Wake Up Call: Antisipasi Bila Window Dressing Terjadi Lagi

Senin, 07 November 2022 | 07:00 WIB
Wake Up Call: Antisipasi Bila Window Dressing Terjadi Lagi
[]
Parto Kawito | Direktur PT Infovesta Utama

KONTAN.CO.ID - Bulan Oktober baru saja kita lewati dengan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang cukup volatil. Indeks saham mengalami penurunan selama dua minggu di awal Oktober, kemudian pulih di dua minggu terakhir Oktober, sehingga bisa menorehkan return 0,83% secara bulanan dan 7,86% bila dihitung sejak awal tahun.

Indeks LQ45 mengikuti IHSG, dengan pertumbuhan 0,26% secara bulanan dan 8,88% sejak awal tahun. Sejatinya kenaikan ini seiring membaiknya bursa regional, seperti Dow Jones yang naik 13,9% dan KOSPI yang naik 6,4% secara bulanan. London FTSE juga naik 2,9% dan NIKKEI naik 6,4% di periode yang sama. Walaupun ada juga beberapa bursa yang turun, seperti Shanghai Stock Exchange turun 4,3% dan Hang Seng turun 14,7% secara bulanan.

Kenaikan IHSG dan indeks regional memancarkan optimisme bahwa pasar sudah price-in dengan berita akan terjadinya resesi tahun depan. Apalagi menjelang akhir tahun secara historis biasanya terjadi fenomena window dressing, di mana pasar memberikan return positif, terutama di Desember.

Di bulan Desember, selama 21 tahun terakhir, IHSG tidak pernah mengalami return minus satu kali pun. Namun akhir tahun masih sekitar dua bulan lagi. Apa yang seharunya investor lakukan di bulan November? Apakah menunggu hingga awal Desember atau ambil posisi sekarang?

Untuk itu, penulis tergerak mengamati pergerakan return bulanan historis di bulan November dan Desember terhadap indeks LQ45 dan IDX30Kedua indeks tersebut dipilih dengan alasan kepraktisan, karena ada reksadana indeks berdasar indeks LQ45 dan IDX30 yang tersedia bagi investor saat ini.

Baca Juga: Manfaatkan Window Dressing, Simak Saham Prospektif Pilihan Analis

Sedangkan IHSG praktis tidak bisa dibeli investor karena belum ada reksadana berbasis IHSG. Kalaupun mau ditiru sendiri oleh investor, hampir tidak memungkinkan mengingat banyaknya saham dan dana yang diperlukan. Diharapkan nantinya hasil dari kedua indeks, yaitu LQ45 dan IDX30, bisa dibandingkan untuk dipilih salah satu yang terbaik, jika ada.

Periode pengamatan mulai tahun 2012–2021. Alasan dimulai dari tahun 2012 mengingat usia IDX30 yang memang belum lahir sebelum tahun tersebut. Dengan keterbatasan data yang hanya 10 tahun, tentunya investor perlu menyadari keterbatasan kesahihan hasilnya. Hasil kompilasi return bulanan tanpa memasukkan dividen tersaji di tabel.

Pergerakan Historis LQ45 dan IDX30 di November dan Desember

Tahun

LQ45 Nov

IDX 30 Nov

LQ45 Dec

IDX 30 Dec

2012

-3,24

-2,85

1,13

0,83

2013

-6,61

-7,02

0,89

0,81

2014

2,11

2,21

1,38

1,45

2015

-0,56

0,11

4,84

4,90

2016

-7,53

-8,22

3,19

3,63

2017

-0,01

0,12

8,79

9,39

2018

4,74

4,80

1,68

1,52

2019

-2,85

-2,46

6,03

5,77

2020

11,71

11,68

5,87

4,90

2021

-2,27

-1,89

0,05

-0,04

Max

11,71

11,68

8,79

9,39

Min

-7,53

-8,22

0,05

-0,04

Rata-rata

-0,45

-0,35

3,39

3,32

% Naik

47,60%

50,00%

100,00%

90,00%

Ternyata November hanya menghasilkan probabilitas return positif sekitar 50% saja, baik untuk LQ45 maupun IDX30. Return tertinggi di bulan November tercatat 11,71% (LQ45) dan 11,68% (IDX30). sedangkan return terendah -7,53% (LQ45) dan -8,22% (IDX30).

Baca Juga: Bahan Bakar Tersisa Penggerak Indeks Bursa

Angka terendah bisa dijadikan patokan untuk menentukan titik pembelian bagi investor yang konservatif, karena mengisyaratkan penurunan sudah dalam, ditinjau dari sudut kinerja historis. Adapun angka rata-rata sebesar -0,45% untuk LQ45 dan -0,35% untuk IDX30 juga bisa untuk memberikan gambaran potensi return bila berinvestasi di bulan November, atau bisa juga menjadi perkiraan titik masuk apabila market sudah turun melebihi angka rata-rata historis tersebut.

Di Desember, sejauh ini kinerja LQ45 dan IDX30 masih baik, hanya pernah tercatat satu kali negatif, dialami IDX30 tahun lalu. Itupun “hanya” -0,04% sebulan. Reward maksimum di bulan terakhir terpantau 8,79% (LQ45) dan 9,30% (IDX30). Minimal return 0,05% (LQ45) dan -0,04% (IDX30). Rata-rata return 3,39% (LQ45) dan 3,32% (IDX30).

Angka rata-rata ini dapat dijadikan salah satu patokan untuk mengelola potensi return yang diharapkan bila investor nekat berinvestasi jangka pendek. Katakanlah sebulan bisa dapat sekitar 3,3% ditambah 0,5% bila masuk di awal November, maka bila dijumlahkan secara sederhana, potensi return sekitar 4% selama dua bulan sudah lumayan. Dari data di tabel juga bisa disimpulkan secara historis kinerja di Desember pada indeks LQ45 lebih unggul dibanding IDX30 dilihat dari rata-rata return dan risikonya.

Investor seyogyanya melihat kinerja di bulan November yang negatif sebagai peluang untuk masuk, bila percaya bahwa di bulan Desember kemungkinan besar terjadi window dressing. Memang, mendasarkan pada data historis saja cukup rentan, karena sejarah belum tentu berulang.

Oleh sebab itu, investor perlu mengkombinasikan dengan mencermati dan menganalisa data makro regional dan makro Indonesia, serta berita yang sangat cepat berganti dari positif ke negatif, atau sebaliknya. Namun bila investor mempunyai privilege horizon investasi jangka panjang, maka risiko bisa dimitigasi dengan tenang dan berpikir lebih jernih.

Bagikan

Berita Terbaru

ESG Bank KB (BBKP): Mengubah Arah Pembiayaan demi Perbaikan Kualitas
| Senin, 27 Juli 2026 | 14:36 WIB

ESG Bank KB (BBKP): Mengubah Arah Pembiayaan demi Perbaikan Kualitas

Transformasi dilakukan menyeluruh di tubuh PT Bank KB Indonesia Tbk (BBKP). Bersamaan dengan itu, bank menjaga kredit se

Ekuitas Negatif, Pergerakan Saham SINI Milik Happy Hapsoro Ditopang Isu Transformasi
| Senin, 27 Juli 2026 | 11:00 WIB

Ekuitas Negatif, Pergerakan Saham SINI Milik Happy Hapsoro Ditopang Isu Transformasi

Kedua proyek anak usaha PT Singaraja Putra Tbk (SINI)  akan menghasilkan pendapatan sekitar Rp 57,1 triliun sepanjang masa kontrak.

ETF Emas Siap Meluncur 10 Agustus 2026, BPAM dan Bahana TCW Siap Terbitkan
| Senin, 27 Juli 2026 | 10:00 WIB

ETF Emas Siap Meluncur 10 Agustus 2026, BPAM dan Bahana TCW Siap Terbitkan

Bursa Efek Indonesia menyebut, ETF emas akan diluncurkan pada 10 Agustus 2026, bertepatan dengan hari ulang tahun Pasar Modal Indonesia ke-49.

DCII Menjaga Prospek Pertumbuhan Kinerja
| Senin, 27 Juli 2026 | 08:50 WIB

DCII Menjaga Prospek Pertumbuhan Kinerja

Emiten data center PT DCI Indonesia Tbk (DCII) membukukan pertumbuhan kinerja pada semester I-2026.   ​

Ada Rumor Combiphar Bakal Menggelar IPO dan Incar Dana Segar Lebih Dari Rp 500 Miliar
| Senin, 27 Juli 2026 | 08:46 WIB

Ada Rumor Combiphar Bakal Menggelar IPO dan Incar Dana Segar Lebih Dari Rp 500 Miliar

Tidak hanya dipasarkan di Indonesia, Combiphar juga telah mengekspor produknya ke setidaknya 12 negara.

Saham Berkapitalisasi Besar Jadi Pendorong Laju Indeks Kompas100
| Senin, 27 Juli 2026 | 08:38 WIB

Saham Berkapitalisasi Besar Jadi Pendorong Laju Indeks Kompas100

Saham-saham berkapitalisasi besar di Bursa Efek Indonesia jadi penopang kinerja IDX Kompas100 dalam sebulan terakhir.

Risiko Investasi Masih Tinggi, Dana Asing Mulai Tinggalkan Pasar Emerging Market
| Senin, 27 Juli 2026 | 08:31 WIB

Risiko Investasi Masih Tinggi, Dana Asing Mulai Tinggalkan Pasar Emerging Market

Dana asing yang keluar dari emerging market, mengalir ke sejumlah kawasan dan instrumen yang dianggap sebagai aset safe haven.

Waspadai Risiko Pembalikan Arus Modal Asing
| Senin, 27 Juli 2026 | 08:28 WIB

Waspadai Risiko Pembalikan Arus Modal Asing

Namun ada risiko pembalikan arus modal menjelang September, saat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed semakin menguat

Potensi Koreksi IHSG Lebih Besar Dibanding Melanjutkan Tren Kenaikan
| Senin, 27 Juli 2026 | 08:17 WIB

Potensi Koreksi IHSG Lebih Besar Dibanding Melanjutkan Tren Kenaikan

Selama IHSG belum tutup di atas 6.377 dan volume transaksi naik, penguatan terbatas. Potensi koreksi lebih besar dibanding tren kenaikan.

Relaksasi Aturan DHE Pengaruhi Likuiditas Valas
| Senin, 27 Juli 2026 | 08:15 WIB

Relaksasi Aturan DHE Pengaruhi Likuiditas Valas

Relaksasi retensi DHE SDA bagi empat negara bisa kurangi potensi devisa yang tertahan di RI          

INDEKS BERITA

Terpopuler