Venezuela, Geoekonomi Amerika Serikat dan China
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pagi 3 Januari 2026, Amerika Serikat tidak mengawalinya dengan deklarasi perang terhadap Venezuela atau pidato dramatis tentang sisi buruk pemerintahan Nicolas Maduro di Dewan Keamanan PBB. Namun dunia justru pelan-pelan menangkap sinyal beberapa saat menjelang pagi, yakni aktivitas udara tak lazim di atas Caracas, gangguan listrik di kawasan vital negara itu, dan terputusnya jalur komunikasi strategis. Beberapa jam kemudian, Washington mengonfirmasi keterlibatan militernya secara langsung tanpa tedeng aling-aling. Tanpa bahasa diplomatik yang berbelit-belit, AS memilih berbicara dengan bahasa paling purba dalam politik internasional, yakni bahasa kekuasaan.
Apa yang terjadi di Venezuela bukan invasi konvensional seperti tumpahan masif pasukan darat untuk misi pendudukan wilayah. Operasi dirancang singkat, presisi dan selektif. Sasaran utamanya bukan warga sipil, tapi simpul-simpul kekuasaan negara seperti pusat komando, jaringan keamanan dan infrastruktur komunikasi yang menopang kelangsungan rezim. Dengan kata lain, Venezuela tidak dilumpuhkan secara fisik, tetapi dijatuhkan secara politik.
