Unilever Indonesia (UNVR) Belum Lepas dari Tekanan Hingga Tahun Depan

Selasa, 16 November 2021 | 05:45 WIB
Unilever Indonesia (UNVR) Belum Lepas dari Tekanan Hingga Tahun Depan
[]
Reporter: Hikma Dirgantara | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tahun 2021 bukan menjadi periode baik bagi PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR). Kinerja emiten consumer goods ini masih tertekan pada kuartal III-2021. 

Selama sembilan bulan pertama tahun ini, UNVR membukukan penurunan pendapatan 7,48% secara year on year (yoy) menjadi Rp 30,03 triliun. Sementara laba bersih anjlok sekitar 19,25% menjadi Rp 4,38 triliun. Penurunan kinerja UNVR juga membuat harga saham terkoreksi 39,67% ke Rp 4.510 per saham sejak awal tahun. 

Analis RHB Sekuritas Michael Wilson Setjoadi mengatakan, saat ini justru menjadi momentum tepat untuk mengoleksi saham UNVR. Pasalnya, secara valuasi, harga saham UNVR tergolong menarik. Hitungan Michael, PER UNVR saat ini 25-28 kali, padahal secara historikal PER UNVR di 45 kali. "Selain valuasinya menarik, UNVR merupakan emiten dengan dividend yield tinggi," kata Michael.

Baca Juga: Unilever (UNVR) fokus digital, jaga momentum pemulihan daya beli

Return on equity (ROE) dan free cash flow UNVR juga masih kuat. Posisi ini memungkinkan UNVR mempertahankan pembayaran dividen 100% tahun ini. 

Tahun depan, outlook bisnis UNVR masih menantang seiring persaingan yang ketat. Tapi Michael yakin, UNVR berpeluang memperbaiki kinerja. Ini seiring keputusan UNVR menaikkan harga beberapa produk serta peluncuran produk baru di segmen premium demi menjaga market share. 

Keputusan menaikkan harga akan membuat margin UNVR lebih tinggi secara tahunan pada tahun depan. "Kenaikan harga juga bisa membantu kinerja UNVR ke depan," imbuh Michael. 

Analis Maybank Sekuritas Indonesia Willy Goutama dalam risetnya memaparkan, peluncuran produk baru dengan harga premium bisa membuat konsumen melakukan downtrading. "Namun, kami ekspektasi bila daya beli masyarakat pulih, khususnya untuk barang non-basic, UNVR bisa mencetak kenaikan penjualan 4% dan 7% pada 2022 dan 2023," proyeksi dia. 

Harga jual

Baca Juga: Laba bersih Unilever (UNVR) turun 19,52% jadi Rp 4,37 triliun pada kuartal III-2021

Walau penjualan berpotensi meningkat, tekanan pada margin EBIT masih akan berlanjut. Willy memprediksi EBIT UNVR di 2021, 2022, dan 2023 masing-masing mencapai 18,8%, 19,8%, dan 21,2%. Menurut Willy, ini karena harga minyak dan CPO yang lebih tinggi dan biaya belanja iklan yang melesat. 

Analisa Willy, efek kenaikan harga minyak dan CPO bisa dibatasi karena bisa dibebankan ke konsumen. Tapi menaikkan belanja iklan harus dilakukan karena UNVR perlu agresif mencari peluang pertumbuhan di segmen premium.

Analis BRIDanereksa Sekuritas Natalia Sutanto memperkirakan, UNVR akan mencatatkan pemulihan kinerja pada kuartal IV-2021. Ia meyakini, segmen food & refreshment (FNR) akan jadi lini bisnis dengan kinerja positif, didukung oleh penjualan Unilever Food Solutions (UFS), es krim, dan bumbu penyedap Royco. Penjualan Buavita juga menunjukkan kenaikan seiring dengan kesadaran masyarakat menjaga kesehatan.

Tapi penjualan segmen home & personal care (HPC) justru lesu di kuartal III-2021. Natalia menilai, kelesuan segmen ini akibat konsumen membeli produk yang harganya lebih murah.

Natalia melihat manajemen UNVR sudah menaikkan harga jual produk secara bertahap sejak Oktober. Ia memprediksi top line UNVR naik 3,9% secara tahunan menjadi Rp 41,45 triliun di tahun depan. Sedangkan laba bersih naik 5,6% jadi Rp 6,4 triliun.

Natalia juga memandang positif penjualan lewat marketplace dan e-commerce karena jangkauan distribusi menjadi lebih luas. Natalia dan Willy merekomendasi hold UNVR dengan target Rp 4.300 dan Rp 4.500. Michael merekomendasikan beli dengan target Rp 5.800.            

Baca Juga: Mirae Asset rekomendasikan sell saham UNVR, ini ulasannya

Bagikan

Berita Terbaru

Matahari Department Store (LPPF) Akan Berganti Nama dan Menyebar Dividen Final
| Jumat, 17 April 2026 | 09:40 WIB

Matahari Department Store (LPPF) Akan Berganti Nama dan Menyebar Dividen Final

Para pemegang saham PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) menyepakati perubahan nama perusahaan menjadi PT MDS Retailing Tbk.

Penuhi Free Float, Prajogo Pangestu Kembali Jual Saham  Petrindo Jaya Kreasi (CUAN)
| Jumat, 17 April 2026 | 09:32 WIB

Penuhi Free Float, Prajogo Pangestu Kembali Jual Saham Petrindo Jaya Kreasi (CUAN)

Prajogo Pangestu kembali melepas 531.669.900 saham CUAN dalam 25 kali transaksi. Ini berlangsung sejak 10 April sampai 15 April 2026. 

Dipicu Faktor Low Season, Laba Pembangunan Jaya Ancol (PJAA) Anjlok di Kuartal I-2026
| Jumat, 17 April 2026 | 09:23 WIB

Dipicu Faktor Low Season, Laba Pembangunan Jaya Ancol (PJAA) Anjlok di Kuartal I-2026

Di kuartal I-2026, pendapatan PJAA hanya Rp 207,58 miliar, anjlok 1,52% secara tahunan (YoY) dari Rp 210,80 miliar pada kuartal I-2025. ​

Saham Infrastruktur Belum Subur
| Jumat, 17 April 2026 | 09:16 WIB

Saham Infrastruktur Belum Subur

Kinerja saham emiten infrastruktur masih meloyo dan semakin tertinggal dibandingkan 10 indeks sektoral lainnya di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Punya Kontrak Jangka Panjang dan Tambah Armada, Seberapa Menarik Saham ELPI?
| Jumat, 17 April 2026 | 08:30 WIB

Punya Kontrak Jangka Panjang dan Tambah Armada, Seberapa Menarik Saham ELPI?

PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk (ELPI) memperluas jangkauan operasional di kawasan Asia-Pasifik.

Terjerembap! Deretan Saham Big Caps Bikin IHSG Loyo, Kapan Waktu Tepat Serok Bawah?
| Jumat, 17 April 2026 | 08:00 WIB

Terjerembap! Deretan Saham Big Caps Bikin IHSG Loyo, Kapan Waktu Tepat Serok Bawah?

Meski IHSG sempat rebound, saham-saham big caps tetap tertekan dan mendominasi daftar top laggards IHSG. 

Program MBG Perlu Audit dan Pengawasan Ketat
| Jumat, 17 April 2026 | 07:21 WIB

Program MBG Perlu Audit dan Pengawasan Ketat

Pengawasan yang ketat dari bebagai pihak diperlukan untuk menutup celah penyimpangan anggaran program MBG

Saham INTP vs SMGR: Mana yang Lebih Kuat Hadapi Badai Industri Semen?
| Jumat, 17 April 2026 | 07:16 WIB

Saham INTP vs SMGR: Mana yang Lebih Kuat Hadapi Badai Industri Semen?

Oversupply dan krisis batubara menekan industri semen. Pahami rekomendasi saham untuk SMGR dan INTP.

Dukung WFH, PLN Diskon Tambah Daya Listrik
| Jumat, 17 April 2026 | 07:12 WIB

Dukung WFH, PLN Diskon Tambah Daya Listrik

Direktur Retail dan Niaga PLN, Adi Priyanto mengatakan, momentum WFH membuat kebutuhan listrik rumah tangga meningkat.

Kinerja Operasional Masih Lesu, UNTR Pasang Strategi Lebih Defensif
| Jumat, 17 April 2026 | 07:09 WIB

Kinerja Operasional Masih Lesu, UNTR Pasang Strategi Lebih Defensif

Kinerja UNTR anjlok di berbagai segmen, dari alat berat hingga batubara. Simak analisis saham UNTR di sini.

INDEKS BERITA

Terpopuler