Desil Baru Kurang Tepat Sasaran? Ekonom Ingatkan Resikonya

Rabu, 19 Agustus 2026 | 05:58 WIB
Desil Baru Kurang Tepat Sasaran? Ekonom Ingatkan Resikonya
[ILUSTRASI. Pasien mendaftar untuk pelayanan BPJS Kesehatan (KONTAN/Baihaki)]
Reporter: Amalia Nur Fitri | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Beberapa waktu belakangan, pembahasan mengenai penggunaan sistem status desil dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTEN) banyak dibahas di media sosial.

Desil sendiri adalah cara membagi populasi ke dalam sepuluh kelompok berdasarkan tingkat kondisi sosial ekonomi. Desil 1 menunjukkan kelompok dengan tingkat kesejahteraan paling rendah hingga desil 10 yang merupakan kelompok dengan tingkat kesejahteraan paling tinggi. Dari pembagian ini, setiap orang atau rumah tangga ditempatkan pada rentang tertentu yang mencerminkan posisi relatifnya dibandingkan kelompok lainnya.

Baca Juga: Kendati Status Desil Tinggi, Belum Tentu Kaya

Desil DTSEN ini pun digunakan oleh Kementerian Sosial (Kemensos) sebagai salah satu pertimbangan dalam menentukan sasaran program seperti bantuan sosial (bansos), Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Non TUnai (BPNT), Programm Indonesia Pintar (PIP) dan Penerima Iuran Jaminan Kesehatan (PBI JKN). Data ini pun juga digunakan untuk membatasi pembelian BBM Bersubsidi, khususnya Pertalite.




Dilansir dari laman DTSEN, penentuan tingkat kesejahteraan tersebut mempertimbangkan sejumlah kondisi sosial dan ekonomi, antara lain pekerjaan, pendidikan kondisi tempat tinggal, daya listrik, dan kepemilikan aset.

Sementara dalam pantauan KONTAN di X, akun bernama @keluhkesahkonoh pada 15 Agustus 2026 menyebutkan ibunya yang berstatus single parent dengan gaji Rp 1,4 juta per bulan berada di desil 9, yang masuk kategori sangat kaya, sehingga mengancam status penerimaan beasiswa KIP.

Di media sosial Threads, pembahasan mengenai desil baru juga terjadi. Dalam kolom khusus mengenai desil, beberapa warga mengeluhkan berada di kelompok desil yang tidak sesuai dengan kondisi finansialnya.

Ini Artikel Spesial
Agar bisa lanjut membaca sampai tuntas artikel ini, pastikan Anda sudah berlangganan.
Sudah Berlangganan?
Berlangganan dengan Google
Gratis uji coba 7 hari pertama dan gunakan akun Google sebagai metode pembayaran.
Business Insight
Artikel pilihan editor Kontan yang menyajikan analisis mendalam, didukung data dan investigasi.
Kontan Digital Premium Access
Paket bundling Kontan berisi Business Insight, e-paper harian dan tabloid serta arsip e-paper selama 30 hari.
Masuk untuk Melanjutkan Proses Berlangganan
Bagikan

Berita Terbaru

Bencana dan Relevansi Instrumen Pembayaran
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 10:54 WIB

Bencana dan Relevansi Instrumen Pembayaran

Preferensi masyarakat terhadap pembayaran tunai banyak dipengaruhi oleh kenyamanan dan kemudahan yang dirasakan.

Meredam Inflasi
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 10:34 WIB

Meredam Inflasi

Masalahnya, lonjakan harga pangan semakin menjadi persoalan, karena terjadi saat daya beli masyarakat masih melemah.

BPJS Disuntik Dana Rp 20 Triliun: Efek ke Kinerja MIKA, SILO, dan HEAL Tak Serupa
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 09:57 WIB

BPJS Disuntik Dana Rp 20 Triliun: Efek ke Kinerja MIKA, SILO, dan HEAL Tak Serupa

Perbedaan porsi pasien jadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan investor dalam menilai potensi dampak tambahan dana BPJS Kesehatan.

Analisis Kinerja & Saham PWON: Marketing Sales Turun namun Tertolong Recurring Income
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 09:21 WIB

Analisis Kinerja & Saham PWON: Marketing Sales Turun namun Tertolong Recurring Income

Keberlanjutan insentif PPN DTP dan stabilitas suku bunga sebagai faktor yang dapat mendorong pemulihan permintaan properti.

Mengukur Efek Volatilitas Harga Minyak Dunia ke Saham MEDC, ENRG, dan RATU
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 08:58 WIB

Mengukur Efek Volatilitas Harga Minyak Dunia ke Saham MEDC, ENRG, dan RATU

PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) menjadi emiten yang paling langsung terpapar pergerakan harga minyak.

Peluang dan Risiko Saham Valuasi Rendah
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 08:20 WIB

Peluang dan Risiko Saham Valuasi Rendah

Tekanan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membuat sejumlah saham kini diperdagangkan dengan price to earnings ratio (PER) di bawah rata-rata. 

Paradoks Saham DSSA: Saat Minat Asing Bertabrakan dengan Tipisnya Order Book di Pasar
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 08:14 WIB

Paradoks Saham DSSA: Saat Minat Asing Bertabrakan dengan Tipisnya Order Book di Pasar

Volatilitas DSSA cenderung lebih tinggi dibandingkan saham berkapitalisasi besar lain yang punya basis pemegang saham lebih luas.

Efek Kredit Rakyat Rp 400 Triliun Diramal Terbatas
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 08:03 WIB

Efek Kredit Rakyat Rp 400 Triliun Diramal Terbatas

Secara nominal, kredit Rp 400 triliun setara sekitar 1,5% dari produk domestik bruto (PDB)          

Kinerja Bukalapak Kembali Keok, Penurunan Investasi Menjadi Biang Kerok
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 08:02 WIB

Kinerja Bukalapak Kembali Keok, Penurunan Investasi Menjadi Biang Kerok

Kerugian investasi menekan kinerja PT Bukalapak.com (BUKA), hingga berbalik mencatatkan rugi bersih.

BI Terus Pantau Pergerakan Nilai Tukar Rupiah
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 07:57 WIB

BI Terus Pantau Pergerakan Nilai Tukar Rupiah

Level rupiah pada penutupan perdagangan Senin (27/10) melemah 0,3% dibandingkan dengan penutupan Jumat (23/10)

INDEKS BERITA

Terpopuler