Agar APBN Tak Jebol

Sabtu, 20 April 2024 | 22:05 WIB
Agar APBN Tak Jebol
[ILUSTRASI. TAJUK - Sandy Baskoro]
Sandy Baskoro | Redaktur Pelaksana

Timur Tengah masih menjadi kunci stabilitas geopolitik global. Ketegangan di Timur Tengah, yang terbaru dipicu konflik Iran-Israel, sangat mempengaruhi stabilitas politik dan pasar global. Hal ini sekaligus mengonfirmasi bahwa kondisi perekonomian dunia akan berkorelasi erat dengan stabilitas di Timur Tengah.

Jika Timur Tengah adem ayem, ekonomi global relatif tenang. Sebaliknya, jika kawasan ini memanas, pasar global ikut tegang. Pemicu utama keresahan pasar global tak lain adalah harga minyak bumi yang kembali menanjak. Setelah Iran menyerang Israel, Sabtu (13/4), harga minyak langsung melonjak. Dalam sebulan terakhir, harga minyak WTI dan Brent menguat masing-masing 3% dan 4% menjadi US$ 84,55 dan US$ 89,20 per barel. Timur Tengah adalah ladang minyak paling strategis di dunia. Lima dari 10 produsen minyak terbesar di dunia berada di kawasan ini, termasuk Iran. Empat produsen lainnya adalah Arab Saudi, Irak, Uni Emirat Arab dan Kuwait. Jika letupan konflik di Timur Tengah berlanjut, harga minyak diprediksikan menembus US$ 100 per barel, bahkan bisa saja menyentuh US$ 110 per barel.

Bagi Indonesia, keadaan dunia yang tidak baik-baik saja harus menjadi perhatian serius. Selalu ada dua kondisi yang membayangi perekonomian Indonesia, yakni faktor eksternal dan internal. Eskalasi ketegangan di Timur Tengah menambah daftar tantangan eksternal. Selain bersitegang dengan Iran, Israel juga belum menghentikan invasi ugal-ugalannya terhadap Palestina. Belum lagi perang Rusia dan Ukraina yang tak kunjung berakhir.

Ketegangan geopolitik Timur Tengah melengkapi ketidakpastian dari belahan bumi lainnya, mulai dari Amerika Serikat, Eropa hingga China. Melihat kondisi terkini di Timur Tengah, para pelaku pasar menduga Bank Sentral AS, The Fed, masih akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi dalam tempo lama, higher for longer.

Tantangan internal Indonesia tak kalah berat. Terkait pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), pemerintah harus menahan hasrat menggebu-gebu seperti tempo hari, mengguyur dana bantuan sosial (bansos) menjelang pemilu. Akibatnya, defisit APBN 2024 berpotensi melebar dari target awal di level 2,29% terhadap produk domestik bruto (PDB).

Kali ini, pemerintah harus mengalkulasi agar anggaran negara tak jebol akibat lonjakan harga minyak. Amuk harga minyak memang berefek ke mana-mana. Nilai tukar rupiah sudah merosot dan menyentuh Rp 16.000 per dolar AS. Ini adalah posisi terlemah rupiah sejak pandemi Covid-19 atau empat tahun terakhir.

Di saat rupiah loyo, plus harga minyak melonjak, daya beli masyarakat akan rontok. Dalam APBN 2024, pemerintah menetapkan rupiah Rp 15.000 per dolar AS, sementara harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) dipatok US$ 82 per barel. Apabila tensi geopolitik Timur Tengah terus meningkat, sudah pasti subsidi energi bakal melonjak. Pasalnya, pemerintah akan berpikir ulang untuk mengerek harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi. Alhasil, dengan asumsi harga minyak US$ 100 per barel dan rupiah Rp 15.900 per dolar AS, pemerintah berpotensi menambah subsidi dan kompensasi energi (BBM dan elpiji 3 kg) hingga menembus Rp 100 triliun.

Pemerintah harus berhitung cermat agar defisit APBN tidak membengkak. Rasanya berat memacu penerimaan negara di saat kondisi ekonomi masih sulit. Oleh karena itu, anggaran negara harus dikelola dengan ketat dan bijak. Program yang berefek luas bagi perekonomian nasional harus menjadi prioritas. Tekan kebocoran anggaran, praktik korupsi, juga pangkas belanja negara yang politis dan tak produktif. Jika perlu, anggaran proyek Ibu Kota Nusantara (IKN) yang bersumber dari APBN juga harus dievaluasi.

Bagikan

Berita Terbaru

Harga Batubara Berpeluang Naik, Target Harga AADI Terkerek
| Jumat, 13 Maret 2026 | 15:04 WIB

Harga Batubara Berpeluang Naik, Target Harga AADI Terkerek

Analis mengungkapkan bahwa ada potensi peningkatan permintaan batubara termal dalam skenario gangguan pasokan minyak.

Suplai Pupuk Seret Akibat Konflik Geopolitik, Bakal Terjadi Krisis Pangan di RI?
| Jumat, 13 Maret 2026 | 14:21 WIB

Suplai Pupuk Seret Akibat Konflik Geopolitik, Bakal Terjadi Krisis Pangan di RI?

Dalam jangka pendek saja, banyak perusahaan petrokimia mengumumkan force majeur karena keterbatasan pasokan.

Diselidiki Regulator Bursa AS, TLKM Restatement Laporan Keuangan 2023–2024
| Jumat, 13 Maret 2026 | 14:16 WIB

Diselidiki Regulator Bursa AS, TLKM Restatement Laporan Keuangan 2023–2024

Dalam dokumen yang disampaikan kepada SEC, TLKM menyatakan bahwa laporan keuangan periode tahun 2023 dan 2024 tidak lagi dapat dijadikan acuan.

Pengeluaran Pemerintah Melonjak: BI Terjepit, Pasar Obligasi Bergejolak
| Jumat, 13 Maret 2026 | 10:34 WIB

Pengeluaran Pemerintah Melonjak: BI Terjepit, Pasar Obligasi Bergejolak

Yield SBN 10 tahun kini 6,7%, naik dari 6,2% akhir tahun lalu. Apa pemicu lonjakan ini dan dampaknya pada investasi Anda?

Pebisnis AMDK Meneguk Cuan di Bulan Ramadan
| Jumat, 13 Maret 2026 | 10:18 WIB

Pebisnis AMDK Meneguk Cuan di Bulan Ramadan

Secara umum, permintaan AMDK pada periode Ramadan tahun ini diproyeksikan meningkat sekitar 15%-20%,

Jalan Berliku Menuju Target Produksi Gula 3 Juta Ton
| Jumat, 13 Maret 2026 | 09:51 WIB

Jalan Berliku Menuju Target Produksi Gula 3 Juta Ton

Dari sisi kapasitas pabrik gula, proyeksi ini masih sangat memungkinkan untuk mencapai target ini tapi ada faktor lain yang mempengaruhinya.

Panorama Sentrawisata (PANR) Siap Gaet Lebih Banyak Turis
| Jumat, 13 Maret 2026 | 09:45 WIB

Panorama Sentrawisata (PANR) Siap Gaet Lebih Banyak Turis

Pada pilar inbound, PANR memperkuat posisi sebagai regional player dengan beroperasi di sejumlah negara, tak hanya di Indonesia,

JP Morgan dan Dimensional Fund Ambil Untung dari Saham BRMS, Prospek Masih Menarik
| Jumat, 13 Maret 2026 | 08:55 WIB

JP Morgan dan Dimensional Fund Ambil Untung dari Saham BRMS, Prospek Masih Menarik

Saham BRMS sudah tergolong premium, namun tetap di harga wajar jika memperhitungkan ekspektasi kenaikan produksi dari pabrik barunya di Palu.

Nasib Saham EMAS: Setelah Rugi Besar, Akankah Bangkit di 2026?
| Jumat, 13 Maret 2026 | 07:09 WIB

Nasib Saham EMAS: Setelah Rugi Besar, Akankah Bangkit di 2026?

Pendapatan EMAS anjlok 92% di 2025, rugi bersih melonjak 116%. Namun, Tambang Pani beroperasi 2026. Analis melihat potensi membaiknya kinerja

Permintaan Tumbuh, Prospek Emiten Susu Masih Manis
| Jumat, 13 Maret 2026 | 07:07 WIB

Permintaan Tumbuh, Prospek Emiten Susu Masih Manis

PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY) dan PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ) mengantongi kinerja positif sepanjang tahun 2025

INDEKS BERITA

Terpopuler