Transparansi ETF Emas

Rabu, 12 Agustus 2026 | 10:55 WIB
Transparansi ETF Emas
[ILUSTRASI. Adi Wikanto (KONTAN/Indra Surya)]
Adi Wikanto | Senior Editor

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar modal Indonesia membuka sejarah baru dengan menghadirkan Exchange-Traded Fund (ETF) emas mulai Senin 10 Agustus 2026. Sebanyak lima produk ETF Emas Syariah yang dipasarkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pun mendapat sambutan hangat dari para investor. Harga semua ETF emas melonjak tinggi, hingga menyentuh auto rejection atas (ARA) pada hari perdana dan kembali meningkat pesat di hari kedua.

Selain menghadirkan produk investasi baru, ETF emas juga menawarkan kepraktisan. Investor tak perlu repot mencari tempat penyimpanan fisik emas batangan jika ingin berinvestasi logam mulia.

Namun, kehadiran ETF emas di negara berkembang memiliki sejumlah tantangan. Ini bukan hanya ketersediaan dan kepastian jumlah produk emas yang menjadi underlying ETF, melainkan likuiditas dan transparansi.

ETF emas telah lebih dulu hadir di negara maju. Namun, tidak sedikit ETF komoditas ini yang terpaksa gulung tikar (delisting). Merujuk website ETF Database, Amerika Serikat memiliki ETF emas yang sukses, yakni GLD dengan total dana kelolaan per 7 Agustus 2026 sebesar US$ 139.612 juta.

Namun beberapa produk ETF Emas turunan serta produk variasi berbasis kontrak derivatif memicu kekecewaan investor akibat keandalan tracking error yang buruk dan penurunan nilai yang tergerus biaya operasional. Begitu pula di beberapa bursa negara berkembang, ETF emas dilikuidasi karena Asset Under Management (AUM) tak mampu menutup biaya audit brankas dan jasa kustodian. Hasilnya, investor terjebak dalam spread harga jual-beli yang sangat lebar.

Agar ETF emas di BEI tumbuh berkelanjutan dan terhindar dari potensi kejahatan keuangan (fraud), Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan BEI wajib mewajibkan audit fisik keberadaan emas batangan di brankas kustodian secara berkala oleh auditor independen bertaraf internasional. Hasil serial nomor batangan emas harus dipublikasikan secara terbuka untuk mencegah risiko fractional reserve atau klaim ganda (double-pledging).

Ingat, tanpa transparansi emas fisik dan jaminan likuiditas, ETF emas berisiko merugikan investor. Di sisi lain, transparansi dalam investasi di Indonesia, masih banyak pekerjaan rumah. Kasus gagal bayar nasabah reksadana yang merupakan sejenis ETF kerap terjadi di Indonesia. Juli 2026, keluhan gagal bayar nasabah reksadana mencuat dan belum ada kejelasan nasib.

Bagikan

Berita Terbaru

Gubernur BI di Zaman yang Tak Pasti
| Rabu, 12 Agustus 2026 | 11:13 WIB

Gubernur BI di Zaman yang Tak Pasti

Ukuran keberhasilan gubernur BI bukan popularitas atau ketenangan pasar selama satu-dua hari, melainkan kepercayaan.

Transparansi ETF Emas
| Rabu, 12 Agustus 2026 | 10:55 WIB

Transparansi ETF Emas

Ingat, tanpa transparansi emas fisik dan jaminan likuiditas, maka ETF emas berisiko merugikan investor. 

Rapor Merah IPO BUMN Membayangi Rencana Danantara Boyong Pelat Merah ke Lantai Bursa
| Rabu, 12 Agustus 2026 | 10:01 WIB

Rapor Merah IPO BUMN Membayangi Rencana Danantara Boyong Pelat Merah ke Lantai Bursa

Dari 13 BUMN dan anak usaha BUMN non-bank yang IPO sejak 2010, hanya PGEO yang sahamnya mampu bertahan di atas harga perdana.

Penjualan Ritel Juga Diperkirakan Menurun
| Rabu, 12 Agustus 2026 | 09:16 WIB

Penjualan Ritel Juga Diperkirakan Menurun

Indeks Penjualan Riil (IPR) Juli 2026 diperkirakan berada di level 224,4, turun 0,7% per bulan      

Penerimaan Pajak Baru Setengah Target
| Rabu, 12 Agustus 2026 | 09:11 WIB

Penerimaan Pajak Baru Setengah Target

Realisasi penerimaan pajak hingga akhir Juli 2026 baru mencapai 51% dari target                     

Kasus Korupsi Ekspor CPO 15 Perusahaan Sawit Masuk Pengadilan, Kerugian Rp 7,3 T
| Rabu, 12 Agustus 2026 | 09:07 WIB

Kasus Korupsi Ekspor CPO 15 Perusahaan Sawit Masuk Pengadilan, Kerugian Rp 7,3 T

Skandal ini menjadi sorotan tajam setelah hasil audit BPKP mengungkap angka fantastis kerugian negara yang mencapai Rp 7,3 triliun.​

Usai Dapat Kontrak Rp 22 Triliun Saham DEWA Melandai, Investor Tunggu Pembuktian
| Rabu, 12 Agustus 2026 | 08:38 WIB

Usai Dapat Kontrak Rp 22 Triliun Saham DEWA Melandai, Investor Tunggu Pembuktian

Efek kontrak Sebuku Sejaka Coal (SSC) ke EBITDA PT Darma Henwa Tbk (DEWA) diproyeksikan sekitar 4% pada 2026.

Saham Duo Garuda GIAA dan GMFI Kompak Terbang, Masih Aman Buat Dikejar?
| Rabu, 12 Agustus 2026 | 08:10 WIB

Saham Duo Garuda GIAA dan GMFI Kompak Terbang, Masih Aman Buat Dikejar?

Kenaikan harga saham Grup Garuda, yakni GIAA dan GMFI dibumbui cerita soal aksi korporasi dan dukungan pemerintah.

Antara MSCI dan Indeks Kepercayaan Konsumen, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini
| Rabu, 12 Agustus 2026 | 07:44 WIB

Antara MSCI dan Indeks Kepercayaan Konsumen, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

Investor juga cenderung wait and see menjelang review MSCI pada 12 Agustus. Ini katalis penting bagi arah IHSG dan aliran dana asing.

Menyimak Strategi Trading Saham KLBF Saat Tren Penguatan Harga Mulai Terbentuk
| Rabu, 12 Agustus 2026 | 07:37 WIB

Menyimak Strategi Trading Saham KLBF Saat Tren Penguatan Harga Mulai Terbentuk

Kenaikan harga saham KLBF kemarin (11/8) melanjutkan tren positif yang telah terbentuk dalam sepekan dan sebulan terakhir.

INDEKS BERITA

Terpopuler