Meredam Inflasi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ekonomi Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Banyak ekonom menyoroti tekanan inflasi yang masih tinggi terhadap perekonomian negara kita saat ini.
Ini hasil Survei Ahli Ekonomi Semester II-2026 dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) yang rilis baru-baru ini.
Sebanyak 49 dari 63 ekonom yang jadi responden atau 78% menilai tekanan inflasi terhadap perekonomian Indonesia saat ini tinggi. Lalu, 44 responden atau 70% memberi penilaian tinggi dan 5 responden atau 8% menilai sangat tinggi.
Dan, harga sejumlah bahan pangan yang terus mendaki dalam beberapa bulan terakhir mendorong laju inflasi. Contoh, cabai rawit merah. Harga rata-rata nasionalnya di pasar tradisional, mengutip data Pusat Informasi harga pangan Strategis Nasional Bank Indonesia (PIHPSN BI), per 26 Oktober 2026 mencapai Rp 102.950 per kilogram (kg). Angka ini melonjak 77,5% dibanding 3 September lalu yang hanya Rp 58.000 per kg.
Tapi, ada juga harga pangan yang bertahan tinggi beberapa bulan terakhir. Misalnya, harga daging sapi masih di atas Rp 150.000 per kg dalam empat bulan terakhir. Harga rata-rata daging sapi kualitas 1 di pasar tradisional mencapai Rp 154.000 per kg pada 26 Oktober. Padahal, di awal tahun, masih di kisaran Rp 130.000-an per kg.
Pada September 2026, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, terjadi inflasi tahunan sebesar 3,28%, lebih tinggi dari Agustus 3,19% year-on-year. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menyumbang inflasi tahunan terbesar di September, dengan andil sebesar 1,28%.
Masalahnya, lonjakan harga pangan semakin menjadi persoalan, karena terjadi saat daya beli masyarakat masih melemah.
Ke depan, masih mengutip survei LPEM FEB UI, sebanyak 38 responden atau 60% memperkirakan, tekanan inflasi akan meningkat dalam satu bulan mendatang.
Untuk meredam inflasi hingga akhir tahun, pemerintah harus melakukan operasi pasar bahan pangan. Lalu, memenuhi kebutuhan air untuk sektor agrikultur. Salah satunya, dengan membuat hujan buatan. Sebab, gara-gara El Nino, banyak terjadi gagal panen dan petani belum menanam lagi.
Yang tidak kalah penting, pemerintah mesti melakukan perbaikan tata kelola. Misalnya, memberi subsidi angkutan untuk distribusi bahan pangan ke daerah-daerah yang biaya pengirimannya relatif mahal.
