Meredam Inflasi

Selasa, 27 Oktober 2026 | 10:34 WIB
Meredam Inflasi
[ILUSTRASI. TAJUK - SS kurniawan (KONTAN/Steve GA)]
S.S. Kurniawan | Redaktur Pelaksana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ekonomi Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Banyak ekonom menyoroti tekanan inflasi yang masih tinggi terhadap perekonomian negara kita saat ini.

Ini hasil Survei Ahli Ekonomi Semester II-2026 dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) yang rilis baru-baru ini.

Sebanyak 49 dari 63 ekonom yang jadi responden atau 78% menilai tekanan inflasi terhadap perekonomian Indonesia saat ini tinggi. Lalu, 44 responden atau 70% memberi penilaian tinggi dan 5 responden atau 8% menilai sangat tinggi.

Dan, harga sejumlah bahan pangan yang terus mendaki dalam beberapa bulan terakhir mendorong laju inflasi. Contoh, cabai rawit merah. Harga rata-rata nasionalnya di pasar tradisional, mengutip data Pusat Informasi harga pangan Strategis Nasional Bank Indonesia (PIHPSN BI), per 26 Oktober 2026 mencapai Rp 102.950 per kilogram (kg). Angka ini melonjak 77,5% dibanding 3 September lalu yang hanya Rp 58.000 per kg.

Tapi, ada juga harga pangan yang bertahan tinggi beberapa bulan terakhir. Misalnya, harga daging sapi masih di atas Rp 150.000 per kg dalam empat bulan terakhir. Harga rata-rata daging sapi kualitas 1 di pasar tradisional mencapai Rp 154.000 per kg pada 26 Oktober. Padahal, di awal tahun, masih di kisaran Rp 130.000-an per kg.

Pada September 2026, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, terjadi inflasi tahunan sebesar 3,28%, lebih tinggi dari Agustus 3,19% year-on-year. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menyumbang inflasi tahunan terbesar di September, dengan andil sebesar 1,28%.

Masalahnya, lonjakan harga pangan semakin menjadi persoalan, karena terjadi saat daya beli masyarakat masih melemah.

Ke depan, masih mengutip survei LPEM FEB UI, sebanyak 38 responden atau 60% memperkirakan, tekanan inflasi akan meningkat dalam satu bulan mendatang.

Untuk meredam inflasi hingga akhir tahun, pemerintah harus melakukan operasi pasar bahan pangan. Lalu, memenuhi kebutuhan air untuk sektor agrikultur. Salah satunya, dengan membuat hujan buatan. Sebab, gara-gara El Nino, banyak terjadi gagal panen dan petani belum menanam lagi.

Yang tidak kalah penting, pemerintah mesti melakukan perbaikan tata kelola. Misalnya, memberi subsidi angkutan untuk distribusi bahan pangan ke daerah-daerah yang biaya pengirimannya relatif mahal.

Bagikan

Berita Terbaru

Bencana dan Relevansi Instrumen Pembayaran
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 10:54 WIB

Bencana dan Relevansi Instrumen Pembayaran

Preferensi masyarakat terhadap pembayaran tunai banyak dipengaruhi oleh kenyamanan dan kemudahan yang dirasakan.

Meredam Inflasi
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 10:34 WIB

Meredam Inflasi

Masalahnya, lonjakan harga pangan semakin menjadi persoalan, karena terjadi saat daya beli masyarakat masih melemah.

BPJS Disuntik Dana Rp 20 Triliun: Efek ke Kinerja MIKA, SILO, dan HEAL Tak Serupa
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 09:57 WIB

BPJS Disuntik Dana Rp 20 Triliun: Efek ke Kinerja MIKA, SILO, dan HEAL Tak Serupa

Perbedaan porsi pasien jadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan investor dalam menilai potensi dampak tambahan dana BPJS Kesehatan.

Analisis Kinerja & Saham PWON: Marketing Sales Turun namun Tertolong Recurring Income
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 09:21 WIB

Analisis Kinerja & Saham PWON: Marketing Sales Turun namun Tertolong Recurring Income

Keberlanjutan insentif PPN DTP dan stabilitas suku bunga sebagai faktor yang dapat mendorong pemulihan permintaan properti.

Mengukur Efek Volatilitas Harga Minyak Dunia ke Saham MEDC, ENRG, dan RATU
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 08:58 WIB

Mengukur Efek Volatilitas Harga Minyak Dunia ke Saham MEDC, ENRG, dan RATU

PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) menjadi emiten yang paling langsung terpapar pergerakan harga minyak.

Peluang dan Risiko Saham Valuasi Rendah
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 08:20 WIB

Peluang dan Risiko Saham Valuasi Rendah

Tekanan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membuat sejumlah saham kini diperdagangkan dengan price to earnings ratio (PER) di bawah rata-rata. 

Paradoks Saham DSSA: Saat Minat Asing Bertabrakan dengan Tipisnya Order Book di Pasar
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 08:14 WIB

Paradoks Saham DSSA: Saat Minat Asing Bertabrakan dengan Tipisnya Order Book di Pasar

Volatilitas DSSA cenderung lebih tinggi dibandingkan saham berkapitalisasi besar lain yang punya basis pemegang saham lebih luas.

Efek Kredit Rakyat Rp 400 Triliun Diramal Terbatas
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 08:03 WIB

Efek Kredit Rakyat Rp 400 Triliun Diramal Terbatas

Secara nominal, kredit Rp 400 triliun setara sekitar 1,5% dari produk domestik bruto (PDB)          

Kinerja Bukalapak Kembali Keok, Penurunan Investasi Menjadi Biang Kerok
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 08:02 WIB

Kinerja Bukalapak Kembali Keok, Penurunan Investasi Menjadi Biang Kerok

Kerugian investasi menekan kinerja PT Bukalapak.com (BUKA), hingga berbalik mencatatkan rugi bersih.

BI Terus Pantau Pergerakan Nilai Tukar Rupiah
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 07:57 WIB

BI Terus Pantau Pergerakan Nilai Tukar Rupiah

Level rupiah pada penutupan perdagangan Senin (27/10) melemah 0,3% dibandingkan dengan penutupan Jumat (23/10)

INDEKS BERITA

Terpopuler