Net Sell Asing Deras, Proyeksi Outflow Bisa Capai Rp 119,87 Triliun di Akhir 2026
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tekanan yang menghantam pasar keuangan dalam negeri diproyeksi belum akan menunjukkan tanda-tanda mereda hingga akhir tahun.
Berdasarkan data perdagangan periode 19 sampai dengan 23 Oktober 2026 lalu, outfow dana investor asing saham mencapai Rp 6,67 triliun. Dari angka tersebut, akumulasi net sell asing yang terekam sejak awal tahun hingga periode tersebut telah mencapai Rp 94,87 triliun.
Adapun pada penutupan perdagangan Senin (26/10), berdasarkan data Stockbit Sekuritas, arus foreign net sell mencapai Rp 2,69 triliun.
Di saat yang sama pula, nilai tukar rupiah kembali terdorong di kisaran Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat, atau tepatnya melemah ke level Rp 18.080 per dolar AS dari yang sebelumnya Rp 18.046 per dolar AS Bahkan pada penutupan perdagangan Senin (26/10), rupiah terparkir di Rp 18.135 per dolar AS.
Pengamat Pasar Modal dan Pendiri Traderindo Wahyu Tribowo Laksono melihat bahwa dengan akumulasi net sell asing yang telah mencapai Rp 94,87 triliun hingga pertengahan Oktober 2026, potensi tambahan outflow hingga akhir tahun diperkirakan masih akan berada dalam tren tinggi.
"Hingga akhir bulan, potensi net sell diperkirakan bisa sebesar Rp 15 triliun hingga Rp 25 triliun," ujar Wahyu kepada KONTAN, Senin (26/10).
Baca Juga: Usai Guncangan MSCI, Arah IHSG Masih Dibayangi Capital Outflow
Jika proyeksi tersebut terealisasi, maka akumulasi net sell asing sepanjang tahun ini bisa berpotensi meningkat menjadi sekitar Rp 109,87 triliun hingga Rp 119,87 triliun.
Wahyu juga melanjutkan, angka net sell ini akan sangat bergantung pada perkembangan kepastian status klasifikasi pasar modal Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) serta arah kebijakan suku bunga global The Federal Reserve (The Fed).
Tak hanya itu saja, Wahyu juga memandang jika sentimen negatif global dan kekhawatiran tata kelola domestik tidak segera diredam oleh intervensi yang kredibel, maka manajer investasi pasif global akan terus diwajibkan melakukan force sell secara bertahap hingga akhir tahun.
Senada, Lukman Leong Analis Doo Financial Futures juga melihat tekanan jual asing masih berpotensi akan berlanjut hingga akhir tahun, terutama jika ketidakpastian terkait MSCI belum mereda.
"Masih terbuka potensi outflow bertambah, meskipun besarnya akan sangat bergantung pada perkembangan sentimen pasar dan respons investor terhadap reformasi pasar modal," kata Lukman saat dihubungi KONTAN.
Dia juga memberikan gambaran, MUFG memperkirakan potensi penjualan pasif terkait risiko MSCI mencapai US$ 3,1 miliar. Sementara itu, estimasi Goldman Sachs bahkan mencapai US$ 5,5 miliar.
Besarnya potensi penjualan tersebut menjadi perhatian karena perubahan klasifikasi pasar dapat memengaruhi keputusan investasi manajer investasi global, terutama dana yang mengikuti indeks acuan.
Lukman menilai, upaya memulihkan kepercayaan investor perlu difokuskan pada perbaikan transparansi kepemilikan saham, keterbukaan informasi mengenai free float, serta penguatan tata kelola pasar modal.
