Kredibilitas APBN 2026

Selasa, 13 Januari 2026 | 06:10 WIB
Kredibilitas APBN 2026
[ILUSTRASI. TAJUK - Syamsul Ashar (KONTAN/Indra Surya)]
Syamsul Ashar | Managing Editor

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Peringatan Citigroup bahwa defisit APBN Indonesia berpotensi menembus 3,5% dari PDB pada 2026 bukan sekadar catatan teknis anggaran. Bagi pelaku usaha dan pasar keuangan, ini alarm keras bahwa jangkar disiplin fiskal yang selama ini menopang kepercayaan bisa mulai terlepas. Jika batas defisit 3%—yang jadi simbol kehati-hatian fiskal pascareformasi—dilanggar, taruhannya kredibilitas.

Konteksnya jelas. Defisit 2025 sudah diproyeksikan berada di kisaran 2,9% PDB, tertinggi di luar masa pandemi dalam dua dekade terakhir. Di saat pertumbuhan ekonomi melambat dan penerimaan pajak melemah, belanja justru melonjak. Program makan gratis nasional dan kebutuhan rekonstruksi pascabanjir di Sumatra menjadi pendorong utama. Secara politik dan sosial, dua pos ini sulit ditolak, tapi secara fiskal, dampaknya nyata dan berlapis.

Masalah pertama adalah ketidaksinkronan siklus fiskal dengan kondisi ekonomi. Ketika basis penerimaan tertekan, ekspansi belanja tanpa penyangga yang kuat hanya akan memperlebar defisit struktural. Dunia usaha memahami bahwa defisit bukan dosa. Namun defisit yang melebar di tengah pertumbuhan yang melunak adalah resep klasik bagi naiknya premi risiko.

Risiko terhadap pasar obligasi dan biaya pendanaan tak bisa diabaikan. Proyeksi rasio utang pemerintah yang naik menuju sekitar 42% PDB pada 2029 mungkin masih tampak “aman” di atas kertas. Tetapi pasar tidak bekerja dengan kacamata statis. Yang dinilai adalah arah kebijakan dan konsistensinya. Jika defisit melewati batas hukum tanpa peta jalan yang meyakinkan untuk kembali ke rel, imbal hasil surat utang berpotensi tertekan naik. Efek ikutannya akan menjalar ke biaya modal korporasi.

Di titik ini, pemerintah menghadapi dilema kebijakan yang meresahkan pelaku usaha. Pemerintah hanya memiliki dua opsi besar: merevisi aturan batas defisit atau memangkas belanja secara agresif. Revisi aturan bisa dibaca pasar sebagai pelonggaran disiplin. Sementara pemangkasan belanja yang tergesa berisiko menghantam proyek infrastruktur dan belanja produktif—dua motor yang selama ini menopang aktivitas sektor swasta.

Karena itu, dibutuhkan pelaku usaha bukan janji, melainkan kepastian arah. Pemerintah harus menyajikan kerangka fiskal menengah yang kredibel: prioritas belanja yang ketat, perbaikan kualitas belanja, dan strategi penguatan penerimaan yang realistis tanpa menambah beban mendadak bagi dunia usaha.

Selanjutnya: Arus Masuk Lemah, Rupiah Relatif Tertekan di Kuartal I 2026

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Laju Kendaraan Niaga Masih Terasa Berat
| Selasa, 13 Januari 2026 | 07:33 WIB

Laju Kendaraan Niaga Masih Terasa Berat

Sektor logistik hingga tambang masih jadi penopang terhadap penjualan kendaraan niaga pada tahun ini

Menakar Kilau Dividen UNVR 2026 Pasca Divestasi Sariwangi dan Spin Off Bisnis Es Krim
| Selasa, 13 Januari 2026 | 07:33 WIB

Menakar Kilau Dividen UNVR 2026 Pasca Divestasi Sariwangi dan Spin Off Bisnis Es Krim

Dividen PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) diprediksi makin menarik usai spin off es krim dan lepas Sariwangi.

LFLO Membuka Gerai Furnitur B&B Italia
| Selasa, 13 Januari 2026 | 07:25 WIB

LFLO Membuka Gerai Furnitur B&B Italia

Dari sisi korporasi, pembukaan flagship store ini merupakan langkah ekspansi yang dirancang secara terukur

Kemendag Catat 7.887 Laporan Konsumen
| Selasa, 13 Januari 2026 | 07:21 WIB

Kemendag Catat 7.887 Laporan Konsumen

Secara nilai sepanjang 2025, nilai transaksi konsumen meningkat 379% ke Rp 18,19 miliat dibanding transaksi pada 2024 yang hanya Rp 3,79 miliar

Pemangkasan RKAB Nikel Harus Cermat
| Selasa, 13 Januari 2026 | 07:18 WIB

Pemangkasan RKAB Nikel Harus Cermat

Berdasarkan rule of thumb pasar, pemangkasan pasokan global di bawah 3% hanya menjadi noise dan tidak banyak menggerakkan harga.

 Kilang Minyak Jumbo Indonesia Beroperasi
| Selasa, 13 Januari 2026 | 07:13 WIB

Kilang Minyak Jumbo Indonesia Beroperasi

Pemerintah meresmikan Kilang Balikpapan dengan kapasitas 360.000 barel minyak per hari yang bisa menyetop impor solar

Kuota Dipangkas, Bisnis Daging Sapi Terancam Amblas
| Selasa, 13 Januari 2026 | 07:04 WIB

Kuota Dipangkas, Bisnis Daging Sapi Terancam Amblas

Sejumlah asosiasi berteriak karena kebijakan tersebut berpotensi mengganggu kelangsungan usaha, memicu pemutusan hubungan kerja (PHK)

Antara Efek Bunga dan Daya Beli bagi Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE)
| Selasa, 13 Januari 2026 | 06:30 WIB

Antara Efek Bunga dan Daya Beli bagi Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE)

Kinerja PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) masih dibayangi kondisi ekonomi dan persaingan antar pengembang properti

Rupiah Masih Akan Tertekan pada Selasa (13/1)
| Selasa, 13 Januari 2026 | 06:15 WIB

Rupiah Masih Akan Tertekan pada Selasa (13/1)

Mengutip Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup melemah 0,21% secara harian ke Rp 16.855 per dolar AS.

Gencar Akuisisi, Petrosea (PTRO) Masih bisa Unjuk Gigi di Tahun Ini
| Selasa, 13 Januari 2026 | 06:10 WIB

Gencar Akuisisi, Petrosea (PTRO) Masih bisa Unjuk Gigi di Tahun Ini

PT Petrosea Tbk (PTRO) diproyeksi bakal menuai hasil positif pada 2026 dari berbagai aksi korporasi di sepanjang 2025.

INDEKS BERITA

Terpopuler