Usai Stock Split Saham UNVR Melemah, Simak Prospek dan Rekomendasinya

Rabu, 29 Januari 2020 | 06:50 WIB
Usai Stock Split Saham UNVR Melemah, Simak Prospek dan Rekomendasinya
[ILUSTRASI. Logo Unilever di kantor pusatnya di Rotterdam, Belanda (21/8/2018). Minat beli investor terhadap Saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) sejauh ini belum besar dan membuat harga sahamnya terus melemah. REUTERS/Piroschka van de Wouw/File Photo]
Reporter: Intan Nirmala Sari | Editor: Tedy Gumilar

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) mengawali 2020 dengan memecah nilai nominal saham alias stock split.

Meski begitu, alih-alih melejit, pergerakan harga dan volume perdagangan saham emiten ini masih belum membaik.

Analis Indo Premier Sekuritas Kevie Aditya dan Elbert Setiadharma dalam risetnya menuliskan, pihaknya sudah mengantisipasi efek aksi korporasi tersebut tidak akan besar terhadap harga saham dan volume transaksi harian.

Secara year to date sampai Selasa (28/1), harga saham UNVR turun 1,79% jadi Rp 8.250 per saham.

"Belajar dari stock split PT HM Sampoerna Tbk pada 2016, kami melihat aksi korporasi tersebut akan berdampak terbatas," tulis Kevie.

Volume transaksi di pasar saham awal tahun ini memang masih sepi. Ini menjadi penyebab saham UNVR tak banyak bergerak.

Baca Juga: Saham UNVR malah turun ketika pertama kali diperdagangkan di pasar tunai, kenapa?

Apalagi banyak sentimen negatif yang membebani pergerakan harga saham.

Menurut analis BNI Sekuritas William Siregar, saham UNVR juga tertekan kondisi makroekonomi yang tidak mendukung sektor konsumsi.

Apalagi pemerintah berencana menaikkan sejumlah tarif tahun ini.

"Pemerintah berencana menaikkan tarif tol, iuran BPJS Kesehatan sudah naik hingga ada potensi pemerintah menaikkan harga gas elpiji 3 kilogram (kg)," ujar dia.

Kondisi ini membuat beban masyarakat bertambah dan bisa mengurangi belanja.

Terdampak komoditas

Tak hanya itu, tren kenaikan harga komoditas minyak kelapa sawit alias crude palm oil (CPO), gandum dan gula bakal memberi tekanan bagi UNVR.

"Kondisi tersebut akan berdampak cukup sistemik bagi kinerja perusahaan konsumsi, termasuk UNVR," kata William, Selasa (28/1).

Analis JP Morgan Benny Kurniawan dalam riset yang dirilis 27 Januari 2020 menjelaskan, efek kenaikan harga CPO dan royalti dari induk bakal menurunkan margin laba. Tapi Benny menyukai model bisnis Unilever.

"Perusahaan ini memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan cepat atas tren saat ini," ujar Benny.

Ini terbukti dari peluncuran produk baru yang cukup sukses diterima pasar.

Dia juga menyebut, UNVR telah menciptakan portofolio yang kuat di seluruh kategori dan segmen pendapatan.

Baca Juga: Ditransaksikan di harga baru, saham Unilever (UNVR) naik lebih dari 2%

"Kami percaya UNVR memiliki cakupan produk dan portofolio merek yang cukup luas," ujar Benny.

Selain itu, potensi buyback saham dari induk juga akan menjadi sumber pengerek harga UNVR ke depan.

Meski begitu, JP Morgan masih memasang rekomendasi netral bagi UNVR, karena potensi perlambatan konsumsi di 2020.

Benny pasang target harga UNVR di Rp 8.700.

William merekomendasikan hold dengan target Rp 8.300.

Mimi Halimin, analis Mirae Asset Sekuritas merekomendasikan trading buy dengan target harga Rp 9.640.

Bagikan

Berita Terbaru

Siap-Siap, CMRY Akan Membagikan Dividen Tunai Rp 793 Miliar
| Sabtu, 11 April 2026 | 08:46 WIB

Siap-Siap, CMRY Akan Membagikan Dividen Tunai Rp 793 Miliar

Nantinya, setiap pemegang saham emiten produsen susu olahan akan memperoleh dividen final tunai sebesar Rp 100 per saham.

Masyarakat Mulai Berhitung Cermat
| Sabtu, 11 April 2026 | 08:01 WIB

Masyarakat Mulai Berhitung Cermat

Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Maret 2026 tercatat sebesar 122,9, turun 2,3 poin                    

Rupiah Anjlok dan Harga Energi Naik, INTP Ambil Langkah Naikkan Harga Semen
| Sabtu, 11 April 2026 | 08:00 WIB

Rupiah Anjlok dan Harga Energi Naik, INTP Ambil Langkah Naikkan Harga Semen

Kinerja Indocement 2026 diproyeksi tertekan oleh biaya energi dan rupiah yang melemah drastis. Akankah INTP mampu bertahan dari badai ekonomi?

Tokocrypto Gandeng BRI & Mandiri: Akses Kripto Kini Makin Mudah
| Sabtu, 11 April 2026 | 08:00 WIB

Tokocrypto Gandeng BRI & Mandiri: Akses Kripto Kini Makin Mudah

Tokocrypto kini tawarkan deposit via BRI & Mandiri. Ini langkah menarik investor di tengah pasar kripto yang les

Restitusi Disikat, Pebisnis Tercekat
| Sabtu, 11 April 2026 | 07:52 WIB

Restitusi Disikat, Pebisnis Tercekat

Kementerian Keuangan menggandeng BPKP dalam melakukan audit menyeluruh terhadap restitusi pajak     

Emas Bangkit Lagi! Analis Ungkap Alasan di Balik Kenaikan Harga
| Sabtu, 11 April 2026 | 07:15 WIB

Emas Bangkit Lagi! Analis Ungkap Alasan di Balik Kenaikan Harga

Harga emas spot menguat 2,25% dalam sepekan. Koreksi harga justru jadi peluang investor. Ketahui pemicu kenaikannya sekarang

Gejala Resentralisasi dalam Senyap
| Sabtu, 11 April 2026 | 07:05 WIB

Gejala Resentralisasi dalam Senyap

Atas nama otonomi, ada gejala resentralisasi yang bekerja secara perlahan yang dilakukan pemerintah pusat terhadap pemerintah daerah.​

Nasib Rupiah Sepekan ke Depan: Inflasi AS dan Harga BBM Jadi Kunci
| Sabtu, 11 April 2026 | 07:00 WIB

Nasib Rupiah Sepekan ke Depan: Inflasi AS dan Harga BBM Jadi Kunci

Rupiah terancam melemah lebih dalam. Konflik Timur Tengah dan data inflasi AS jadi penentu nasib mata uang Garuda.

Bibit Ancaman Sosial dan Ekonomi
| Sabtu, 11 April 2026 | 07:00 WIB

Bibit Ancaman Sosial dan Ekonomi

Lonjakan harga energi, pelemahan rupiah dan ancaman kemarau ekstrem patut diantisipasi lantaran rawan secara sosial maupun ekonomi.​

Kredit Infrastruktur Perbankan Masih Mengucur Deras
| Sabtu, 11 April 2026 | 05:30 WIB

Kredit Infrastruktur Perbankan Masih Mengucur Deras

Penyaluran kredit infrastruktur Bank Mandiri selama dua bulan pertama 2026 mencetak kenaikan 30,8% secara tahunan menjadi Rp 491,63 triliun.

INDEKS BERITA

Terpopuler