Utang Negara Naik, Risiko Meningkat

Senin, 13 April 2026 | 04:30 WIB
Utang Negara Naik, Risiko Meningkat
[]
Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Nina Dwiantika

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Biaya utang pemerintah berisiko meningkat di tengah tekanan global dan pelemahan nilai tukar rupiah yang membayangi pasar obligasi domestik. Kondisi ini berpotensi mendorong investor menuntut imbal hasil lebih tinggi atas Surat Berharga Negara (SBN), baik di pasar primer maupun sekunder.

Ekonom Global Market Maybank Indonesia Myrdal Gunarto menilai, pelemahan rupiah ke kisaran Rp 17.000 per dolar AS turut mengerek persepsi risiko investor terhadap aset keuangan Indonesia. Dampaknya, setiap penerbitan utang baru berpotensi dibanderol dengan yield yang lebih mahal.

"Kalau pemerintah menerbitkan utang baru saat ini, ongkosnya pasti lebih mahal," ujar Myrdal kepada Kontan, Minggu (12/4).

Myrdal menambahkan, tekanan tersebut dipicu kombinasi faktor global, mulai dari meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah hingga lonjakan harga minyak dunia yang melampaui asumsi APBN. Sebagai negara nimportir minyak, Indonesia dinilai lebih rentan terhadap gejolak eksternal, sehingga memicu sikap risk aversion.

Meski pelemahan rupiah membuat aset domestik relatif lebih murah bagi investor asing, Myrdal menilai, premi risiko tetap menjadi pertimbangan utama. Alhasil, minat masuk masih dibayangi tuntutan yield yang lebih tinggi.

Baca Juga: Penyelesaian Utang Pakai Uang Negara

Jaga profil risiko

Untuk meredam kenaikan beban bunga, pemerintah perlu mengatur strategi penerbitan utang secara lebih hati-hati. Salah satunya dengan memperpanjang tenor surat utang agar tidak membebani pembayaran bunga dalam jangka pendek.

Selain itu, diversifikasi sumber pembiayaan juga menjadi krusial, termasuk mengurangi ketergantungan pada utang berdenominasi dolar AS yang saat ini relatif mahal. Alternatif seperti penerbitan dalam mata uang lain atau memperkuat pasar domestik dinilai bisa menjadi opsi. Instrumen sukuk pun dianggap menarik karena memiliki underlying asset yang memberikan kepastian bagi investor.

Dari sisi manajemen risiko, pemerintah juga disarankan menjaga profil jatuh tempo utang agar tidak terkonsentrasi di tenor pendek, termasuk melalui strategi debt switch dan lindung nilai (hedging). Myrdal mengingatkan, arah kebijakan suku bunga global, terutama oleh bank sentral AS, serta kebijakan domestik, akan sangat menentukan pergerakan pasar obligasi ke depan.

"Risiko global ini perlu terus diwaspadai karena bisa berdampak pada inflasi, suku bunga, dan pasar surat utang negara," kata Myrdal.

Di tengah tekanan tersebut, pemerintah memastikan strategi pembiayaan tetap berada di jalur yang direncanakan. Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Suminto mengatakan, penerbitan utang dilakukan untuk menutup defisit APBN 2026 yang ditargetkan 2,68%.

Menurut Suminto, penerbitan SBN dilakukan secara fleksibel dengan mempertimbangkan kebutuhan pembiayaan, kondisi kas, serta dinamika pasar keuangan.

Suminto menambahkan, meski yield mengalami kenaikan, pergerakannya masih moderat dibandingkan negara lain di kawasan. Kinerja lelang SBN juga tetap solid dengan minat investor yang kuat.

Pemerintah juga mengedepankan penerbitan di pasar domestik untuk memperdalam pasar keuangan dan memitigasi risiko nilai tukar. 

Baca Juga: Waspada, Beban Bunga Utang Berisiko Membengkak

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Akuisisi MAPI Tunjukkan Daya Tarik Consumer Lifestyle Indonesia
| Rabu, 13 Mei 2026 | 11:00 WIB

Akuisisi MAPI Tunjukkan Daya Tarik Consumer Lifestyle Indonesia

Valuasi MAPI masih menarik, saat ini diperdagangkan pada price earnings ratio (PER) sekitar 9,88 kali dan price to book value (PBV) 1,69 kali.

Pertumbuhan Indeks Keyakinan Konsumen Belum Mendongkrak Prospek Emiten
| Rabu, 13 Mei 2026 | 10:19 WIB

Pertumbuhan Indeks Keyakinan Konsumen Belum Mendongkrak Prospek Emiten

Kenaikan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) per April 2026 belum menjadi katalis positif emiten konsumer.

Rama Indonesia Resmi Jadi Pengendali Saham Dua Putra Utama Makmur (DPUM)
| Rabu, 13 Mei 2026 | 10:11 WIB

Rama Indonesia Resmi Jadi Pengendali Saham Dua Putra Utama Makmur (DPUM)

PT Rama Indonesia telah menyelesaikan transaksi pengambilalihan saham mayoritas PT Dua Putra Utama Makmur Tbk (DPUM). 

Medela Potentia (MDLA) Sebar Dividen Rp 176,56 Miliar
| Rabu, 13 Mei 2026 | 10:07 WIB

Medela Potentia (MDLA) Sebar Dividen Rp 176,56 Miliar

Besaran nilai dividen tersebut mencerminkan peningkatan rasio pembayaran dividen menjadi 45% dari laba bersih emiten farmasi itu di tahun 2025.

Agar Kinerja Bisa Lebih Seksi, Telkom (TLKM) Menggenjot Efisiensi
| Rabu, 13 Mei 2026 | 10:01 WIB

Agar Kinerja Bisa Lebih Seksi, Telkom (TLKM) Menggenjot Efisiensi

Saat ini, TLKM sedang melakukan streamlining alias perampingan sebagai strategi penataan portofolio non-core. ​

MIKA Masih Tangguh di Tengah Pelemahan Rupiah, Ini Penopangnya
| Rabu, 13 Mei 2026 | 09:00 WIB

MIKA Masih Tangguh di Tengah Pelemahan Rupiah, Ini Penopangnya

MIKA dinilai memiliki kemampuan cost pass-through yang cukup baik, khususnya pada segmen non-BPJS dan layanan premium.

Ruang BI Rate untuk Naik, Kian Terbuka
| Rabu, 13 Mei 2026 | 08:31 WIB

Ruang BI Rate untuk Naik, Kian Terbuka

Bank Indonesia diuji berat! Pelemahan rupiah 4,5% dan minyak US$100+ picu spekulasi kenaikan suku bunga hingga 50 bps.

RATU Perluas Portofolio Gas, Intip Potensi dan Risikonya
| Rabu, 13 Mei 2026 | 08:30 WIB

RATU Perluas Portofolio Gas, Intip Potensi dan Risikonya

Akuisisi tersebut berpotensi mendorong pertumbuhan pendapatan dan EBITDA RATU secara bertahap mulai tahun ini.

Emiten Kawasan Industri Mulai Bangkit, Cek Rekomendasi Saham Analis
| Rabu, 13 Mei 2026 | 08:01 WIB

Emiten Kawasan Industri Mulai Bangkit, Cek Rekomendasi Saham Analis

Sektor properti industri mulai pulih, didorong data center. Namun, ada emiten yang kinerjanya justru turun. Cek detailnya!

Melihat Rebound Saham-Saham Komoditas Energi Pekan Ini
| Rabu, 13 Mei 2026 | 08:00 WIB

Melihat Rebound Saham-Saham Komoditas Energi Pekan Ini

Strategi terbaik dan aman yang bisa dilakoni pekan ini adalah melakukan akumulasi secara bertahap dibandingkan averaging down secara agresif.

INDEKS BERITA

Terpopuler