Waspada Hormuz

Selasa, 03 Maret 2026 | 03:14 WIB
Waspada Hormuz
[ILUSTRASI. TAJUK - Havid Febri (KONTAN/Steve GA)]
Havid Vebri | Redaktur Pelaksana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah Iran menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis utama dunia yang memasok sekitar 20% kebutuhan minyak dunia. Penutupan dilakukan setelah serangan udara yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei oleh militer Amerika Serikat dan Israel.

Gangguan di Selat Hormuz mungkin jauh dari Indonesia, tetapi dampaknya nyata bagi negara pengimpor minyak seperti Indonesia. Pasalnya, ia adalah simpul energi global yang menentukan arah harga minyak dunia. Bila jalur ini terganggu, dampaknya segera menjalar ke pasar keuangan, nilai tukar, hingga dapur rumah tangga. 

Pertanyaannya, seberapa siap Indonesia menghadapi lonjakan harga minyak dan tekanan rupiah?

Sebagai negara yang masih mengimpor minyak dan LPG, Indonesia rentan terhadap kenaikan harga energi global. Lonjakan harga minyak akan mendorong biaya produksi dan distribusi, memicu kenaikan harga barang dan pangan.

Efek rambatan ini berisiko mengerek inflasi lebih tinggi, terutama jika berlangsung lama. Dalam situasi daya beli yang belum sepenuhnya kuat, tekanan harga dapat menjadi beban sosial sekaligus ekonomi.

Di sisi fiskal, APBN menghadapi ujian berat. Pemerintah dihadapkan pada pilihan sulit: menahan kenaikan harga domestik melalui subsidi dan kompensasi, atau membiarkan harga mengikuti pasar dengan konsekuensi gejolak. Jika harga minyak melonjak tajam, ruang fiskal menyempit dan defisit berpotensi melebar. Kredibilitas pengelolaan anggaran menjadi taruhannya.

Tekanan juga datang dari eksternal. Sentimen risk-off global dapat memicu arus keluar modal dan melemahkan rupiah. Pada saat yang sama, kebutuhan devisa untuk impor energi meningkat. Cadangan devisa memang relatif memadai, tetapi shock berkepanjangan tetap dapat menguji ketahanan eksternal.

Menyikapi besarnya tantangan yang ada, maka pemerintah dan Bank Indonesia (BI) perlu mengambil langkah pre-emptive sebelum tekanan kian membesar. Dari sisi moneter, BI dapat memperkuat bauran kebijakan stabilisasi nilai tukar, pengelolaan likuiditas, hingga komunikasi yang menenangkan pasar. Kenaikan suku bunga bukan satu-satunya instrumen, tetapi opsi tersebut tetap terbuka jika tekanan inflasi dan rupiah meningkat tajam.

Dari sisi fiskal, pemerintah dapat memperkuat bantalan sosial secara lebih terarah, mempercepat diversifikasi sumber energi, serta reformasi subsidi agar lebih tepat sasaran.

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terkait

Berita Terbaru

Meski di Bawah Lindungan BI, Rupiah Berpotensi Tertekan, Simak Prediksinya Hari Ini
| Selasa, 17 Maret 2026 | 06:24 WIB

Meski di Bawah Lindungan BI, Rupiah Berpotensi Tertekan, Simak Prediksinya Hari Ini

Kemarin rupiah sempat menyundul angka Rp 17.000. BI berupaya keras menahan rupiah agar tidak menembus angka keramat tersebut.

Emiten Pengembang Smelter Terpapar Lonjakan Harga Aluminium
| Selasa, 17 Maret 2026 | 06:05 WIB

Emiten Pengembang Smelter Terpapar Lonjakan Harga Aluminium

Lonjakan harga aluminium dapat menjadi sentimen yang memengaruhi kelangsungan usaha emiten pengembang smelter.

Menjelang Libur Lebaran, Amankan Portofolio, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini
| Selasa, 17 Maret 2026 | 06:03 WIB

Menjelang Libur Lebaran, Amankan Portofolio, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

IHSG diproyeksi masih akan bergerak fluktuatif..Selain faktor politik, hari ini pasar menantikan arah suku bunga Bank Indonesia (BI).

Para Calon Nakhoda Bursa Efek Siap Bersaing
| Selasa, 17 Maret 2026 | 05:49 WIB

Para Calon Nakhoda Bursa Efek Siap Bersaing

Nama-nama paket calon direksi Bursa Efek Indonesia (BEI) periode tahun 2026-2030 kini mulai bermuculan.

Setelah Rajin Akuisisi, Bumi Resources (BUMI) Menambah Aset Non Batubara
| Selasa, 17 Maret 2026 | 05:45 WIB

Setelah Rajin Akuisisi, Bumi Resources (BUMI) Menambah Aset Non Batubara

PT Bumi Resources Tbk (BUMI) terus berupaya meningkatkan kontribusi pendapatan segmen bisnis non-batubara.

Jeffrey Hendrik Dikabarkan Jadi Salah Satu Calon Dirut BEI, Sejumlah PR Utama Menanti
| Selasa, 17 Maret 2026 | 05:37 WIB

Jeffrey Hendrik Dikabarkan Jadi Salah Satu Calon Dirut BEI, Sejumlah PR Utama Menanti

Pekerjaan rumah direksi BEI yang utama ialah menghapuskan kebijakan yang memberatkan emiten serta tidak disukai oleh investor institusi.

Rogoh Kocek Rp 1,7 Triliun, MBMA Buyback 1,8 Miliar Saham
| Selasa, 17 Maret 2026 | 05:35 WIB

Rogoh Kocek Rp 1,7 Triliun, MBMA Buyback 1,8 Miliar Saham

Periode buyback saham PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) dimulai sejak hari ini, Selasa (17/3), sampai 16 Juni 2026. 

Muncul Tiga Paket yang Berminat Isi Direksi BEI, Salah Satunya Paket Iding Pardi
| Selasa, 17 Maret 2026 | 05:31 WIB

Muncul Tiga Paket yang Berminat Isi Direksi BEI, Salah Satunya Paket Iding Pardi

Iding Pardi yang kini menjabat Direktur Utama KPEI mengakui saat ini program yang akan dia bawa ke BEI masih dirumuskan oleh tim.

Genjot Bisnis Solusi Digital, Cuan Metrodata Electronics (MTDL) Bisa Menebal
| Selasa, 17 Maret 2026 | 05:15 WIB

Genjot Bisnis Solusi Digital, Cuan Metrodata Electronics (MTDL) Bisa Menebal

PT Metrodata Electronics Tbk (MTDL) memperkuat bisnis solusi digital berbasis cloud dan artificial intelligence (AI).

Konflik Timur Tengah Bawa Peluang Buat BULL, Cek Rekomendasi Sahamnya
| Selasa, 17 Maret 2026 | 04:06 WIB

Konflik Timur Tengah Bawa Peluang Buat BULL, Cek Rekomendasi Sahamnya

Tarif kapal tanker VLCC melonjak 1.402% YTD. Analis proyeksi pendapatan BULL naik signifikan. Simak target harga sahamnya.

INDEKS BERITA

Terpopuler