar dana mereka alam US Treasury. Waktu itu yield US Treasury relatif rendah karena fed rate masih 0%-0,25%. 

Inflasi tinggi dan kenaikan fed rate yang agresif telah mendorong kenaikan yield. Ini Artinya US Treasury yang dipegang bank regional rata-rata rugi. Ditambah bunga tinggi tentu mendorong naiknya kredit bermasalah (NPL) sebagian bank tersebut.

Baca Juga: Krisis Bank di AS Buka Peluang The Fed Pangkas Suku Bunga Mulai Kuartal III-2023

Masalah bank di AS karena sebagian besar jumlah simpanan tidak diasuransikan. Walhasil, muncul penarikan dana nasabah untuk menghindari potensi kerugian bila bank regional bermasalah.

Sebanyak 4.844 bank di AS menghadapi persoalan  sama, yakni penurunan nilai aset akibat kenaikan bunga Fed dan penarikan dana nasabah.

Beberapa pekan lalu beredar berita, sedikitnya 190 bank di AS berpotensi bangkrut. Dari jumlah itu, ada 12 bank dipersepsikan dalam posisi terancam bangkrut, ditandai dengan kejatuhan harga-harga sahamnya. 

Kekhawatiran krisis perbankan AS sebenarnya mulai mereda, Tetapi pernyataan Menteri Keuangan AS, Janet Yellen akhir pekan lalu  kepada chief executive officer (CEO) bank menyatakan, mungkin perlu merger bank lebih banyak setelah serangkaian kegagalan bank. Ini menimbulkan kembali kekhawatiran krisis perbankan AS sebenarnya tidak benar-benar sudah berakhir.

Masalah ketiga, AS terancam mengalami gagal bayar utang pada 1 Juni 2023 bila pemerintah dan Kongres AS gagal menyepakati kenaikan plafon utang baru. Yellen mengatakan, kegagalan Kongres menaikkan plafon utang pemerintah akan memicu malapetaka ekonomi yang bisa menyebabkan suku bunga ke depan lebih tinggi. 

Kondisi default AS  berkepanjangan juga menyebabkan 8,3 juta orang kehilangan pekerjaan pada kuartal III-2023 dan pasar saham AS jatuh hingga 45%.

Tengah pekan lalu sebenarnya timbul optimisme AS tidak akan gagal membayar utang. Ini setelah Presiden AS, Joe Biden mengatakan, pembicaraan dengan anggota-anggota Partai Republik di Kongres berlangsung produktif. Tapi akhir pekan Republik mengatakan, tidak, dan baru saja melakukan pemogokan. 

Itu terjadi ketika Biden baru saja terbang menghadiri KTT G7 di Hiroshima, Jepang. Beredar kabar, politisi Partai Republik keberatan dengan besarnya bantuan AS ke Ukraina untuk mendanai perang . Di sisi lain beberapa perbaikan infrastruktur di AS terbengkalai akibat kekurangan anggaran.

Bila kabar ini benar, ada potensi deal plafon utang akan mengakhiri bantuan AS ke Ukraina dan berpotensi mengakhiri perang di kawasan tersebut. Berakhirnya perang tentu akan positif bagi pasar saham global. 

Di tengah banyaknya krisis di  AS apakah US Treasury masih menjadi safe haven? Apakah dollar AS tetap menjadi mata uang paling kuat dan paling banyak digunakan?

Mulai banyak negara mengurangi ketergantungan terhadap dollar AS. Mungkin dunia melirik ide BRICS yang sedang melakukan agenda reformasi perekonomian global. Yakni diversifikasi mata uang internasional sehingga tidak bergantung pada dollar AS.           

Bagikan

Berita Terbaru

Prospek Emiten RS Bakal Semakin Sehat Tahun Ini, Pilih Saham MIKA, HEAL atau SILO?
| Selasa, 20 Januari 2026 | 09:45 WIB

Prospek Emiten RS Bakal Semakin Sehat Tahun Ini, Pilih Saham MIKA, HEAL atau SILO?

Dominasi segmen pasien swasta yang memiliki margin lebih bagus diprediksi akan berlanjut tahun 2026.

Faktor Fundamental Memacu Laju Indeks Sektoral
| Selasa, 20 Januari 2026 | 08:38 WIB

Faktor Fundamental Memacu Laju Indeks Sektoral

Indeks sektoral saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat kinerja apik di sepanjang tahun 2026 berjalan.

Penjualan Semen Lambat di Akhir 2025, Tahun Ini Diproyeksi Sudah bisa Mulai Berlari
| Selasa, 20 Januari 2026 | 08:37 WIB

Penjualan Semen Lambat di Akhir 2025, Tahun Ini Diproyeksi Sudah bisa Mulai Berlari

Simak rekomendasi saham INTP dan SMGR serta proyeksi pemulihan pasar konstruksi yang berefek ke industri semen di kuartal II-2026.

Dirikan Anak Usaha Baru, Indika Energy (INDY) Memperluas Ekspansi Non Batubara
| Selasa, 20 Januari 2026 | 08:34 WIB

Dirikan Anak Usaha Baru, Indika Energy (INDY) Memperluas Ekspansi Non Batubara

PT Indika Energy Tbk (INDY) mendirikan perusahaan baru di bidang manufaktur kendaraan listrik komersial.​

Ekspansi Agresif dan Aksi Borong Prajogo Pangestu Jadi Amunisi Saham BREN
| Selasa, 20 Januari 2026 | 08:10 WIB

Ekspansi Agresif dan Aksi Borong Prajogo Pangestu Jadi Amunisi Saham BREN

Efek ekspansi kapasitas yang digelar PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) tidak akan terlihat seketika.

Geely Memulai Perakitan di Indonesia
| Selasa, 20 Januari 2026 | 07:58 WIB

Geely Memulai Perakitan di Indonesia

Kolaborasi PT Handal Indonesia Motor (HIM) menegaskan komitmen jangka panjang Geely untuk memperkuat fondasi industri otomotif nasional 

Psokan Gas Seret, Industri di Jawa Timur Terganggu
| Selasa, 20 Januari 2026 | 07:45 WIB

Psokan Gas Seret, Industri di Jawa Timur Terganggu

Pada Januari 2026, PGN menyurati pelanggan industri untuk menginformasikan kuota gas hanya diberikan di kisaran 43%–68%.

Simak Proyeksi Saham AALI di Tengah Beragam Tarik Ulur Kebijakan Industri Sawit
| Selasa, 20 Januari 2026 | 07:41 WIB

Simak Proyeksi Saham AALI di Tengah Beragam Tarik Ulur Kebijakan Industri Sawit

Beberapa hari terakhir harga saham PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) menunjukkan tanda-tanda tertekan.

Prabowo Tunjuk Ponakan, Pasar Khawatir Independensi BI Terancam, Rupiah Makin Anjlok
| Selasa, 20 Januari 2026 | 07:39 WIB

Prabowo Tunjuk Ponakan, Pasar Khawatir Independensi BI Terancam, Rupiah Makin Anjlok

Rupiah anjlok setelah Prabowo Subianto menominasikan keponakannya, yang juga Wakil Menteri Keuangan  Thomas Djiwandono, masuk Dewan Gubernur BI. 

Perdana di 2026, Dana Asing Kabur dari Bursa, Dampak Prabowo Tunjuk Ponakan ke BI?
| Selasa, 20 Januari 2026 | 07:22 WIB

Perdana di 2026, Dana Asing Kabur dari Bursa, Dampak Prabowo Tunjuk Ponakan ke BI?

Rekor terbaru itu di tengah terjadinya aksi jual bersih perdana di 2026, sebesar Rp 708,61 miliar. Juga di tengah rupiah yang semakin suram. 

INDEKS BERITA

Terpopuler